Kisah Kekeringan Parah Memantik Pemberontakan dan Revolusi Prancis

CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 06:05 WIB
Peringatan Bastille Day atau Revolusi Prancis setiap 14 Juli.
Peringatan Bastille Day atau Revolusi Prancis setiap 14 Juli. (AFP PHOTO / POOL / Etienne LAURENT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Prancis mengalami cuaca terpanas sepanjang sejarah dengan suhu mencapai 40 derajat celsius.

France24 melaporkan jutaan orang bangun di pagi hari Selasa dengan banjir keringat gegara sebagian besar wilayah terpapar suhu panas ekstrem semalaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sinar matahari terus mendominasi di seluruh Prancis, mempertahankan panas yang menyengat dan melelahkan di seluruh negeri," demikian pernyataan badan prakiraan cuaca nasional, Meteo France.

"Suhu yang memecahkan rekor lebih lanjut diperkirakan akan terjadi, termasuk beberapa yang bisa melampaui semua rekor sebelumnya," demikian pernyataan Meteo France.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengabarkan 40 orang meninggal dunia akibat gelombang panas sejak 18 Juni. Sebagian besar merupakan kaum muda.

Gelombang panas menghampiri Prancis di awal-awal musim panas di negara itu. Badan prakiraan cuaca belum bisa memastikan berapa lama gelombang panas akan berlangsung.

Menimbulkan revolusi

Ternyata, Prancis juga pernah dilanda cuaca ekstrem pada 1788 atau setahun sebelum revolusi pecah di sana. Kondisi itu menyebabkan kekeringan parah di Prancis.

Maria Waldinger dari University of Munich, German, dalam makalahnya yang dipublikasikan pada 2023 di laman Springer Nature, menulis, pada tahun 1788, kekeringan melanda Prancis dan menyebabkan gagal panen yang parah.

Harga biji-bijian melonjak. Sebagian besar penduduk mengalami kelaparan.

Pada saat itu, Prancis sudah berada dalam krisis keuangan, ekonomi, dan politik yang mendalam, akibat dari berbagai perkembangan jangka panjang dan menengah dalam politik, ekonomi, dan masyarakat Prancis.

Akibatnya, Raja Louis XVI memiliki keterbatasan dalam mengimpor gandum dari luar negeri atau meredam ketidakpuasan publik menggunakan cara militer.

Sementara harga gandum terus naik, ketidakpuasan publik meningkat. Saat itu adalah waktu dalam setahun, yang disebut musim paceklik, ketika panen tahun lalu telah habis, dan sebelum panen baru dimulai.

Pada musim panas 1789, pemberontakan terbuka terhadap kekuasaan raja meletus. Beberapa sejarawan telah berhipotesis bahwa kekeringan tahun 1788 dan kegagalan panen yang terjadi memengaruhi pecahnya pemberontakan selama Revolusi Prancis.

Pada musim panas 1789, tak lama sebelum panen baru akan dilakukan, para petani yang kelaparan bangkit memberontak melawan tuan tanah mereka. Para petani marah karena mereka, banyak yang hampir kelaparan, berhutang pajak yang berlebihan kepada tuan tanah mereka.

Sebaliknya, tuan tanah mereka dibebaskan dari semua pajak dan juga menikmati berbagai hak istimewa politik dan ekonomi lainnya.

Para petani menyerang kastil tuan tanah mereka dan membakar piagam-piagam yang menjamin hak-hak istimewa tersebut. Masuk akal bahwa para petani yang lebih terdampak kekeringan menghadapi kenaikan harga yang lebih tinggi dan lebih cenderung memberontak melawan tuan tanah mereka.

Dengan menggunakan data tentang lokasi pasti sekitar 300 pemberontakan petani, terungkap bahwa daerah dengan kekeringan yang lebih parah secara signifikan lebih mungkin mengalami pemberontakan petani.

"Saya juga menunjukkan bahwa kekeringan memiliki dampak yang sangat besar pada pemberontakan awal, yang kemudian memicu protes dan menyebar ke wilayah lain di Prancis," kata Maria Waldinger.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]