Korut Tuding NATO Kian Agresif Usai KTT, Janji Perkuat Senjata Nuklir
Korea Utara mengecam Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya setelah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO pekan ini.
Korea Utara menilai aliansi militer tersebut semakin memperkuat blok pertahanan dan mempercepat perlombaan senjata yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.
Kementerian Luar Negeri Korea Utara, melalui kantor berita resmi KCNA, menuduh para pemimpin NATO menggambarkan pelaksanaan hak kedaulatan Pyongyang sebagai ancaman.
Menurut Korea Utara, hasil KTT NATO justru menunjukkan komitmen yang lebih kuat terhadap konfrontasi antarblok melalui peningkatan belanja pertahanan dan kerja sama militer yang lebih erat dengan negara-negara mitra di kawasan Asia-Pasifik.
Pernyataan itu disampaikan setelah KTT NATO di Turki pada Selasa (7/7), yang menghasilkan lebih dari US$50 miliar atau sekitar Rp904,02 triliun (asumsi kurs Rp18.080 per dolar AS) dalam kesepakatan pengadaan alat pertahanan dan kerja sama industri militer.
Komitmen tersebut muncul di tengah dorongan Presiden AS Donald Trump agar negara-negara Eropa meningkatkan kontribusi mereka terhadap pembiayaan pertahanan NATO.
Pyongyang juga menyoroti pernyataan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang disampaikan di sela-sela KTT. Lee menyatakan, Seoul ingin memperluas kerja sama dengan negara-negara NATO, termasuk di bidang riset dan pengembangan teknologi canggih serta produksi sistem persenjataan.
Korea Utara menilai langkah tersebut mempertegas bahwa NATO kini berorientasi pada konfrontasi dan perang, serta lebih mengutamakan kepentingan geopolitik tertentu dibanding menjaga perdamaian dan keamanan di Eropa maupun kawasan Asia-Pasifik.
Dalam pernyataannya, Pyongyang kembali menegaskan bahwa desakan negara-negara Barat agar Korea Utara meninggalkan program senjata nuklir sudah tidak lagi relevan.
Sebaliknya, Korea Utara berpendapat upaya denuklirisasi seharusnya lebih dulu diarahkan kepada apa yang mereka sebut sebagai ambisi Korea Selatan dan Jepang untuk memperkuat kemampuan nuklir di bawah perlindungan AS, serta keterlibatan sejumlah anggota NATO dalam skema nuclear sharing atau berbagi senjata nuklir.
Pyongyang menegaskan akan terus menjaga kedaulatan dan kepentingan keamanannya melalui pelaksanaan hak-hak berdaulat yang mereka sebut bertanggung jawab.
Sebelumnya, KCNA juga melaporkan Korea Utara telah memutuskan mengambil langkah untuk memperkuat kemampuan nuklirnya, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Kebijakan itu sejalan dengan arahan pemimpin Kim Jong Un yang terus mendorong modernisasi kekuatan militer negara tersebut.
(del/asr)