Pemilu Presiden Paling Mematikan Ada di Negara Ini, Nyawa Taruhannya
CNN Indonesia
Selasa, 26 Mei 2026 06:40 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Salah satu capres Kolombia, Abelardo de la Espriella, berkampanye dengan perlindungan bilik anti-peluru transparan. (AFP/JAIME SALDARRIAGA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang remaja berambut sebahu, usia 15 tahun, dilumpuhkan polisi setelah aksinya di luar dugaan.
Remaja itu menembak senator Kolombia Miguel Uribe Turbay, yang juga calon presiden Kolombia pada pemilu yang akan digelar 31 Mei tahun ini.
Dengan tembakan pistol Glock 9 milimeter asal Amerika Serikat, tubuh Miguel terkapar meski tidak langsung membunuhnya, saat aksi berlangsung Juni 2025 lalu. Tapi setelah dua bulan kritis, Agustus 2025, Miguel meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini adalah aksi kejahatan terhadap calon presiden terburuk dalam lebih 30 tahun di negeri yang sering dilanda konflik ini. Dan remaja itu tidak beraksi sendirian, dia mendapat perintah dari "pria dengan panci", yang diyakini berkaitan dengan kelompok bersenjata pembangkang FARC, Segunda Marquetalia, yang biasa merekrut para remaja untuk aksi kejahatan, seperti dilaporkan media setempat, El Tiempo.
Penembakan terhadap calon presiden tidak berhenti di sana. Pada awal Mei ini, iring-iringan kendaraan Senator Alexander Lopez dari partai penguasa diserang tembakan di jalan raya di wilayah barat daya negara yang dilanda konflik.
"Mereka baru saja mencoba menculik senator," kata Presiden Gustavo Petro, seraya menyalahkan "kelompok bersenjata yang terlibat perdagangan narkoba," seperti dikutip laman DW.
Pada Februari lalu, calon Wakil Presiden Aida Quilcué juga diculik kelompok pemberontak. Aida adalah senator sayap kiri yang sedang melakukan perjalanan melalui wilayah barat daya Kolombia, ketika dia diculik di wilayah Cauca.
Padahal selama lebih dari 20 tahun, ia telah berkampanye untuk hak-hak masyarakat adat, menghadapi apa yang ia gambarkan sebagai ancaman, serangan, dan bentuk kekerasan yang tak terhitung jumlahnya. Namun, ia mengatakan bahwa penculikan tersebut menandai tingkat bahaya baru - pertama kalinya ia diculik dan yang paling dekat dengan upaya pembunuhan.
Sekelompok pria berpakaian kamuflase dan berselendang menutupi wajah mereka memaksa Aida dan para pengawalnya berlutut dan menodongkan pistol ke punggung mereka.
Berita penculikan itu dengan cepat menjadi berita utama dan pihak berwenang meluncurkan operasi pencarian. Empat jam kemudian, para sandera dibebaskan. Pada bulan Maret, Quilcué diumumkan sebagai calon wakil presiden mendampingi Ivan Cepeda.
Pemilu paling berbahaya
Banyaknya kasus kekerasan dan ancaman terhadap kandidat dan senator menempatkan pemilu Kolombia sebagai pemilu paling berbahaya, bukan saja di Amerika Latin yang terbiasa dengan aksi kriminal jalanan, tapi juga di dunia.
Para peneliti Democracy Action Lab (DAL) yang berada di bawah Standford University, pernah melakukan perjalanan ke Kolombia menjelang pemilihan umum negara itu, untuk menilai ancaman terhadap partisipasi demokratis.
Hasil dari penelitiannya dituangkan dalam tulisan di laman fsi.stanford.edu, yang ditulis oleh Manuel Ortiz di bawah judul "Pemilu di Bawah Bayang-Bayang Kekerasan: Ketahanan Demokrasi di Kolombia"
"Organisasi masyarakat sipil memperingatkan bahwa kelompok bersenjata, paksaan, dan kekerasan politik terus mengancam komunitas rentan dan integritas pemilu," demikian pembukaan tulisan itu.
Dalam tinjauan ke lapangan, para peneliti dan organisasi mitra mendukung pemantauan pemilu, jurnalisme komunitas, dan upaya ketahanan demokrasi lokal di wilayah berisiko tinggi. Mereka bertemu dengan anggota Asosiasi Petani Keturunan Afrika María la Baja (ASOCAAFRO), bertemu dengan anggota Asosiasi Petani Keturunan Afro María la Baja (ASOCAAFRO) di kawasan Karibia Kolombia, masyarakat sipil dan praktisi.
Tampaknya, demokrasi Kolombia menghadapi tantangan yang unik bagi sejarah negara yang masih berupaya menyelesaikan warisan konflik bersenjata internal selama 61 tahun, serta memiliki kesamaan dengan demokrasi lain di Amerika Latin.
Kekhawatiran utama terkait pemilihan umum, adalah kemungkinan bahwa kelompok bersenjata tidak teratur akan merusak proses tersebut, secara efektif mencabut hak pilih kelompok pemilih melalui rasa takut, intimidasi, dan paksaan.
Hal ini terjadi di samping berlanjutnya praktik klientelisme dan bentuk-bentuk manipulasi pemilu lainnya. Baik sebelum maupun selama periode pemilihan, dinamika ini kemungkinan akan secara tidak proporsional memengaruhi komunitas keturunan Afrika yang miskin di sepanjang pantai Pasifik dan Karibia, serta populasi rentan lainnya di wilayah seperti Antioquia, Dataran Tinggi, dan departemen perbatasan.
Banyak dari daerah-daerah ini termasuk yang paling parah terkena dampak pengungsian dan kekerasan selama konflik bersenjata internal, sehingga masyarakat memiliki perlindungan kelembagaan yang lebih lemah dan lebih rentan terhadap paksaan dan penguasaan politik.
Pemilu di Kolombia akan menggunakan teknologi pengenalan wajah dan sidik jari biometrik di sekitar setengah dari 125 ribu tempat pemungutan suara (bilik suara), dan sertifikat penghitungan suara dari setiap tempat pemungutan suara tersebut (formulir E-14) akan didigitalkan dan dikirimkan secara elektronik.
Jadi warga dapat melihat hasil akta resmi proses pemilu. Ini berarti proses tersebut kemungkinan akan dilakukan secara profesional oleh Registraduría Nasional, sebuah badan independen yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pemilu.
Namun, mengingat banyak wilayah di Kolombia masih didominasi oleh kelompok bersenjata, Kementerian Pertahanan telah memperingatkan bahwa mereka tidak dapat menjamin keamanan para pemilih.
Memang, di sekitar 300 dari 1103 kotamadya di Kolombia, keberadaan kelompok bersenjata telah terdokumentasi dengan baik. Kelompok-kelompok tersebut termasuk gerilyawan seperti ELN yang tidak menerima perjanjian damai tahun 2016, kelompok-kelompok sempalan pembangkang dari FARC, kartel, dan organisasi kriminal lainnya seperti El Cartel del Golfo, tetapi yang paling menonjol adalah sekitar 60 organisasi paramiliter dengan berbagai tingkat disiplin dan kohesi internal.
Banyak organisasi masyarakat sipil, termasuk yang dilibatkan oleh tim DAL, telah mulai mengembangkan strategi pengamatan pemilu yang melampaui sekadar melindungi tempat pemungutan suara pada hari pemilihan.
Mengingat tingkat kekerasan yang dihadapi oleh para kandidat, penyelenggara politik, dan aktivis sosial, perhatian utama bukan hanya pada apa yang akan terjadi selama pemilihan kongres bulan depan atau pemilihan presiden pada akhir Mei, tetapi lebih pada interaksi yang lebih luas antara administrasi pemilu dan lembaga demokrasi, di satu sisi, dan berbagai aktor serta spesialis kekerasan yang terus beroperasi di seluruh Kolombia di sisi lain, khususnya dalam konteks pasca-Perjanjian Perdamaian 2016.
Maraknya aksi kekerasan jelang pemilu di Kolombia dikaitkan dengan kegagalan perjanjian damai dengan kelompok bersenjata di sana, Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).
Pada kesepakatan damai itu, pemerintah Kolombia dan kelompok pemberontak terbesar di Amerika Latin berhasil dalam beberapa hal: (FARC) setuju untuk meletakkan senjata mereka, dan kekerasan yang telah melanda negara itu berkurang secara signifikan.
Namun, kesepakatan itu saja tidak cukup untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Pemerintahan selanjutnya memperlambat implementasi kesepakatan tersebut, yang ditolak oleh para pembangkang FARC dan faksi pemberontak lainnya.
Ketika Gustavo Petro, mantan anggota faksi pemberontak lain, menjadi presiden pada tahun 2022, ia berjanji untuk mencapai "perdamaian total" , menandatangani kesepakatan dengan semua kelompok bersenjata di negara itu, termasuk pemberontak sayap kiri dan faksi kejahatan terorganisir.
Namun empat tahun berlalu dan beberapa minggu sebelum negara itu memilih pengganti Petro, serangan gerilya meningkat dan warga Kolombia mengalami perasaan déjà vu yang pahit.
Di tengah meningkatnya pembunuhan , penculikan, dan pembantaian , konflik bersenjata internal yang berlangsung selama beberapa dekade dan telah merenggut hampir setengah juta nyawa sekali lagi menjadi pusat perhatian dalam pemilihan ini.
Beberapa serangan dilakukan oleh sempalan FARC yang tidak mendapat keuntungan dari perjanjian damai. Misalnya, serangan dilakukan oleh salah satu kelompok pembangkang FARC yang paling berpengaruh, Komando Pusat, yang dikenal dengan singkatan bahasa Spanyolnya ECM.
"Ini bukanlah insiden terisolasi," kata María Victoria Llorente, direktur eksekutif Yayasan Ide untuk Perdamaian, sebuah lembaga kajian. "Hal ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari evolusi kekerasan terorganisir di Kolombia," dikutip dari theguardian.
Sempalan lain adalah pemberontak Tentara Pembebasan Nasional (ELN) yang biasa berpatroli di dekat sungai Baudo di provinsi Choco. Mereka berpatroli di hutan yang merupakan rumah bagi kelompok gerilya paling kuat di Kolombia ini. Hukum senjata terus berkuasa, meskipun negosiasi dengan pemerintah sedang berlangsung.
Janji perdamaian Petro telah menjadi isu kunci menjelang putaran pertama pemilihan pada 31 Mei. Konstitusi tidak mengizinkan pemilihan ulang, dan kandidat pilihan presiden, senator sayap kiri Iván Cepeda - yang secara luas dianggap sebagai arsitek "perdamaian total" - mendukung keberlanjutan program tersebut.
Namun, kandidat sayap kanan Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia, yang berada di posisi kedua dalam jajak pendapat, sama-sama berjanji untuk membatalkan rencana tersebut dan kembali ke perang habis-habisan dengan pemberontak, segera setelah mereka menjabat.
Llorente mengatakan, "Jelas bahwa perdamaian total telah gagal. Ketika pemerintahan ini dimulai, ada enam departemen di negara ini yang berada dalam sengketa. Saat ini ada antara 13 dan 14 departemen."
Premis dasarnya adalah menawarkan kelompok-kelompok bersenjata berbagai keuntungan seperti pengurangan hukuman, kesempatan untuk mempertahankan sebagian kekayaan mereka, dan penghentian operasi militer terhadap mereka sebagai imbalan atas pembubaran, pelucutan senjata, dan transisi mereka ke ekonomi legal.
Segera setelah menjabat, Petro mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan lima kelompok bersenjata terbesar di negara itu. Banyak analis mencatat bahwa ia melakukannya tanpa protokol atau mekanisme pemantauan yang telah ditetapkan, yang sangat penting bagi keberhasilan perjanjian damai awal dengan Farc.
Tak lama kemudian, Tentara Pembebasan Nasional (ELN) - yang kini menjadi kelompok pemberontak terbesar di negara itu - membantah telah menyetujui gencatan senjata apa pun. Upaya lebih lanjut untuk mencapai kesepakatan dengan ELN dan kelompok lain pun gagal, tetapi sebagian besar negosiasi kini telah dibekukan atau dihentikan.
Sementara itu, faksi-faksi bersenjata telah memanfaatkan gencatan senjata sementara untuk terus memperluas wilayah kekuasaan mereka, proses yang sudah berlangsung sebelum Petro jadi presiden, dan saling berkonflik untuk memperebutkan kendali wilayah dan ekonomi ilegal seperti perdagangan narkoba. Kolombia adalah produsen kokain terbesar di dunia dan pertambangan.
Pada awal tahun 2025, pertempuran antara ELN dan kelompok pembangkang FARC, Frente 33, menyebabkan lebih dari 80 orang tewas dan 60.000 orang mengungsi , yang merupakan episode pengungsian paksa terbesar dalam sejarah Kolombia.
Meskipun pada awal masa jabatannya Petro merupakan pengkritik keras tindakan militer yang mematikan, ia mengizinkan dimulainya kembali serangan artileri dan serangan udara, yang beberapa di antaranya mengakibatkan kematian sejumlah pemuda yang direkrut secara paksa oleh kelompok kriminal.
Maka tahun ini sudah menjadi tahun paling penuh kekerasan sejak perjanjian damai 2016, dan pemilihan umum ditandai dengan pembunuhan terhadap seorang calon presiden terkemuka dalam lebih dari tiga dekade. Dampaknya, banyak calon presiden yang mengurangi kampanye karena takut. Dan rakyat Kolombia yang harus datang untuk memilih dilanda perasaan cemas.
Dalam paparannya, para peneliti Stanford itu menyatakan, politik dalam pemilihan presiden mendatang menambah kompleksitas tersendiri. Dengan banyaknya kandidat yang siap memasuki putaran pertama, pemilihan ini diprediksi akan sangat tidak pasti dan kompetitif-dua kondisi yang memperkuat kerentanan dan kekhawatiran yang ada. Masih harus dilihat apakah Kolombia akan mengalami kontinuitas dalam pemerintahan eksekutif atau malah mengikuti ayunan pendulum yang terjadi di bagian lain kawasan ini.
Dalam konteks kerentanan dan ketidakpastian yang meningkat ini, kerja organisasi masyarakat sipil sangat penting untuk menjaga integritas proses pemilihan dan untuk menahan potensi terjadinya tindakan jahat. Pemilihan ini merupakan ujian lain bagi ketahanan lembaga-lembaga demokrasi Kolombia dan kekuatan masyarakat sipilnya yang berpengaruh.
Sementara laman Americas Quarterly menyebutkan, serangan-serangan ini telah memperkuat kekhawatiran publik atas meningkatnya kejahatan dan kegagalan pemerintah untuk mengendalikan kelompok pemberontak bersenjata seiring dengan maraknya produksi koka dan perdagangan narkoba dalam beberapa tahun terakhir.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa korupsi, kejahatan jalanan, dan kekerasan kelompok bersenjata adalah kekhawatiran utama para pemilih menjelang pemilihan presiden.
Pemilu 31 Mei mendatang akan menghadirkan tiga kandidat. Yaitu, Iván Cepeda, 63, Senator. Iván Cepeda adalah seorang senator sayap kiri yang dikenal secara nasional karena aktivisme hak-hak sipil dan tuduhan adanya hubungan antara politisi dan kelompok paramiliter sayap kanan.
Pada 1994, ayah Cepeda, seorang senator, dibunuh oleh kelompok paramiliter di tengah gelombang pembunuhan politik. Cepeda terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 2010 dan kemudian menjadi senator pada tahun 2014. Pada tahun itu, ia menuduh mantan Presiden Álvaro Uribe (2002-2010) memiliki hubungan dengan kelompok paramiliter.
Uribe dihukum tahun lalu karena mempengaruhi saksi dan penyuapan dalam kasus tersebut; hukuman tersebut dibatalkan, dan Cepeda telah mengajukan banding. (Uribe membantah melakukan kesalahan.) Cepeda berpartisipasi dalam perundingan perdamaian pemerintah Kolombia dengan FARC yang menghasilkan Perjanjian Perdamaian 2016, serta perundingan yang lebih baru dengan ELN. Ia adalah presiden Komisi Perdamaian Senat.
Kandidat kedua, Abelardo De La Espriella, 47, Pengacara dan pengusaha. De La Espriella adalah seorang pengacara pembela kriminal dan pengusaha Kolombia terkemuka yang memposisikan dirinya sebagai tokoh sayap kanan garis keras yang berbeda dari arus utama.
Ia telah membangun dunia bisnis yang mencakup merek makanan dan pakaian bernama De La Espriella Style, produsen anggur dan rum bernama Dominio De La Espriella, serta perusahaan konstruksi dan real estat.
Espriella juga terkenal karena mewakili klien-klien terkemuka, termasuk David Murcia Guzmán, yang dihukum karena mengatur skema Ponzi terbesar dalam sejarah Kolombia, dan Alex Saab, seorang pemodal dan sekutu dekat mantan diktator Nicolás Maduro. Ia memegang kewarganegaraan AS, telah banyak bekerja di Miami, dan tinggal di Italia sebelum memulai kampanye ini.
Ketiga, Paloma Valencia, 48, Senator. Valencia adalah senator konservatif dari partai yang didirikan oleh mantan Presiden Álvaro Uribe dan perwakilan paling terkemuka dari proyek politiknya. Ia berasal dari keluarga tokoh publik terkemuka: ayah Valencia adalah seorang senator, kakeknya adalah presiden dari tahun 1962-1966, dan saudara perempuan kakeknya adalah seorang pejuang hak pilih perempuan yang terkenal.
Berlatar belakang pendidikan hukum, ia pernah menjadi profesor hukum dan kolumnis surat kabar sebelum memenangkan kursi Senat pada tahun 2014. Ia terpilih kembali pada tahun 2018 dan 2022.