AS-Iran Teken MoU, Ini Alasan Teheran 'Menang Banyak' atas Washington
Melalui kesepakatan tersebut Iran juga masih bisa memiliki dan mengembangkan senjata andalannya yang pernah merepotkan AS-Israel, rudal balistik.
Pemerhati politik Israel sekaligus jurnalis senior Ben Dror Yemini mengatakan perjanjian tersebut akan dilihat sebagai "kemenangan politik" bagi Iran.
MoU itu, lanjut dia, memberi pengakuan internasional ke Iran tanpa secara substansial mengatasi program rudal balistik atau mengatasi sekutu regional Teheran, demikian dikutip Anadolu Agency.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Donald Trump bahkan secara terang-terangan menyatakan AS mengizinkan Iran memiliki rudal balistik.
"Jika negara lain punya, agak tidak adil bagi mereka [Iran] jika tidak punya juga," ucap Trump di Prancis.
Arab Saudi, Qatar, dan sejumlah negara lain di Timur Tengah memiliki serta mengembangkan rudal balistik. Selama jumlah rudal balistik Iran dalam batas yang diwajarkan AS, Trump tak keberatan.
Lihat Juga :![]() KILAS INTERNASIONAL Kekesalan Trump ke Netanyahu sampai Iran Dapat Kompensasi Rp5 Ribu T |
"Dalam proporsi relatif, saya kira itu tidak masalah," ujar dia.
Dalam poin-poin MoU memang tidak ada klausul yang menyebut soal pelucutan rudal balistik Iran atau penghentian total program nuklir mereka.
Di kesepakatan itu yang tertera hanya Iran tak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir. Poin ini sekaligus menganulir rencana awal Trump yang berambisi menghancurkan program nuklir Teheran.
Poin tersebut juga senada dengan pernyataan para pejabat Iran berulang kali menegaskan program nuklir mereka untuk tujuan damai bukan demi membuat senjata nuklir.
Persoalan nuklir Iran akan dibahas dalam negosiasi lanjutan hingga mencapai kesepakatan akhir kedua negara.
"Kedua pihak juga sepakat untuk membahas masalah pengayaan dan hal-hal lain yang disepakati bersama terkait dengan kebutuhan nuklir Republik Islam Iran, berdasarkan kerangka kerja yang memuaskan yang disepakati dalam kesepakatan akhir," demikian poin ke delapan dalam MoU.
Di poin yang lain AS bahkan mengakui status quo Iran soal nuklir.
"Republik Islam Iran akan mempertahankan status quo program nuklirnya saat ini, dan Amerika Serikat tidak akan memberlakukan sanksi baru dan tidak akan mengerahkan pasukan tambahan di kawasan tersebut," bunyi poin tersebut.
Poin-poin tentang nuklir ini turut menjadi sorotan sejumlah analis Israel, yang merasa negaranya kian terancam.
Bagi Israel, kesepakatan itu tak memenuhi tuntutannya: tak ada pembatasan program rudal dan proksinya serta tak ada mekanisme membongkar fasilitas nuklir Iran.
Kesepakatan tersebut juga berisiko memperdalam isolasi Israel dan akan memperburuk kondisi mereka, menurut Citrinowicz.
MoU ini justru membuat Teheran lebih aman, lebih sah, dan memperkuat dominasi mereka di kawasan. Israel kian gigit jari karena ancaman milisi di Lebanon, Hizbullah.
Hizbullah dalam posisi aman
Bagi Lebanon, MoU AS-Iran ini menggeser keseimbangan ke arah Iran dan memperkuat peran HIzbullah.
Di poin pertama MoU tertera bahwa AS dan Iran beserta sekutu dalam perang ini menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front termasuk Lebanon. Mereka juga berjanji tidak akan memulai serangan satu sama lain, menggunakan kekuatan berlebihan satu sama lain.
"Kesepakatan akhir akan mengonfirmasi penghentian permanen perang di semua front, termasuk di Lebanon dan ketentuan lain dalam paragraf ini," lanjut poin di MoU.
Israel memang bukan pihak langsung dalam kesepakatan tetapi frasa "beserta sekutu" diartikan bahwa mereka terlibat dalam perang dan secara harfiah memang sekutu AS.
AS ganti rugi hingga cabut sanksi
Kemenangan lain bagi Iran adalah AS bersedia mengganti rugi imbas perang yang diciptakan hingga mencabut sanksi terhadap negara tersebut, tuntutan yang selama ini Teheran ajukan.
AS setidaknya akan mengeluarkan anggaran USD300 miliar atau sekitar Rp5.400 triliun untuk merekonstruksi Iran pasca perang.
AS juga akan mencabut sanksi yang selama ini diterapkan Iran, ini juga jadi poin yang sejak awal diajukan Teheran.
"Amerika Serikat berjanji untuk mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Republik Islam Iran, termasuk resolusi Dewan Keamanan PBB, resolusi Dewan Gubernur IAEA, dan semua sanksi unilateral AS, baik primer maupun sekunder," demikian poin ke tujuh dalam MoU.
Di atas kertas Iran, memang menang banyak. Namun, negosiasi lanjutan untuk mengimplementasikan MoU hingga mencapai kesepakatan akhir harus terus dipantau.
AS dan Israel juga punya riwayat melanggar gencatan senjata, jangan sampai MoU itu jadi kedok diplomatik Washington menarik hati Teheran.
(isa/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


