Dari Mana Dana Rekonstruksi Pasca-Perang Rp5.000 T buat Iran?
Salah satu point kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat adalah, Iran akan menerima investasi senilai US$300 miliar (sekitar Rp5.342 triliun).
Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Rabu, menyatakan bahwa AS "berkomitmen dengan mitra regional untuk mengembangkan rencana pasti yang disepakati bersama dengan setidaknya US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Republik Islam Iran."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu menyerahkan "mekanisme implementasi" untuk diputuskan selama periode negosiasi 60 hari, dengan AS berkomitmen untuk memberikan lisensi, pengecualian sanksi, atau izin lain yang diperlukan.
Meskipun persyaratannya masih belum ditentukan, Trump, dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Kamis, menolak kemungkinan pendanaan langsung dari AS untuk skema tersebut.
Namun yang pasti, uang tersebut bukan berasal dari anggaran atau pembayar pajak pemerintah AS, melainkan dari Dana Rekonstruksi dan Pembangunan swasta yang didukung oleh investor global dan negara-negara Teluk (seperti Uni Emirat Arab), seperti dilansir Al Jazeera.
Lihat Juga : |
Tapi mengapa harus diberi dana? Pihak AS telah menyatkan bahwa dana ini disediakan sebagai insentif ekonomi bagi Iran jika mereka mematuhi perjanjian damai dan program denuklirisasi.
Lewat pendanaan ini, negara-negara di kawasan akan berkontribusi dalam berbagai cara termasuk pemberian pinjaman, penetapan jalur kredit atau secara langsung membiayai rekonstruksi lokal yang rusak akibat perang, termasuk fasilitas seperti kilang, bandara, hingga infrastruktur yang terkena dampak konflik.
Dalam konferensi pers, Wakil Presiden AS J.D Vance menyarankan bahwa dana tersebut dapat dibiayai oleh negara-negara Arab di kawasan dan oleh pihak-pihak di luar kawasan yang tertarik untuk berinvestasi di Iran, sehingga menciptakan integrasi ekonomi yang dapat membantu memastikan perdamaian abadi. Namun, belum ada negara yang mengkonfirmasi komitmen keuangan terhadap rencana tersebut.
Vance menambahkan bahwa Iran hanya akan mendapatkan akses ke sumber daya tersebut "jika mereka sepenuhnya patuh dan mengubah perilaku mereka"
Ternyata ini bukan yang pertama terjadi. Vance merujuk pada Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015, yang membuat Washington mengeluarkan dana sekitar $55 miliar aset Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan agar Iran mengurangi program nuklirnya dan tunduk pada inspeksi rutin sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Aset tersebut sebagian besar disimpan di bank-bank asing.
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


