Trump Setop Gencatan, Israel Bernafsu Siap Perang Jilid 3 Lawan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump marah dan menyetop gencatan senjata dengan Iran.
Israel bernafsu dan menyatakan siap melancarkan perang untuk ketiga kalinya dengan Iran.
AS kembali meluncurkan serangan terhadap Iran di wilayah selatan atau sekitar Selat Hormuz.
Serangan dilakukan d tengah prosesi pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran Ali Khemenei. Dan sebelumnya, Presiden Donald Trump mengakatan bahwa gencatan senjata dengan Iran sudah berakhir.
"Kita membuang-buang waktu untuk berbicara dengan mereka. Kita harus melakukan urusan kita sendiri," ujar Trump saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Turki, melansir AFP.
Pernyataan tersebut disambut positif Israel. Dikutip dari media Arab berbahasa Inggris Asharq Al Awsat, seorang juru bicara militer di Tel Aviv mengatakan pada hari Rabu (7/7) bahwa tentara Israel dalam keadaan siaga tinggi dan siap bergabung dalam perang bersama militer AS melawan Iran segera setelah menerima perintah dari pemerintah.
Situs berita Walla mengatakan bahwa persiapan telah dilakukan sejak hari pertama gencatan senjata karena Israel tidak mempercayai janji-janji Iran dan menganggapnya hanya sebagai manuver belaka.
"Kepemimpinan Iran, yang mabuk oleh kemenangan yang dibayangkan, tidak membuat perhitungan bertanggung jawab yang dibutuhkan oleh pemerintah mana pun sebelum berperang. Mereka bertindak arogan, seolah-olah mereka memenangkan perang, dan mencoba memeras Amerika Serikat," tambah juru bicara militer itu, seraya mencatat bahwa Israel memperkirakan kesabaran Presiden AS Donald Trump terhadap Teheran akan habis.
Walla juga mengatakan bahwa tentara Israel tetap menjalin kontak erat dengan Komando Pusat AS (Central Commando/CENTCOM) untuk membahas apa yang mereka sebut sebagai kemungkinan besar dimulainya kembali perang.
Tel Aviv meninjau pengalaman dari dua perang sebelumnya pada Juni 2025 dan Februari 2026 dan mengambil pelajaran dari perang tersebut untuk meningkatkan kinerja dan mempersiapkan target baru untuk perang ketiga yang dianggap Israel sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.
Pertemuan koordinasi terbaru antara kedua komando tersebut diadakan pada akhir pekan lalu sebagai persiapan untuk skenario di mana konfrontasi kembali terjadi.
Tindakan Iran menjadi agenda utama kunjungan yang dijadwalkan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Rabu (8/7) sebelum kunjungan tersebut dibatalkan pada menit terakhir, menyebabkan rasa malu besar di Tel Aviv.
Sebuah sumber politik senior yang dekat dengan Netanyahu mengatakan bahwa Hegseth dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mitranya, Menteri Pertahanan Israel Katz.
Menurut sumber-sumber tersebut, salah satu tujuan kunjungan itu adalah untuk menenangkan kekhawatiran Israel atas kemungkinan penjualan jet tempur siluman canggih F-35 ke Turki. Israel sangat prihatin dengan langkah tersebut, dan beberapa pejabat telah mulai memobilisasi tekanan di Kongres untuk memblokir persetujuannya.
Channel 12 Israel melaporkan, badan keamanan Israel memperingatkan bahwa kepemilikan jet tempur siluman canggih AS oleh Turki, yaitu F-35, dapat membahayakan apa yang digambarkan Tel Aviv sebagai "keunggulan kualitatif" angkatan udara Israel di Timur Tengah. Hal itu juga bisa membatasi kemampuannya untuk beroperasi di wilayah yang dianggap Israel sebagai pusat perhatian, termasuk Iran, Suriah, Lebanon, dan wilayah Mediterania timur yang lebih luas.
Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Netanyahu mengatakan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan "bukanlah sekutu teladan bagi Amerika Serikat," menambahkan bahwa ia "mengancam akan menghancurkan negara saya, satu-satunya negara Yahudi," menurut Netanyahu.
Israel saat ini adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang mengoperasikan pesawat F-35, jet tempur tercanggih dalam persenjataan AS.
Sebuah laporan oleh Yedioth Ahronoth pada hari Rabu mengatakan bahwa gesekan antara Israel dan Turki tidak lagi terbatas pada perselisihan politik atau retorika, dan kini meluas ke empat bidang utama yang menjadi perhatian lembaga keamanan Israel.
(imf/bac)