Apa Isi MoU yang Bakal Diteken AS-Iran di Swiss 19 Juni?

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 09:55 WIB
Rincian mengenai kesepakatan sementara antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah mulai terungkap pada Selasa (16/6). (Foto: REUTERS/Evan Vucci)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rincian mengenai kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah mulai terungkap pada Selasa (16/6).

Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian tersebut akan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Seorang pejabat AS juga menyebut kesepakatan itu memungkinkan Iran kembali menjual minyaknya segera setelah ditandatangani.

Nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran akan resmi ditandatangani pada Jumat (19/6) ini di Swiss.

MoU ini harapannya dapat memperpanjang gencatan senjata rapuh yang diumumkan pada April selama 60 hari tambahan guna memberi ruang bagi kedua negara yang bertikai untuk merundingkan kesepakatan damai permanen.

Selat Hormuz dibuka

Dikutip Reuters, berdasarkan MoU itu, AS akan mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran akan memulihkan jalur pelayaran kapal tanker minyak dan lalu lintas maritim lainnya di Selat Hormuz.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kesepakatan tersebut juga mencakup Israel dan Lebanon.

Pernyataan itu bertentangan dengan sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang pada Senin menegaskan Israel tidak terikat oleh perjanjian tersebut dan tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan.

Seorang juru bicara Hizbullah mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok itu meyakini Iran tidak akan menyetujui perjanjian damai permanen apabila pendudukan Israel belum diakhiri.

Sanksi ke Iran dicabut

Seorang pejabat senior AS mengatakan kesepakatan itu memungkinkan Iran segera kembali menjual minyak dan bahan bakar. Perjanjian tersebut juga mencakup layanan perbankan, transportasi, dan asuransi untuk mendukung aktivitas ekspor tersebut.

Pejabat AS dan Iran menyebut kesepakatan itu pada akhirnya dapat memberikan manfaat ekonomi besar bagi Iran melalui pencabutan sanksi dan pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.

Selain itu, perjanjian tersebut juga berpotensi membuka jalan bagi pembentukan dana rekonstruksi senilai US$300 miliar yang akan didanai negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dan turut terkena dampak serangan Iran selama perang. Dana itu akan direalisasikan apabila Iran memenuhi syarat-syarat lain dalam kesepakatan.

Nuklir Iran

Dalam 60 hari ke depan, para perunding akan kembali membahas isu-isu paling rumit, termasuk masa depan program nuklir Iran. Topik tersebut sebenarnya sudah dibahas Teheran dan pemerintahan Trump pada Februari sebelum perundingan terhenti akibat keputusan AS melancarkan perang.

Sementara itu, dua isu lain yang sebelumnya digunakan Trump dan Netanyahu untuk membenarkan perang tampaknya tidak masuk dalam agenda pembicaraan, yakni penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok milisi di kawasan serta pembatasan program rudal Iran.

Iran pernah menandatangani kesepakatan nuklir pada 2015 dengan AS dan sejumlah negara lain untuk secara signifikan membatasi pengayaan uranium. Namun perjanjian itu runtuh setelah Trump secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan tersebut pada masa jabatan pertamanya.

Langkah itu mendorong Iran menumpuk uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi, yang menurut Trump harus disingkirkan atau dimusnahkan.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK