Mengapa Kelompok Sayap Kanan Makin Menguat di Negara-negara Eropa?

CNN Indonesia
Sabtu, 23 Mei 2026 13:25 WIB
Demo sayap kanan dengan slogan "Unite the Kingdom."
Demo sayap kanan dengan slogan "Unite the Kingdom." (AFP/JUSTIN TALLIS)

Dalam studi tersebut dijelaskan, transformasi yang paling mengkhawatirkan tampak di kalangan generasi muda.

"Kaum muda menderita akibat pandemi COVID, akibat krisis, dan mereka memiliki kesan bahwa suara mereka tidak didengar oleh politisi arus utama," kata Zick, seraya menyebutkan penutupan sekolah, ketidakamanan ekonomi, dan krisis perumahan saat ini.

Studi tersebut menemukan bahwa 12,5 persen responden berusia 18-34 tahun secara terbuka mendukung pandangan xenofobia (anti orang asing) - lebih dari dua kali lipat dari 5,9 persen di antara mereka yang berusia 35-64 tahun dan hampir dua kali lipat dari 6,5 persen di antara orang-orang berusia 65 tahun ke atas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga menyoroti peran propaganda daring, meningkatnya konten sayap kanan ekstrem yang singkat dan sarat emosi telah membentuk kembali keterlibatan politik di kalangan pemilih muda dan mengubah lanskap politik itu sendiri.

Dalam pemilihan umum Februari 2025, partai sayap kanan jauh Alternatif untuk Jerman (AfD) memenangkan 20,8 persen, hasil nasional terkuatnya hingga saat ini. Jajak pendapat terbaru menempatkan AfD pada angka 26 persen, unggul dari partai konservatif Kanselir Friedrich Merz dan mendominasi di beberapa wilayah timur.

Gabungan disinformasi, sentimen anti-imigran, dan ketidakpuasan politik telah mengubah persepsi banyak warga Jerman terhadap AfD - terlepas dari peringatan berulang kali dari pihak berwenang keamanan.

Partai tersebut mendefinisikan identitas Jerman dalam istilah etnis yang eksklusif dan menganjurkan "remigrasi" - sebuah eufemisme untuk mendeportasi imigran, termasuk warga negara yang dinaturalisasi yang dianggap belum cukup berasimilasi.

Armida van Rij, mantan peneliti senior program Eropa di laman chathamhouse.org menulis, Belanda menjadi negara Eropa yang bergeser ke kanan setelah Partai Kebebasan (PVV) sayap kanan memenangkan jumlah kursi terbanyak dalam pemilihan nasional.

Meskipun setiap partai memiliki agenda masing-masing dan mereka tentu saja tidak memiliki pandangan yang seragam, kebangkitan kembali sayap kanan ekstrem yang terpilih secara demokratis di Eropa merupakan alasan untuk khawatir.

"Untuk memahami apa yang mendorong pemilih Belanda ke Partai Kebebasan, kita hanya perlu melihat apa yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan terakhir yang dipimpin Rutte. Setelah 13 tahun, Mark Rutte mengundurkan diri sebagai perdana menteri dan pemimpin partai VVD dan kemudian menyebabkan jatuhnya pemerintahan karena perdebatan tentang cara mengurangi migrasi," tulisnya.

Pemimpin Partai Kebebasan, Geert Wilders, secara konsisten menyampaikan pesan yang sama tentang migrasi sejak meninggalkan VVD pada tahun 2006 untuk mendirikan partainya. Hal ini sejalan dengan retorika anti-Islamnya yang provokatif dan sentimen anti-Uni Eropa yang kuat, setelah menganjurkan apa yang disebut 'Nexit' sejak tahun 2016.

Bangkit dari kubur

Kebangkitan partai-partai sayap kanan ekstrem di Eropa telah menjadi salah satu perkembangan politik paling penting di abad ke-21. Padahal kekuatan sayap kanan sudah terkubur secara politik pasca Perang Dunia Kedua.

Gerakan politik ini kembali mendapatkan daya tarik yang signifikan di Eropa Barat dan secara lebih umum di seluruh dunia, kata Max Mumford, ahli Geopolitik dan Hubungan Internasional, dari Universitas Amsterdam.

Baginya, penting untuk mendefinisikan apa yang dikategorikan sebagai partai politik 'sayap kanan jauh'.

Beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan partai sayap kanan jauh juga mencakup 'populis', 'sayap kanan ekstrem', 'anti-kemapanan', 'anti-imigrasi', 'nasionalisme', dan 'Euroskeptis'.

Menurut dia, keberhasilan gerakan politik ini di Eropa Barat didorong oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan politik yang berbeda.

Mulai dari meningkatnya kecemasan publik atas meningkatnya imigrasi, meningkatnya ketidakpuasan terhadap status quo politik tradisional, dan sejumlah komunitas yang merasa semakin tertinggal karena dunia yang semakin terhubung di mana mereka adalah 'pihak yang kalah' dalam globalisasi.

Perolehan suara partai-partai sayap kanan ekstrem di Eropa bervariasi di berbagai negara Eropa dalam pemilihan umum baru-baru ini. Namun, tren yang lebih luas, adalah semakin dalamnya sentimen nasionalis dan populis yang mengancam untuk mendefinisikan kembali lanskap politik Eropa.

Meningkatnya daya tarik politik partai-partai sayap kanan dapat dikaitkan dengan serangkaian faktor kompleks yang telah memperkuat sentimen nasionalis dan populis.

Salah satu isu utama yang dikomentari oleh partai-partai sayap kanan adalah imigrasi. Imigrasi telah menjadi isu yang sangat signifikan, dengan banyak partai memanfaatkan kekhawatiran publik tentang dampak sosial-ekonomi dan budaya dari migrasi.

Krisis migran tahun 2015 di Eropa, yang menyaksikan masuknya pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika, memperluas kecemasan tentang identitas nasional, persaingan ekonomi, dan keamanan nasional.

In Parliament Square, supporters of British far-right activist Tommy Robinson, real name Stephen Yaxley-Lennon, let off flares beside the statue of Winston Churchill after a march organised by Unite The Kingdom in central London on May 16, 2026. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP)Ilustrasi. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP) Foto: AFP/JUSTIN TALLIS

Partai-partai seperti Alternative für Deutschland (AfD) di Jerman dan National Rally (RN) di Prancis mampu memanfaatkan ketakutan ini untuk memposisikan diri mereka sebagai pembela kedaulatan nasional, menganjurkan kontrol perbatasan yang lebih ketat dan kebijakan yang bertujuan untuk melestarikan apa yang mereka sebut sebagai 'nilai-nilai tradisional Eropa'.

Ketidakpuasan ekonomi semakin memicu dukungan terhadap gerakan sayap kanan. Banyak pemilih, khususnya di wilayah yang mengalami deindustrialisasi dan pedesaan, merasa tertinggal oleh meningkatnya keterkaitan globalisasi.

Krisis ekonomi dua dekade terakhir, termasuk krisis keuangan 2008 dan langkah-langkah penghematan berikutnya, memperburuk ketidaksetaraan dan memperdalam kebencian terhadap partai-partai politik arus utama.

Partai-partai sayap kanan mengeksploitasi ketidakpuasan ini dengan menampilkan diri sebagai pendukung nasionalisme ekonomi, berjanji untuk memprioritaskan kebutuhan warga negara asli di atas lembaga internasional dan kebijakan internasionalis pasar bebas.

Di Italia, misalnya, kebangkitan Fratelli d'Italia (FdI) sebagian besar didorong oleh penolakannya terhadap kendala ekonomi yang diberlakukan Uni Eropa dan penekanannya pada perlindungan industri dalam negeri.

Ketidakpercayaan yang lebih luas terhadap elit politik juga memainkan peran penting dalam kebangkitan partai-partai politik sayap kanan. Di seluruh Eropa, terdapat peningkatan persepsi bahwa partai-partai tradisional, yang lebih umum dipandang sebagai partai tengah-kiri atau tengah-kanan, telah terlepas dari keprihatinan warga biasa.

Para pemimpin sayap kanan telah berhasil memanfaatkan frustrasi ini dengan memposisikan diri mereka sebagai orang luar yang bersedia menantang kemapanan politik.

Referendum Brexit di Inggris Raya mencontohkan dinamika ini, karena kampanye Leave, yang didukung oleh retorika tokoh-tokoh yang terkait dengan sayap kanan seperti Steven Yaxley-Lennon (Tommy Robinson) atau Nigel Farage, menggambarkan Uni Eropa sebagai birokrasi yang tidak bertanggung jawab yang merusak kedaulatan Inggris.

Meskipun partai Reform UK di Inggris telah mengalami kesulitan elektoral dalam beberapa tahun terakhir, karena berbagai faktor, seperti sistem pemilihan mayoritas sederhana (first past the post) atau kurangnya kepercayaan terhadap individu secara umum, sentimen anti-kemapanan yang lebih luas yang memicu Brexit tetap menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam politik Eropa dan Inggris.

Hal ini dapat dilihat melalui sejumlah kampanye Euroskeptis dari negara-negara anggota Uni Eropa.

Faktor pendorong utama lain dari kebangkitan sayap kanan ekstrem adalah meningkatnya skeptisisme terhadap Uni Eropa. Banyak partai nasionalis berpendapat bahwa tata kelola Uni Eropa melemahkan kedaulatan nasional dan memaksakan kebijakan yang tidak selaras dengan kepentingan masing-masing negara anggota.

Sentimen ini sangat kuat di Eropa Tengah dan Timur, di mana pemerintah seperti Polandia dan Hongaria telah berselisih dengan Brussel mengenai isu-isu terkait independensi peradilan, imigrasi, dan tata kelola nasional.

Di Eropa Barat, partai-partai seperti Partai Kebebasan (PVV) Belanda dan Vlaams Belang (VB) Belgia juga memanfaatkan sentimen Euroskeptis dengan mengadvokasi kebijakan yang memprioritaskan pengambilan keputusan nasional daripada peningkatan integrasi Eropa.

Meningkatnya pengaruh elektoral partai-partai ini menunjukkan bahwa penentangan terhadap Uni Eropa bukan lagi posisi marginal, melainkan bagian integral dari agenda politik sayap kanan yang lebih luas.

Bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun gerakan sayap kanan sudah diramalkan oleh para Martin Brigth, seorang jurnalis yang banyak menulis masalah politik di Eropa.

"Seharusnya sekarang sudah jelas bagi semua orang bahwa tahun 2026 akan ditandai dengan semakin merasuki sayap kanan ekstrem ke arus utama politik Eropa. Setiap kekuatan besar Eropa kini memiliki partai ultra-nasionalis yang mampu merebut setidaknya sebagian kekuasaan dalam pemilihan demokratis. Di Italia, partai tersebut bahkan telah membentuk pemerintahan," katanya.

Terlebih lagi, para penggiat kebangkitan sayap kanan ekstrem ini mengklaim bahwa mereka membela nilai pencerahan utama yaitu kebebasan berbicara - meskipun mereka bisa sangat selektif dalam penerapannya.

Sementara Pakar dan komentator hukum serta Pemimpin Muda Eropa 2023 Rim-Sarah Alouane menulis di laman Friends of Europe, bahwa semakin meluasnya ideologi sayap kanan telah difasilitasi oleh media yang memperkuat retorika rasis dan membesar-besarkan isu-isu terkait imigrasi dan identitas budaya.

"Penggambaran imigran, pengungsi, dan Muslim sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan stabilitas ekonomi telah beresonansi dengan sebagian pemilih yang kecewa dengan lembaga politik tradisional. Partai National Rally di Prancis telah memanfaatkan sentimen xenofobia dengan menekankan kontrol imigrasi yang ketat dan mempromosikan kedaulatan nasional di atas integrasi Eropa," kata Alouane.

"Retorika partai tersebut beresonansi dengan sebagian pemilih yang prihatin tentang identitas budaya dan stabilitas ekonomi, memposisikan diri sebagai benteng terhadap ancaman yang dianggap ditimbulkan oleh imigrasi dan globalisasi," ia menambahkan.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2