Pemilu Presiden Paling Mematikan Ada di Negara Ini, Nyawa Taruhannya

CNN Indonesia
Selasa, 26 Mei 2026 06:40 WIB
Jurnalis Mateo Perez tewas dibunuh saat Pilpres Kolombia.
Jurnalis Mateo Perez tewas dibunuh saat Pilpres Kolombia. (AFP/JAIME SALDARRIAGA)

Maraknya aksi kekerasan jelang pemilu di Kolombia dikaitkan dengan kegagalan perjanjian damai dengan kelompok bersenjata di sana, Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

Pada kesepakatan damai itu, pemerintah Kolombia dan kelompok pemberontak terbesar di Amerika Latin berhasil dalam beberapa hal: (FARC) setuju untuk meletakkan senjata mereka, dan kekerasan yang telah melanda negara itu berkurang secara signifikan.

Namun, kesepakatan itu saja tidak cukup untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Pemerintahan selanjutnya memperlambat implementasi kesepakatan tersebut, yang ditolak oleh para pembangkang FARC dan faksi pemberontak lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Gustavo Petro, mantan anggota faksi pemberontak lain, menjadi presiden pada tahun 2022, ia berjanji untuk mencapai "perdamaian total" , menandatangani kesepakatan dengan semua kelompok bersenjata di negara itu, termasuk pemberontak sayap kiri dan faksi kejahatan terorganisir.

Namun empat tahun berlalu dan beberapa minggu sebelum negara itu memilih pengganti Petro, serangan gerilya meningkat dan warga Kolombia mengalami perasaan déjà vu yang pahit.

Di tengah meningkatnya pembunuhan , penculikan, dan pembantaian , konflik bersenjata internal yang berlangsung selama beberapa dekade dan telah merenggut hampir setengah juta nyawa sekali lagi menjadi pusat perhatian dalam pemilihan ini.

Beberapa serangan dilakukan oleh sempalan FARC yang tidak mendapat keuntungan dari perjanjian damai. Misalnya, serangan dilakukan oleh salah satu kelompok pembangkang FARC yang paling berpengaruh, Komando Pusat, yang dikenal dengan singkatan bahasa Spanyolnya ECM.

"Ini bukanlah insiden terisolasi," kata María Victoria Llorente, direktur eksekutif Yayasan Ide untuk Perdamaian, sebuah lembaga kajian. "Hal ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari evolusi kekerasan terorganisir di Kolombia," dikutip dari theguardian.

Sempalan lain adalah pemberontak Tentara Pembebasan Nasional (ELN) yang biasa berpatroli di dekat sungai Baudo di provinsi Choco. Mereka berpatroli di hutan yang merupakan rumah bagi kelompok gerilya paling kuat di Kolombia ini. Hukum senjata terus berkuasa, meskipun negosiasi dengan pemerintah sedang berlangsung.

Janji perdamaian Petro telah menjadi isu kunci menjelang putaran pertama pemilihan pada 31 Mei. Konstitusi tidak mengizinkan pemilihan ulang, dan kandidat pilihan presiden, senator sayap kiri Iván Cepeda - yang secara luas dianggap sebagai arsitek "perdamaian total" - mendukung keberlanjutan program tersebut.

Namun, kandidat sayap kanan Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia, yang berada di posisi kedua dalam jajak pendapat, sama-sama berjanji untuk membatalkan rencana tersebut dan kembali ke perang habis-habisan dengan pemberontak, segera setelah mereka menjabat.

Llorente mengatakan, "Jelas bahwa perdamaian total telah gagal. Ketika pemerintahan ini dimulai, ada enam departemen di negara ini yang berada dalam sengketa. Saat ini ada antara 13 dan 14 departemen."

Premis dasarnya adalah menawarkan kelompok-kelompok bersenjata berbagai keuntungan seperti pengurangan hukuman, kesempatan untuk mempertahankan sebagian kekayaan mereka, dan penghentian operasi militer terhadap mereka sebagai imbalan atas pembubaran, pelucutan senjata, dan transisi mereka ke ekonomi legal.

Segera setelah menjabat, Petro mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan lima kelompok bersenjata terbesar di negara itu. Banyak analis mencatat bahwa ia melakukannya tanpa protokol atau mekanisme pemantauan yang telah ditetapkan, yang sangat penting bagi keberhasilan perjanjian damai awal dengan Farc.

Tak lama kemudian, Tentara Pembebasan Nasional (ELN) - yang kini menjadi kelompok pemberontak terbesar di negara itu - membantah telah menyetujui gencatan senjata apa pun. Upaya lebih lanjut untuk mencapai kesepakatan dengan ELN dan kelompok lain pun gagal, tetapi sebagian besar negosiasi kini telah dibekukan atau dihentikan.

Sementara itu, faksi-faksi bersenjata telah memanfaatkan gencatan senjata sementara untuk terus memperluas wilayah kekuasaan mereka, proses yang sudah berlangsung sebelum Petro jadi presiden, dan saling berkonflik untuk memperebutkan kendali wilayah dan ekonomi ilegal seperti perdagangan narkoba. Kolombia adalah produsen kokain terbesar di dunia dan pertambangan.

Pada awal tahun 2025, pertempuran antara ELN dan kelompok pembangkang FARC, Frente 33, menyebabkan lebih dari 80 orang tewas dan 60.000 orang mengungsi , yang merupakan episode pengungsian paksa terbesar dalam sejarah Kolombia.

Meskipun pada awal masa jabatannya Petro merupakan pengkritik keras tindakan militer yang mematikan, ia mengizinkan dimulainya kembali serangan artileri dan serangan udara, yang beberapa di antaranya mengakibatkan kematian sejumlah pemuda yang direkrut secara paksa oleh kelompok kriminal.

Maka tahun ini sudah menjadi tahun paling penuh kekerasan sejak perjanjian damai 2016, dan pemilihan umum ditandai dengan pembunuhan terhadap seorang calon presiden terkemuka dalam lebih dari tiga dekade. Dampaknya, banyak calon presiden yang mengurangi kampanye karena takut. Dan rakyat Kolombia yang harus datang untuk memilih dilanda perasaan cemas.

Dalam paparannya, para peneliti Stanford itu menyatakan, politik dalam pemilihan presiden mendatang menambah kompleksitas tersendiri. Dengan banyaknya kandidat yang siap memasuki putaran pertama, pemilihan ini diprediksi akan sangat tidak pasti dan kompetitif-dua kondisi yang memperkuat kerentanan dan kekhawatiran yang ada. Masih harus dilihat apakah Kolombia akan mengalami kontinuitas dalam pemerintahan eksekutif atau malah mengikuti ayunan pendulum yang terjadi di bagian lain kawasan ini.

Dalam konteks kerentanan dan ketidakpastian yang meningkat ini, kerja organisasi masyarakat sipil sangat penting untuk menjaga integritas proses pemilihan dan untuk menahan potensi terjadinya tindakan jahat. Pemilihan ini merupakan ujian lain bagi ketahanan lembaga-lembaga demokrasi Kolombia dan kekuatan masyarakat sipilnya yang berpengaruh.

Sementara laman Americas Quarterly menyebutkan, serangan-serangan ini telah memperkuat kekhawatiran publik atas meningkatnya kejahatan dan kegagalan pemerintah untuk mengendalikan kelompok pemberontak bersenjata seiring dengan maraknya produksi koka dan perdagangan narkoba dalam beberapa tahun terakhir.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa korupsi, kejahatan jalanan, dan kekerasan kelompok bersenjata adalah kekhawatiran utama para pemilih menjelang pemilihan presiden.

Tiga kandidat

Pemilu 31 Mei mendatang akan menghadirkan tiga kandidat. Yaitu, Iván Cepeda, 63, Senator. Iván Cepeda adalah seorang senator sayap kiri yang dikenal secara nasional karena aktivisme hak-hak sipil dan tuduhan adanya hubungan antara politisi dan kelompok paramiliter sayap kanan.

Pada 1994, ayah Cepeda, seorang senator, dibunuh oleh kelompok paramiliter di tengah gelombang pembunuhan politik. Cepeda terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 2010 dan kemudian menjadi senator pada tahun 2014. Pada tahun itu, ia menuduh mantan Presiden Álvaro Uribe (2002-2010) memiliki hubungan dengan kelompok paramiliter.

Uribe dihukum tahun lalu karena mempengaruhi saksi dan penyuapan dalam kasus tersebut; hukuman tersebut dibatalkan, dan Cepeda telah mengajukan banding. (Uribe membantah melakukan kesalahan.) Cepeda berpartisipasi dalam perundingan perdamaian pemerintah Kolombia dengan FARC yang menghasilkan Perjanjian Perdamaian 2016, serta perundingan yang lebih baru dengan ELN. Ia adalah presiden Komisi Perdamaian Senat.

Kandidat kedua, Abelardo De La Espriella, 47, Pengacara dan pengusaha. De La Espriella adalah seorang pengacara pembela kriminal dan pengusaha Kolombia terkemuka yang memposisikan dirinya sebagai tokoh sayap kanan garis keras yang berbeda dari arus utama.

Ia telah membangun dunia bisnis yang mencakup merek makanan dan pakaian bernama De La Espriella Style, produsen anggur dan rum bernama Dominio De La Espriella, serta perusahaan konstruksi dan real estat.

Espriella juga terkenal karena mewakili klien-klien terkemuka, termasuk David Murcia Guzmán, yang dihukum karena mengatur skema Ponzi terbesar dalam sejarah Kolombia, dan Alex Saab, seorang pemodal dan sekutu dekat mantan diktator Nicolás Maduro. Ia memegang kewarganegaraan AS, telah banyak bekerja di Miami, dan tinggal di Italia sebelum memulai kampanye ini.

Ketiga, Paloma Valencia, 48, Senator. Valencia adalah senator konservatif dari partai yang didirikan oleh mantan Presiden Álvaro Uribe dan perwakilan paling terkemuka dari proyek politiknya. Ia berasal dari keluarga tokoh publik terkemuka: ayah Valencia adalah seorang senator, kakeknya adalah presiden dari tahun 1962-1966, dan saudara perempuan kakeknya adalah seorang pejuang hak pilih perempuan yang terkenal.

Berlatar belakang pendidikan hukum, ia pernah menjadi profesor hukum dan kolumnis surat kabar sebelum memenangkan kursi Senat pada tahun 2014. Ia terpilih kembali pada tahun 2018 dan 2022.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2