Massa Garis Keras Iran Diklaim Ngamuk Timpuk Menlu Araghchi, Ada Apa?

CNN Indonesia
Sabtu, 18 Jul 2026 20:30 WIB
Menku Iran Abbas Araghchi (tengah) sempat dilempari batu oleh kelompok garis keras Iran saat pemakaman Ali Khamenei. (AFP/URS FLUEELER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Massa garis keras Iran dikabarkan mengamuk ke pejabat pemerintahan Teheran saat upacara penghormatan jenazah mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada awal Juli lalu.

Mereka menuduh pemerintahan Iran saat ini mencoba melakukan "kudeta perlahan" di tengah perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dikabarkan jadi salah satu sasaran amukan kelompok garis keras Iran. Ia dilempari batu saat berada di kerumunan tersebut.

Araghchi kemudian melarikan diri dari pemakaman setelah massa melemparinya dengan batu di tengah teriakan yang menuduhnya sebagai "pengkhianat yang menjual diri."

Diplomat senior itu merupakan salah satu utusan Iran bersama dengan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang menjadi negosiator antara Teheran dan Amerika Serikat.

Araghchi ditunjuk Presiden Masoud Pezeshkian sebagai salah satu negosiator Iran. Pezeshkian juga jadi sasaran kemarahan kelompok garis keras Iran.

Saat Pezeshkian berjalan di samping peti jenazah Ali Khamenei di Teheran pekan lalu, beberapa pelayat yang mengenakan pakaian hitam di sekitarnya meneriakkan bukan sebagai penghormatan kepada mendiang pemimpin, tetapi "matilah si pengkhianat" kepada Pezeshkian.

Insiden ini disebut kembali menguak friksi di antara kekuatan dan kelompok di Iran di tengah perang dengan AS, dikuti[ dari CNN.

Kelompok garis keras menganggap para pemimpin Iran yang menegosiasikan dan menandatangani perjanjian dengan Washington sedang melakukan kudeta lunak terhadap Republik Islam dan cita-cita revolusionernya.

Di pihak lain Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei tetap tidak terlihat terkait alasan keamanan atau, seperti yang disarankan beberapa orang, karena ia tidak mampu menjalankan tugasnya.

Kelompok garis keras menuduh kepemimpinan Iran yang menjalankan pemerintahan saat Khamenei tak muncul, bersekongkol untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dengan menangguhkan parlemen, menentang perintahnya dalam negosiasi, dan berupaya membubarkan demonstrasi jalanan malam hari yang telah menjadi basis kekuatan yang ampuh bagi kaum fundamentalis.

"Peringatan kepada rakyat Iran: Apakah kudeta akan segera terjadi??" tanya Mahmoud Nabavian, seorang anggota parlemen radikal yang vokal, pada beberapa hari sebelum pemakaman Khamenei.

"Pada saat-saat perpisahan dengan Imam yang gugur (Khamenei), kita mengibarkan panji pembalasan atas darahnya dan berdiri teguh melawan kudeta," tulisnya beberapa hari kemudian.

Di tengah absennya Mojtaba, kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf, Pezeshkian, dan Araghchi telah menjadi wajah-wajah yang paling terlihat yang bertanggung jawab atas Iran pasca-perang.

Ahli Iran Arash Azizi menyebut kelompok garis keras menuduh mereka merencanakan kudeta dengan memutus akses ke Pemimpin Tertinggi yang baru

"Ketidakhadiran Mojtaba yang berkelanjutan berarti mereka tidak memiliki akses kepadanya dan juga bahwa Ghalibaf dan sekutunya secara efektif memegang kendali negara. Kelompok garis keras ekstrem dengan demikian menuduh Ghalibaf dan Pezeshkian merencanakan 'kudeta' terhadap Mojtaba," kata Azizi.

(bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK