Sheikh Hamad Wafat, Pemimpin Qatar Pernah Setop Blokade Israel di Gaza

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 19:00 WIB
Mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, meninggal dunia pada Minggu (12/7) di usia 74 tahun. (REUTERS/B Mathur)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, meninggal dunia pada Minggu (12/7) di usia 74 tahun.

Kepergiannya meninggalkan kenangan penting bagi rakyat Palestina, karena Sheikh Hamad merupakan pembela hak-hak Palestina yang pernah berhasil mematahkan blokade Israel di Jalur Gaza.

Pada Oktober 2012, Sheikh Hamad mengunjungi Gaza yang dilanda konflik. Perjalanan itu dilakukan enam tahun setelah Israel memberlakukan blokade internasional yang melumpuhkan wilayah tersebut, menyusul pemilihan umum (pemilu) Palestina pada 2006 sebelumnya.

Sheikh Hamad mengunjungi Gaza bersama istrinya, Sheikha Moza bin Nasser, dan sejumlah delegasi tingkat tinggi. Ia berhasil melewati isolasi politik yang diberlakukan oleh kekuatan Barat dan aktor regional pada wilayah tersebut. Kedatangannya justru mendapat sambutan resmi.

Kepala kantor diaspora Hamas, Khaled Meshaal, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Sheikh Hamad merupakan pemimpin Arab dan Muslim pertama yang mengunjungi Gaza dan mengakhiri pengepungan Israel terhadap wilayah tersebut.

"Dia adalah pemimpin Arab dan Muslim pertama yang mengunjungi Gaza, berdiri di sisinya dengan penuh kestariaan dan kemurahan hati, seolah-olah secara resmi mengumumkan berakhirnya blokade dalam keadaan yang paling kelam," kata Meshaal.

"Dia cerdas, berani, dan seorang pria yang berprinsip," lanjutnya.

Ahmed Al Sheikh, seorang jurnalis senior, pengamat Arab, dan mantan direktur berita di saluran Al Jazeera Arabic, mengatakan bahwa Sheikh Hamad merupakan sosok dengan "cinta khusus terhadap Palestina".

"Apakah ada pemimpin lain di dunia Arab yang pernah melakukan hal itu (kunjungan ke Gaza), selain Hamad bin Khalifa?" ujarnya.

"Mengapa dia pergi ke Gaza? Karena dia melihat bahwa semua orang di sekitar Gaza mengabaikan wilayah tersebut," tambahnya.

Selama kunjungan bersejarah itu, Sheikh Hamad juga mengumumkan penambahan hibah rekonstruksi dari Qatar untuk Gaza dari $254 juta menjadi $400 juta.

Keputusannya menjadi dasar bagi pembangunan proyek-proyek perumahan, infrastruktur, dan perawatan kesehatan yang amat bermanfaat bagi ribuan warga Palestina.

Saat berpidato di Universitas Islam Gaza, Sheikh Hamad memuji ketahanan rakyat Palestina sekaligus mengkritik standar ganda komunitas internasional.

Komitmennya terhadap perjuangan Palestina sudah terpatri sejak 1999 atau sebelum blokade, karena di tahun itu ia menjadi pemimpin Teluk pertama yang mengunjungi Palestina sejak 1967.

Sang Emir, menurut Al Sheikh, memandang Palestina secara sangat personal. Ia sangat sedih ketika mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon mengepung markas Arafat di Ramallah, dan menganggapnya sebagai serangan terhadap Qatar.

Ikatannya dengan Palestina juga dibarengi rasa penyesalannya karena belum pernah mengunjungi Yerusalem sebelum pendudukan pada 1967. Menurut Al Sheikh, hal itu mendorongnya memesan pembuatan film dokumenter berdurasi tiga jam mengenai kota suci tersebut. Ia ingin mengabadikan sejarah dan identitasnya.

Sikap solidaritasnya dengan Palestina ini seringkali membuatnya berselisih dengan konsensus regional.

Selama perang Israel di Gaza pada 2008-2009, muncul perpecahan mendalam di antara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengenai cara menanggapi krisis tersebut.

Sheikh Hamad menyerukan diadakannya konferensi tingkat tinggi (KTT) Arab darurat di Doha, dan mengusulkan dana rekonstruksi sebesar 250 juta dolar AS serta koridor maritim untuk melewati blokade.

Ia juga terkenal karena mengungkapkan kekecewaan di siaran langsung televisi mengenai kurangnya kuorum Arab untuk pertemuan darurat tersebut.

Beberapa proyek infrastruktur terpenting di Gaza sebelum agresi Israel pada Oktober 2023 merupakan hasil dari janji keuangan yang dibuat oleh Sheikh Hamad.

Qatar mendanai rehabilitasi jalan raya vital dan proyek unggulan Sheikh Hamad City di Khan Younis, sebuah proyek perumahan publik senilai 58 juta dolar dengan 53 gedung apartemen modern untuk ribuan keluarga berpenghasilan rendah.

Selain itu, Rumah Sakit Sheikh Hamad untuk Rehabilitasi dan Postetik, yang resmi dibuka pada April 2019, menjadi fasilitasi utama di wilayah tersebut untuk para penyandang amputasi dan anam-anak dengan gangguan pendengaran.

Citra satelit pada Mei lalu menunjukkan Sheikh Hamad City dan daerah lain di Gaza selatan telah lenyap buntut serangan Israel di wilayah tersebut.

Namun, rumah sakitnya berhasil melanjutkan operasi pada Desember lalu, meskipun kekurangan alat dan obat karena mengalami serangan langsung.

Rumah sakit ini jadi satu-satunya yang mengoperasikan CT Scan di Gaza utara.

Operasi berkelanjutan Rumah Sakit Sheikh Hamad selama genosida oleh Israel menjadi peninggalan nyata dari upaya luar biasa mendiang di wilayah tersebut. Dukungannya untuk Gaza akan tetap dikenang oleh generasi mendatang.

(blq/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK