3 Negara Ini Ubah Sampah Jadi Green Energy, Bisa Ditiru RI
Daftar Isi
Persoalan sampah bukan hanya dominasi negara-negara berkembang, tapi juga sejumlah negara maju di dunia.
Karena itu para ahli sudah mengembangkan teknik mengubah sampah menjadi energi, yang lazim disebut green energy (energi hijau).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini adalah metode mengubah limbah menjadi listrik, panas, atau bahan bakar terbarukan untuk mengurangi volume sampah dan menekan emisi karbon. Proses ini umumnya dikenal sebagai teknologi Waste-to-Energy (WtE)
Ternyata sejumlah negara sudah berhasil melakukannya.
Setidaknya ada tiga negara yang pantas ditiru demi mengolah sampah menjadi energi ramah lingkungan.
1. Swedia
Negara ini disebut menjadi pemimpin global yang mendaur ulang hingga 99 persen limbahnya. Hanya kurang dari 1 persen sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Teknologi WtE mereka sangat efisien sehingga mereka bahkan mengimpor sampah dari negara tetangga untuk memenuhi pasokan bahan bakar pembangkit listrik tenaga sampah yang menyediakan pemanas distrik (district heating) bagi jutaan rumah.
Laman Blue Ocean Strategy menyebut, Swedia tidak hanya menghemat uang dengan mengganti bahan bakar fosil dengan limbah untuk menghasilkan energi, negara ini juga menghasilkan US$100 juta setiap tahunnya dengan mengimpor sampah dan mendaur ulang limbah yang dihasilkan oleh negara lain.
Inggris Raya, Norwegia, Irlandia, dan Italia bersedia membayar US$43 untuk setiap ton limbah yang diimpor Swedia untuk tujuan ini.
Alih-alih mengirim sampah ke tempat pembuangan akhir, pembangkit listrik tenaga sampah menghasilkan energi yang kemudian disalurkan dalam bentuk listrik untuk rumah dan bisnis.
Hanya 1 persen sampah Swedia yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Dengan membakar sampah, 52 persen lainnya diubah menjadi energi dan 47 persen sisanya didaur ulang.
Jumlah energi yang dihasilkan dari sampah saja cukup untuk memanaskan satu juta rumah dan menyediakan listrik untuk 250.000 rumah. Sementara itu, Inggris hanya mendaur ulang 44% sampahnya.
2. Denmark
Negara ini terkenal dengan fasilitas WtE canggih berstandar tinggi seperti CopenHill di Kopenhagen, yang tidak hanya mengubah sampah menjadi energi listrik dan panas, tetapi atap bangunannya juga dimanfaatkan sebagai jalur rekreasi dan ski ramah lingkungan bagi publik.
Bahkan pemerintah Indonesia belum lama ini menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Denmark untuk mempercepat pengembangan green jobs atau pekerjaan hijau sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi hijau dan rendah karbon.
Pengembangan lapangan kerja hijau tersebut mencakup sektor pengelolaan sampah, energi bersih, hingga ekonomi karbon.
Kerja sama itu dibahas dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, dengan Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen, serta Penasihat Sektor Lingkungan dan Ekonomi Sirkular Kedutaan Besar Denmark, Erika Torres, di Jakarta.
Menteri Jumhur mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menciptakan pekerjaan hijau dari berbagai aktivitas pengelolaan lingkungan yang terus berkembang, mulai dari pengelolaan sampah hingga sektor perdagangan karbon.
3. Singapura
Negara tetangga Indonesia ini, sangat serius dalam mengubah sampah menjadi energi hijau.
Meski dengan keterbatasan lahan, mereka menggabungkan pengelolaan air limbah dan limbah padat untuk menghasilkan listrik ramah lingkungan demi mencapai target keberlanjutan nasional.
Dikutip dari aimspress.com, sebagai ekonomi perkotaan yang kecil namun maju, telah mencapai lingkungan hidup berkualitas tinggi dan telah menjadi contoh kota padat penduduk dan berkelanjutan.
Untuk mempertahankan status tersebut, Singapura telah menetapkan tujuan untuk mencapai emisi karbon nol bersih pada pertengahan abad ini dan mengurangi limbah yang dikirim ke tempat pembuangan sampah sebesar 30 persen pada tahun 2030.
Untuk mencapai tujuan ini, Singapura telah menyusun rencana komprehensif untuk menerapkan model ekonomi sirkular di semua sektor ekonomi.
Rencana ini mencakup serangkaian langkah yang disesuaikan dengan kondisi unik negara-kota Singapura yang akan membutuhkan upaya bersama dari pihak berwenang, industri, perusahaan, akademisi, dan warga negara.
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


