Trump Cap Gencatan Senjata AS-Iran Kritis: Seperti Di Ambang Kematian
Presiden Donald Trump mendeklarasikan gencatan senjata Amerika Serikat dengan Iran dalam kondisi kritis di tengah upaya negosiasi yang tak kunjung ada titik temu.
"Saya akan mengatakan bahwa saat ini situasinya sangat lemah, seperti berada di ambang kematian," kata Trump ke awak media di Gedung Putih, Senin (11/5), dikutip AFP.
Dia lalu berujar, "Saya akan mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi kritis."
Di kesempatan lain, Trump mengatakan AS tengah mempertimbangkan untuk kembali menerapkan Freedom Project, yakni operasi mengawal kapal melintasi Selat Hormuz sekaligus mencabut kendali Iran atas perairan tersebut.
Trump lalu mengatakan kebuntuan yang ada saat ini bukan berarti AS mundur.
"Kita akan meraih kemenangan total. Saya akan lelah dengan ini. Saya akan bosan, atau saya akan merasakan tekanan. Tapi, tidak ada tekanan," kata dia saat wawancara dengan Fox News.
Trump kemudian mendapat pertanyaan apakah AS masih bersedia untuk bernegosiasi dengan Iran. Dia tak menjawab secara jelas justru mencela kepemimpinan negara itu.
Lihat Juga :KILAS INTERNASIONAL Mojtaba Khamenei Masih Hilang sampai Iran Setuju Lepas Uraniumnya |
"[Kepemimpinan Iran] terbagi menjadi moderator dan orang-orang gila," ungkap presiden AS ini.
Sebelumnya, AS mengusulkan proposal untuk mengakhiri perang berisi penghentian program nuklir Iran hingga akses Selat Hormuz.
Sejumlah sumber mengatakan Iran sudah menanggapi proposal itu. Salah satu sumber juga menyebut Teheran siap memindahkan uranium yang diperkaya ke negara ketiga jika negosiasi berhasil.
Namun, jika perundingan gagal Iran mau uranium itu dikembalikan. Pemerintahan yang berbasis di Teheran ini juga menolak penghentian program nuklir.
AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua pekan yang dimulai pada 8 April. Kesepakatan ini kemudian diperpanjang tanpa rincian batas waktu.
Kedua negara itu dan mediator Pakistan terus mengupayakan negosiasi agar gencatan senjata permanen bisa tercapai. Namun, perundingan disebut sulit karena AS dan Iran beda pandangan soal beberapa poin terutama terkait nuklir.
(isa/rds)