Dunia Panas Membara, Kenapa Cuaca Semakin Gila?

CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 09:50 WIB
Para ilmuwan terkemuka menyatakan keprihatinan dunia imbas pemanasan global dan krisis iklim. (REUTERS/Marton Monus)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ilmuwan terkemuka menyatakan keprihatinan dunia imbas pemanasan global dan krisis iklim.

Lebih dari 70 ilmuwan termasuk kontributor Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyampaikan kekhawatiran tersebut dalam studi tahunan Indikator Perubahan Iklim Global.

"Indikator-indikator ini mewakili pemantauan penting terhadap kondisi vital pasien yang menunjukkan gejala yang semakin mengkhawatirkan," kata , salah satu penulis dan profesor geografi fisik di Universitas Maynooth, Irlandia, Peter Thorne, dikutip AFP, Kamis (11/6).

"Semua itu bergantung pada serangkaian kemampuan pengamatan global yang, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, secara sistematis mengalami degradasi aktif atau berisiko," imbuh dia.

Indikator Perubahan Iklim Global memberikan pembaruan tahunan bagi para pembuat kebijakan soal keadaan Bumi seiring percepatan perubahan iklim. Penilaian IPCC terakhir diselesaikan pada 2023 dan yang berikutnya dijadwalkan pada 2028 atau 2029.

Laporan indikator tahunan ini bergantung pada sekitar 40 kumpulan data global yang berasal dari satelit dan berbagai instrumen darat, laut, dan udara, termasuk stasiun cuaca, kapal, pelampung, dan balon cuaca.

Dalam laporan Indikator Perubahan Iklim Global disebutkan bahwa suhu global mencapai sekitar 1,39 Celsius di atas tingkat pra-industri pada 2025, dengan hampir seluruh pemanasan tersebut, 1,37 Celsius, disebabkan aktivitas manusia.

Para ilmuwan memperingatkan pemanasan global akibat aktivitas manusia akan mencapai 1,5 derajat Celsius sekitar tahun 2030.

Dalam perjanjian iklim Paris 2015, negara-negara sepakat untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2 derajat Celsius untuk menghindari konsekuensi terburuk dari perubahan iklim.

Namun, studi itu menemukan dunia mengakumulasi panas dengan kecepatan yang pesat. Ini memperburuk "ketidakseimbangan energi Bumi" yaitu laju energi yang masuk dan keluar dari planet.

Penulis utama studi tersebut sekaligus profesor perubahan iklim fisik di Universitas Leeds di Inggris, Piers Forster, mengatakan tanpa pengaruh manusia seharusnya tingkat pemanasan global mendekati nol.

"Tetapi angka tersebut terus meningkat sejak tahun 1970-an dan sekarang berada di rekor tertinggi, berlipat ganda dalam beberapa dekade terakhir," kata dia.

Tingkat pemanasan yang tinggi disebabkan kombinasi emisi gas rumah kaca yang mencapai titik tertinggi sepanjang masa dan pengurangan polusi aerosol, yang melemahkan efek pendinginan karena partikel-partikel ini memantulkan sinar matahari.

Namun, emisi CO2 tetap menjadi pendorong utama pemanasan global dan berada di tingkat tertinggi sepanjang sejarah.

"Mengingat emisi gas rumah kaca masih terus meningkat, menjaga pemanasan global di bawah ambang batas (1,5 Celsius) ini sekarang tampaknya tidak mungkin tercapai," kata ilmuwan iklim di layanan meteorologi Prancis, Aurelien Ribes.

Imbas pemanasan global pula, permukaan laut naik sekitar 23 cm antara tahun 1901 dan 2025. Kenaikan ini semakin cepat, yaitu 3,84 mm per tahun, akibat pencairan es di daratan dan ekspansi termal seiring pemanasan laut.

(isa/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK