Iran Ancam Amerika: Akan Beri Respons Menghancurkan Teroris AS!
Iran mengultimatum akan memberikan "respons yang menghancurkan" terhadap serangan terbaru Amerika Serikat ke selatan negaranya pada Selasa (7/7) malam waktu setempat.
Serangan terbaru AS ini berlangsung di saat kedua negara sedang gencatan senjata dan telah meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang.
Markas Pusat Khatam Al Anbiya menuturkan militer Iran akan memberikan balasan yang "menghancurkan" terhadap "agresi dan tindakan teroris" AS.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan memberikan respons yang menghancurkan terhadap agresi dan tindakan teroris Amerika Serikat," kata Komando Gabungan Tertinggi Militer Iran itu sebagaimana dikutip stasiun televisi pemerintah IRIB.
Khatam Al Anbiya menambahkan Iran "dalam keadaan apa pun tidak akan mengizinkan campur tangan dalam urusan maupun pengelolaan Selat Hormuz."
Komando itu juga menegaskan bahwa "satu-satunya jalur yang aman" bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz adalah rute yang telah ditetapkan oleh Iran.
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan pihaknya melancarkan "serangan besar terhadap Iran untuk memberikan konsekuensi yang berat atas penargetan dan serangan terhadap kapal-kapal komersial" di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
Serangan Iran di Selat Hormuz dan serangan terbaru AS ini berlangsung kala kedua negara tengah gencatan senjata dan sudah meneken nota kesepahaman (MoU) guna mengakhiri perang.
Sejumlah video yang berhasil diverifikasi lokasi pengambilannya oleh CNN menunjukkan ledakan dan kobaran api besar di kota pelabuhan Bandar Abbas, pelabuhan Sirik, hingga Pulau Qeshm, Iran.
Terbaru, media pemerintah Iran melaporkan ledakan juga menghantam Pulau Kharg, pusat vital ekspor minyak Teheran.
Pulau yang membentang sekitar delapan kilometer di lepas pantai Iran itu merupakan urat nadi perekonomian Teheran karena biasanya menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah negara tersebut. Para pejabat AS bahkan menyebutnya sebagai "pusat seluruh pasokan minyak Iran."
(rds)