Darurat Wabah Ebola, Uganda Larang Warga Jabat Tangan hingga Pelukan

CNN Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026 14:35 WIB
Medical personnel wear protective medical clothing while disinfecting the area in preparation for the arrival of volunteers during the launch of an Ebola trial vaccination campaign at Mulago Referral Hospital in Kampala on February 3, 2025. Uganda st
Kementerian Kesehatan Uganda melarang warga berjabat tangan dan berpelukan usai dua kasus Ebola terkonfirmasi di negara itu. (Foto: AFP/BADRU KATUMBA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kesehatan Uganda melarang warga berjabat tangan dan berpelukan usai dua kasus Ebola terkonfirmasi di negara itu.

Sekretaris Tetap di Kemenkes, Diana Atwine, mengatakan pada Selasa (19/5) bahwa masyarakat hendaknya mematuhi langkah-langkah pencegahan, termasuk menghindari melakukan kontak fisik yang tidak perlu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang-orang harus berhenti saling bersalaman ... virus ini menyebar lewat kontak fisik," kata Atwine dalam konferensi pers, seperti dikutip The Telegraph.

Kemenkes Uganda juga menganjurkan masyarakat untuk mencuci tangan dengan sabun, menggunakan antiseptik, dan segera melapor apabila mengalami gejala apa pun, termasuk demam, muntah, dan pendarahan.

Uganda mendeteksi dua kasus Ebola yang terkait wabah di Republik Demokratik Kongo. Kongo dilanda wabah Ebola strain Bundibugyo hingga 130 orang meninggal dunia dan setidaknya 500 orang diyakini terinfeksi.

Ini merupakan strain langka yang belum ditemukan vaksin maupun obatnya.

Salah satu pasien di Uganda, yakni pria berusia 59 tahun, meninggal pada Kamis (14/5), sedangkan pasien kedua masih diisolasi dan dipantau secara ketat.

Tiga negara di Asia Tenggara sudah mulai memperketat perbatasan sebagai respons terhadap wabah ini.

Thailand, Vietnam, dan Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap rumah sakit dan bandara, sambil memantau dengan cermat pos pemeriksaan karantina perbatasan.

Sejauh ini belum ada kasus yang terdeteksi di ketiga negara ASEAN.

Para ahli kesehatan internasional mengaku telah lengah setelah pengawasan di Kongo gagal mengidentifikasi penyakit mematikan itu hingga Ebola menyebar dalam beberapa minggu.

Epidemi ini dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat "yang menjadi perhatian internasional" oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu (16/5), dan disebut sebagai peristiwa "luar biasa".

Kurangnya alat uji untuk strain Bundibugyo dan sulitnya beroperasi di provinsi perbatasan Ituri selaku pusat wabah membuat para pejabat kesehatan meyakini bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

"Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Pemerintah Uganda memutuskan menunda perayaan Hari Martir pada 3 Juni karena kekhawatiran akan penularan Ebola lintas batas.

Ini merupakan acara nasional yang biasanya dihadiri ribuan peziarah dari wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Lebih dari satu juta peziarah biasanya berkumpul di Kuil Katolik Para Martir Uganda di Namugongo, Uganda tengah, di mana banyak orang minum dan mandi di air yang diyakini memiliki khasiat penyembuhan.

Kemenkes Uganda khawatir rakyat Kongo akan berbondong-bondong datang ke Namugongo karena beranggapan air kuil dapat menyembuhkan mereka.

(blq/rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]