Cerita WNI soal Panas Ekstrem di Jerman: Rumah Jadi Seperti Microwave

CNN Indonesia
Sabtu, 04 Jul 2026 14:15 WIB
Termometer raksasa di Gedung Kantor UNFCCC Kota Bonn, Jerman menunjukkan suhu udara 41 derajat Celsius.
Termometer raksasa di Gedung Kantor Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) Kota Bonn, Jerman menunjukkan suhu udara 41 derajat Celsius. (REUTERS/Jana Rodenbusch)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelombang panas ekstrem (heatwave) melanda sejumlah negara di Eropa dari Inggris, Prancis, hingga Jerman sejak awal Juni.

Gelombang panas ini mengakibatkan kerusakan bahkan hingga korban meninggal dunia di sejumlah negara. di Prancis, Kementerian Kesehatan negara itu membeberkan angka kematian terkait heatwave bahkan tembus 2 ribuan lebih dalam sepekan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah fasilitas umum di Jerman pun dikabarkan rusak akibat 'sengatan' gelombang panas. Bantalan rel hingga lampu lalu lintas meleleh.

Salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Hamburg, Jerman, Jismi Akmam Bukhara membagikan cerita 'serangan' gelombang panas ekstrem tersebut.

"Panasnya terasa menusuk. Rasanya megap-megap (kesulitan napas) jika berada di luar ruangan, udaranya berasa berat," kata Jismi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (3/7).

Meski demikian, ia mengatakan panas ekstrem di Jerman tidak sampai mematikan seperti di Prancis.

Saat siang hari, Jismi membeberkan bahwa warga lebih memilih berada di dalam ruangan. Namun, upaya warga tersebut bukan berarti lolos begitu saja dari gelombang panas. Di dalam ruangan pun masih begitu terasa sesak.

"Di satu sisi, apartemen perlu sirkulasi udara, tapi udara yang masuk bikin rumah seperti microwave. Kalau jendela tidak dibuka, akan jadi 'pengap' sekali udara di rumah," kata pria yang bekerja di perusahaan swasta di Jerman itu.

Ini terjadi karena menurutnya hampir semua rumah di Eropa memang didesain untuk 'menyimpan' panas.

"Di Eropa, kebanyakan merupakan beriklim sedang dan dingin. Tapi begitu mendapat panas anomali seperti ini, infrastruktur kacau total. Dan, ini belum tentu yang terparah," ucap Jismi.

Sama seperti di Prancis, warga pun berebut beli pendingin ruangan atau air conditioner (AC), sebuah pilihan yang sebenarnya bukan menjadi kebiasaan orang-orang Eropa.

"Seminimalnya beli AC portable karena tipe konvensional (permanen) yang kita kenal itu akan sangat ribet minta ampun pemasangannya," ujar Jismi.

"Di sini tidak terlalu banyak yang punya kepemilikan rumah atau apartemen. Jadi untuk instalasi (AC permanen) dan izinnya ke pemilik bangunan akan sangat ribet. Rumah-rumah di sini juga tidak didesain untuk pasang AC seperti itu," ia menambahkan.

Ia membeberkan belum ada kebijakan darurat dari pemerintah karena gelombang panas di Jerman dianggap tidak separah di Prancis.

(bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]