Ingin Rujuk, Presiden Korsel Minta Trump Bujuk Kim Jong Un

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 13:40 WIB
South Korean President Lee Jae Myung speaks with US President Donald Trump during a high honor presentation ceremony ceremony at the Gyeongju National Museum in Gyeongju on October 29, 2025. (Photo by ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP)
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Korsel Lee Jae Myung (kanan). Foto: AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membantunya berdamai dengan Korea Utara.

Belum lama ini Trump mengunggah foto di media sosial, momen dirinya bersama pemimpin Korut Kim Jong Un saat pertemuan mereka di Singapura pada 2018 lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presiden Lee meminta agar ia (Trump) memimpin dalam mencapai resolusi damai untuk masalah Korea Utara, seperti halnya ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah," demikian pernyataan kantor Presiden Lee.

"Presiden Trump menyatakan komitmennya untuk bekerja menuju resolusi masalah Korea Utara," lanjut pernyataan itu, dilansir Reuters.

Lee Jae Myung mengambil pendekatan yang "lebih lunak" terhadap Korut, berbeda dengan pendahulunya Yoon Suk Yeol yang lebih keras.

Meski demikian Korut justru menolak pendekatan Lee, bahkan secara resmi menyebut Korsel sebagai musuh yang "paling bermusuhan". Korut juga berulang kali menyatakan diri sebagai negara nuklir yang "tidak dapat diubah".

Selama ini para pengamat Korut mengatakan peluang pertemuan antara Kim Jong Un dengan Trump sangat kecil.

"Dari perspektif Korea Utara, praktis tidak ada alasan untuk bertemu dengan Amerika Serikat," kata pengamat Universitas Studi Korea Utara di Seoul, Yang Moo Jin.

Di tengah sikapnya menjauhi diri dari Korsel, Kim Jong Un justru meningkatkan posisinya dengan negara-negara tetangga lain. Kim sejak tahun lalu mengirim pasukan dan amunisi untuk membantu perang Rusia melawan Ukraina.

Dia juga baru-baru ini menjamu Presiden China Xi Jinping di Pyongyang, tak lama setelah Xi mengadakan pertemuan berturut-turut dengan Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing.

(dna) Add as a preferred
source on Google