Kartel Narkoba Generasi Baru Meksiko Makin Menggila dan Militeristik

CNN Indonesia
Kamis, 02 Jul 2026 05:30 WIB
Militer Meksiko sampai turun tangan memerangi kartel narkoba di negara itu.
Militer Meksiko sampai turun tangan memerangi kartel narkoba di negara itu. (AFP/ULISES RUIZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika Meksiko sedang sibuk menyambut pembukaan perhelatan Piala Dunia 2026, sebuah kabar duka datang dari negeri tersebut. Wali Kota San Miguel Amatitlán, Joel Ángel Bravo Martínez, tewas ditembak di kediamannya di negara bagian Oaxaca, Meksiko, Sabtu (13/6).

Martinez tewas di wilayah yang selama ini dikenal sebagai jalur strategis perebutan rute perdagangan narkoba yang menjadi arena konflik bagi Kartel Jalisco Nueva Generación (CJNG) dan Kartel Sinaloa. Dua kelompok mafia barang haram yang terus menancapkan kekuasaanya di negeri sombrero itu.

Kematian Martinez menambah panjang para pejabat yang tewas dalam konflik dengan para bandar narkoba yang terkenal pembunuh berdarah dingin. Sebelumnya ada Mario Hernández García, Wali Kota Santiago Amoltepec, juga tewas dalam serangan bersenjata beberapa minggu sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wali Kota Uruapan Carlos Alberto Manzo Rodríguez, ditembak mati oleh orang suruhan kartel saat Festival Hari Orang Mati (November 2025) dan Wali Kota Chilpancingo Alejandro Arcos ditemukan tewas dengan kondisi kepala terpenggal di atas mobil pick-up hanya 6 hari setelah dilantik (Oktober 2024).

Aksi membunuh para kepala daerah dan mengancam pejabat itu, tidak lepas dari gelombang kekerasan yang melanda sejumlah wilayah Meksiko setelah gembong kartel narkoba Nemesio Ruben Oseguera Cervantes, yang dikenal sebagai "El Mencho", tewas dalam operasi militer pada Februari lalu.

Sedikitnya 74 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian operasi tersebut, termasuk 25 personel aparat keamanan. Menteri Keamanan Meksiko, Omar Garcia Harfuch, menyatakan bahwa korban tewas terdiri dari anggota pasukan keamanan, terduga anggota kartel, serta sejumlah pihak lainnya.

Tak lama setelah kabar kematian pemimpin Kartel Jalisco Nueva Generación (CJNG) itu tersebar, kelompok bersenjata diduga anggota kartel mengamuk. Mereka membakar kendaraan di sejumlah negara bagian dan memblokir banyak ruas jalan utama.

Bank, SPBU, dan toko-toko turut menjadi sasaran serangan, sementara warga berupaya menyelamatkan diri. Media lokal melaporkan sekitar 20 dari 32 negara bagian di Meksiko terdampak kekerasan, termasuk Jalisco, Michoacan, Aguascalientes, Tamaulipas, dan Guanajuato.

Aksi yang menewaskan "El Mencho" merupakan hasil pengumpulan intelijen selama bertahun-tahun oleh Meksiko dan Amerika Serikat (AS).

Menteri Pertahanan Meksiko Ricardo Trevilla mengungkapkan bahwa aparat berhasil melacak keberadaan Oseguera setelah mengidentifikasi seorang rekan dekat dari kekasihnya. Perempuan tersebut diantar ke Tapalpa, Jalisco, pada Jumat (20/2) untuk bertemu dengan sang bos kartel. Informasi tambahan dari intelijen AS membantu memastikan lokasi pertemuan itu.

Namun, kematian seorang gembong narkoba di Amerika Latin itu, tidak berarti menghapus kejahataan lintas batas itu. Sejarah kejahatan narkoba di sana mencatat, setiap kartel terus berkembang dan memiliki gaya baru dalam mengedar barang haram itu dengan kepemimpinan yang terus berganti.

Penyelundup lokal

Sejarah kartel narkoba berkembang pesat dari geng penyelundup lokal menjadi kekuatan global. Era 1970-hingga 1990-an, didominasi oleh kartel Kolombia. Nama-nama seperti Pablo Escobar mulai menancapkan kukunya hingga diburu para aparat di AS.



Pada era ini, perdagangan narkoba didominasi oleh kartel besar Kolombia yang memonopoli pasokan kokain global ke Amerika Serikat. Mereka adalah Kartel Medellín yang dipimpin oleh Pablo Escobar. Kartel ini menjadi organisasi kriminal paling kaya dan berkuasa karena menggunakan taktik kekerasan ekstrem, pemboman, hingga teror politik.

Kemudia Kartel Cali, yang beroperasi sebagai sindikat yang lebih menyerupai perusahaan korporasi. Mereka lebih fokus pada penyuapan dan jaringan intelijen untuk mengamankan jalur penyelundupan.

Setelah Pablo Escobar tewas pada pada 1993, masa kejayaan kartel Kolombia meredup. Sebagai gantinya, tumbuh kartel Meksiko era 1990-2010. Kartel Meksiko awalnya bertindak sebagai kurir mulai mengambil alih kendali penuh atas rute perdagangan narkoba. Namun perlahan tapi pasti mereka membesar hingga melahirkan kartel Sinaloa dan Juarez.

Kartel Sinaloa jadi sindikat narkoba paling kuat di Meksiko sejak tahun 1990-an. Mereka dikenal sangat canggih dalam penyelundupan lintas batas menggunakan terowongan canggih, kapal selam, dan aliansi internasional. Sementara Kartel Juarez dikenal menguasai rute penting di wilayah perbatasan Meksiko-AS.

Memasuki era 2010 hingga 2020, Kartel Meksiko terus bermetamorfosis. Mereka memperkuat diri bukan saja dengan menyuap pejabat militer dan pejabat politik demi mengamankan bisnis, tapi juga membawa mesin-mesin pembunuh berdaya ledak tinggi dan canggih.

Mereka sering berperang dengan sesama kartel atau militer pemerintah. Mereka berperang menggunakan persenjataan militer modern yang makin menyulitkan pemerintah.

Dari sinilah lahir Kartel Los Zetas, yang didirikan oleh mantan pasukan khusus militer Meksiko. Mereka memperkenalkan taktik tempur, teknologi tinggi, dan kekerasan sistematis sebelum akhirnya melemah akibat penangkapan para pemimpinnya.

Kemudian Kartel Beltran-Leyva, pecahan Sinaloa yang sempat mendominasi wilayah tertentu sebelum akhirnya hancur akibat perang antar-kartel.

Nah, kartel generasi baru dengan gaya militer ini, menandai babak baru dalam perdagangan. Mereka berubah menjadi sindikat transnasional yang tidak hanya berfokus pada kokain atau ganja, tetapi juga bahan sintetis mematikan seperti fentanil dan sabu-sabu.

Kartel Jalisco dan CJNG adalah dua nama yang paling populer.Keduanya sering berebut pasar dan jalur perdagaangan hingga menewaskan banyak orang.

Kartel Sinaloa, saat ini paling kuat di dunia, yang berpusat di negara bagian Sinaloa, Meksiko. Mereka mendominasi perdagangan narkoba global-khususnya kokain, metamfetamin, dan fentanil-ke Amerika Serikat dan negara lain, serta melakukan pencucian uang melalui jaringan internasional menurut laman insightcrime.org.

Sejarah Kartel Sinaloa dimulai di negara bagian Sinaloa, yang sejak lama menjadi pusat budidaya ganja dan opium, serta penyelundupan mariyuana dan heroin di Meksiko. Banyak organisasi perdagangan narkoba di negara itu berasal dari wilayah tersebut sebagai kelompok kecil petani sederhana yang tinggal di daerah pedesaan negara bagian itu.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, keluarga-keluarga tersebut terjun ke perdagangan narkoba, khususnya mariyuana. Salah satu yang pertama kali memperdagangkan mariyuana dalam jumlah besar adalah Pedro Avilés, yang kemudian mengajak teman anaknya, Joaquín Guzmán Loera, alias " El Chapo ," untuk bergabung dalam bisnis tersebut. Avilés tewas pada tahun 1978 dalam baku tembak dengan polisi.

Pada akhir tahun 1970-an, keluarga-keluarga tersebut mendiversifikasi aktivitas mereka. Mereka mulai mengangkut kokain untuk para penyelundup Kolombia dan Amerika Tengah dan mengalihkan aktivitas mereka ke Guadalajara, ibu kota negara bagian Jalisco. Di antara para pemimpin mereka adalah Rafael Caro Quintero , Miguel Ángel Félix Gallardo, dan Ernesto Fonseca Carrillo.

Dengan bantuan seorang pengedar narkoba asal Honduras bernama Juan Ramón Matta Ballesteros , orang-orang tersebut mulai bekerja sama dengan Kartel Medellín Kolombia. Matta Ballesteros tinggal paruh waktu di Kolombia, di mana ia beroperasi sebagai perantara utama antara pengedar narkoba Kolombia dan Meksiko, yang menetapkan pola perdagangan narkoba yang masih ada hingga saat ini: pergerakan pengiriman kokain melalui udara dan laut ke Amerika Tengah dan Meksiko, kemudian melalui jalur darat ke Amerika Serikat.

Selama periode ini, Kartel Sinaloa menjalin aliansi dengan keluarga Valencia di Michoacán, yang membentuk organisasi yang dikenal sebagai Kartel Milenio. Kolaborasi ini tidak hanya memungkinkan mereka untuk terus memegang kekuasaan atas saingan mereka, tetapi juga untuk mendapatkan akses ke pelabuhan-pelabuhan utama di Pasifik dan menerima bahan kimia prekursor dari Tiongkok untuk memasuki bisnis metamfetamin yang menguntungkan.

Sementara Kartel CNJG adalah generasi baru Jalisco, yang juga mendominas perdagangan narkoba dan makin variatif. Kementerian hukum AS lewat laman justice.gov, pernah menurunkan catatan hukuman para gembong CJNG ini pada 2024 silam. Kala itu, ada 12 pengedar narkoba yang terkait telah dijatuhi hukuman antara empat setengah dan 40 tahun penjara federal, demikian diumumkan oleh Jaksa Agung AS untuk Distrik Utara Texas, Leigha Simonton.

Francisco Javier Rodriguez Arreola, pemasok utama yang didakwa dalam kasus ini, dijatuhi hukuman 40 tahun penjara federal karena berkonspirasi untuk memiliki dengan maksud mendistribusikan metamfetamin. Rodriguez Arreola, seorang warga negara Meksiko berusia 45 tahun kelahiran Michoacan, ditangkap pada tahun 2021 di Del Rio, Texas saat memasuki kembali Amerika Serikat secara ilegal dari Meksiko setelah sebelumnya dideportasi.

Dalam berkas pengakuan bersalah, terdakwa mengakui bahwa ia membantu mengoordinasikan pengiriman 199,97 kilogram metamfetamin cair - dengan nilai jual di jalanan hingga $9,9 juta - dari Meksiko ke Dallas yang disembunyikan di dalam tangki diesel sebuah truk semi-trailer berwarna merah.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google
Militerisasi Kartel Narkoba Meksiko BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2