Netanyahu Bantah Trump Ngatur Agresi Israel di Lebanon: Berita Palsu!
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah laporan yang menyebut Amerika Serikat membatasi operasi militer Israel di Lebanon.
Netanyahu menegaskan berita yang menyatakan Presiden AS Donald Trump melarang Israel menargetkan terowongan-terowongan milisi Hizbullah di Lebanon adalah "mitos" dan "berita palsu".
"Saya mendengar ada pemberitaan di media bahwa Presiden Trump meminta agar kami tidak bertindak terhadap terowongan-terowongan teror di Lebanon. Itu hanya mitos, berita palsu. Dia tidak pernah mengatakan hal itu kepada saya, dan saya juga tidak memintanya. Kami bertindak berdasarkan pertimbangan kami sendiri," kata Netanyahu dalam rapat mingguan kabinet seperti dikutip Anadolu Agency pada Minggu (5/7).
Pernyataan tersebut bertentangan dengan laporan penyiar publik Israel, KAN, pada akhir bulan lalu yang menyebut Israel telah memberikan informasi intelijen rinci kepada pejabat AS mengenai dugaan terowongan Hezbollah di kawasan Perbukitan Ali Al Taher, Lebanon selatan, dalam upaya memperoleh persetujuan Washington untuk melakukan operasi militer di wilayah tersebut.
Laporan itu mengindikasikan Israel berupaya mendapatkan lampu hijau dari AS untuk melanjutkan operasi militernya di Lebanon, berlawanan dengan pernyataan Netanyahu yang menegaskan bahwa keputusan militer Israel diambil secara independen.
Sejak 2 Maret 2026, operasi militer Israel di Lebanon telah menewaskan sedikitnya 4.303 orang dan melukai 12.202 lainnya, menurut otoritas Lebanon. Serangan tersebut juga memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi.
Pada 26 Juni, Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan kerangka yang dimediasi Amerika dengan tujuan mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah Lebanon.
Dalam kesempatan itu, Netanyahu juga menyinggung Jalur Gaza dengan menyatakan tidak akan ada rekonstruksi di wilayah tersebut sebelum Gaza dilucuti dari Hamas dan persenjataannya.
Sikap itu berbeda dengan tahapan yang tercantum dalam rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang.
"Tidak akan ada rekonstruksi di Gaza tanpa pembongkaran dan demiliterisasi Jalur Gaza," ujar Netanyahu, seperti dikutip harian Yedioth Ahronoth.
Dalam tahap kedua rencana Trump, penarikan pasukan Israel dari sebagian besar wilayah Gaza dan proses rekonstruksi direncanakan berjalan bersamaan dengan proses pelucutan senjata faksi-faksi Palestina dimulai.
Menurut harian tersebut, pernyataan Netanyahu muncul di tengah laporan bahwa Board of Peace bentukan Trump berencana melanjutkan proses rekonstruksi di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel tanpa mengaitkannya dengan pelucutan senjata Hamas.
Sejak Oktober 2023, militer Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 orang dan melukai lebih dari 173.000 lainnya dalam agresi brutal yang menyebabkan kehancuran luas terhadap sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza Palestina.
(rds)