HARI ANTINARKOTIKA DUNIA

Kartel Narkoba Segitiga Emas, Tak Ada Matinya di Asia Tenggara

CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 12:00 WIB
Komoditas opium Myanmar.
Komoditas opium Myanmar. (AFP)

Kartel narkoba segitima emas sudah beroperasi sejak 1970-an. Wilayah pegunungan di Asia Tenggara tempat perbatasan Thailand, Laos, dan Myanmar (Burma) bertemu di dekat pertemuan sungai Mekong dan Ruak.

Istilah segitiga emas, yang sejak lama dikaitkan dengan kartel narkoba dan penanaman serta perdagangan opium ilegal, pertama kali dicetuskan pada tahun 1971 oleh Asisten Menteri Luar Negeri AS, Marshall Green, seperti dikutip Britannica.

Ukuran pasti wilayah ini tidak dapat ditentukan, karena membentang di beberapa negara dan tidak memiliki batas yang pasti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deskripsi ukurannya berkisar dari 77.220 mil persegi (200.000 kilometer persegi) hingga 370.000 mil persegi (950.000 kilometer persegi). Saat ini, wilayah Thailand dan Laos di Segitiga Emas merupakan tujuan wisata populer yang dikenal karena pemandangan alamnya yang indah, kekayaan budaya, dan signifikansi sejarahnya.

Bagian Thailand dari Segitiga Emas telah terurbanisasi , dengan jalan-jalan modern, listrik yang stabil, dan ekonomi yang kuat. Produksi opium di sana sekarang sangat minim karena intervensi pemerintah yang berhasil. D

emikian pula, Vietnam dan Tiongkok sebagian besar telah memberantas produksi opium di dalam perbatasan mereka. Laos masih memproduksi opium-sebagian karena tradisi berabad-abad dari masyarakat suku termasuk Hmong, tetapi produksi saat ini jauh lebih rendah daripada di masa lalu.

Myanmar, negara termiskin di segitiga tersebut, selalu memproduksi opium terbanyak dan tetap menjadi pengekspor terbesar di dunia, terutama karena kurangnya kontrol dan stabilitas pemerintah di negara tersebut.

Pada tahun 1890-an, perkebunan opium milik perseorangan sebagian besar telah lenyap dan digantikan oleh monopoli opium yang dikendalikan pemerintah.

Selama Perang Dunia II, jalur perdagangan opium melalui laut dari India dan Asia Barat diblokir, yang mendorong Prancis untuk mendorong para petani di Laos untuk lebih meningkatkan produksi opium mereka. Petani Thailand juga memperluas produksi mereka untuk mendapatkan keuntungan dari perdagangan opium yang menguntungkan.

Kini mereka terus melebarkan sayap, bukan hanya opium. Tapi juga zat adiktif lain seperti pil metamfetamin, yang secara rutin dihitung dalam jutaan, sementara pengiriman metamfetamin kristal, heroin, dan ketamin diperkirakan mencapai ratusan kilogram.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2