Usai Trump, Giliran Putin ke China Temui Xi Jinping

CNN Indonesia
Minggu, 17 Mei 2026 11:25 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin akan berkunjung ke China dan bertemu Presiden Xi Jinping pekan depan.
Presiden Rusia Vladimir Putin akan berkunjung ke China dan bertemu Presiden Xi Jinping pekan depan. (AFP/ALEXEY DRUZHININ).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia Vladimir Putin akan berkunjung ke China dan bertemu Presiden Xi Jinping pekan depan.

Putin akan berada di China pada 19-20 Mei. Lawatan ini berlangsung usai Presiden AS Donald Trump mengunjungi Beijing di pada 13-15 Mei.

"Pada tanggal 19-20 Mei, Presiden Rusia Vladimir Putin akan melakukan kunjungan resmi ke Republik Rakyat China atas undangan Presiden China Xi Jinping," demikian rilis resmi Kremlin, Sabtu (16/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kunjungan Putin bertepatan dengan peringatan 25 tahun perjanjian persahabatan yang menjadi dasar relasi kedua negara Treaty of Good-Neighbourliness and Friendly Cooperation.

Menurut rilis Kremlin, dalam pertemuan ini Putin dan Xi bakal membahas kerja sama kedua negara agar makin erat.

"(Kedua pemimpin) akan membahas masalah bilateral terkini, cara memperkuat kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis Rusia-China, serta bertukar pandangan tentang masalah internasional dan regional yang penting," demikian rilis itu.

Putin dan Xi juga akan menghadiri upacara pembukaan peluncuran Tahun Pendidikan Rusia-China tahun ajaran 2026-2027.

Setelah pembicaraan rampung, para pemimpin akan menandatangani pernyataan bersama beserta sejumlah perjanjian bilateral antar pemerintah, antar departemen, dan perjanjian lain.

Pertemuan Putin dan Xi berlangsung usai Trump bertemu Presiden China itu di Beijing.

Dalam pertemuan tersebut, Trump dan Xi membahas kerja sama perdagangan, ketegangan di Selat Hormuz, hingga persoalan Taiwan.

Trump mengatakan tak ingin melihat Taiwan mendeklarasikan kemerdekaan dan Selat Taiwan tenang.

"Saya tidak ingin ada pihak yang mendeklarasikan kemerdekaan. Dan kita seharusnya menempuh perjalanan 9.500 mil untuk berperang? Saya tidak menginginkan itu," ujar Trump pada Jumat (15/5) lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan berupaya melepaskan diri dari China. Namun, pemerintahan yang berbasis di Beijing bersumpah bakal mempertahankan pulau itu dengan cara apapun bila perlu dengan paksa.

AS sebelumnya menetapkan strategi ambigu soal Taiwan. Mereka menjalin kerja sama erat dan beberapa pejabatnya sempat berkunjung ke pulau itu.

Kunjungan pejabat asing ke Taiwan di mata China merupakan dukungan terhadap pemerintahan yang berbasis di Taipei.

(ans/sfr) Add as a preferred
source on Google