Trump Diduga Jual Akses Medsos Prioritas yang Picu Kecaman Etika
Perusahaan media sosial Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan tarif US$100.000, atau setara Rp1,8 miliar (kurs Rp18.041), per bulan untuk akses prioritas ke unggahan media sosialnya.
Rencana itu memicu kekhawatiran etika besar, dengan sejumlah kritikus menyebut gagasan tersebut sebagai penghalang transparansi pemerintah dan cara bagi Trump meraup untung dari jabatannya.
Reuters pada Jumat (17/7) menyebut Trump Media and Technology Group, pemilik situs Truth Social, telah membahas pengenaan tarif tinggi kepada trader dan perusahaan keuangan untuk akses lebih awal ke unggahan Trump.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tarif kelas bawah senilai US$60.000 (sekitar Rp1,1 miliar) per bulan juga dilaporkan dibahas untuk perusahaan yang mendaftar paket tiga tahun. Surat kabar Inggris Financial Times turut melaporkan rincian serupa.
Sebagai presiden salah satu ekonomi terbesar dunia, Trump punya kekuatan menggerakkan pasar lewat pernyataannya. Ekonom menyebut komentarnya di media sosial, soal kebijakan baru seperti tarif atau konflik internasional, bisa memicu perubahan prospek keuangan global.
Kecaman pakar etika
Penolakan terhadap usulan tarif Truth Social itu datang cepat. Trump telah lama dikritik karena memanfaatkan kekuasaan jabatannya untuk keuntungan pribadi, dan pakar etika menyebut tarif apa pun sebagai ancaman bagi fungsi demokrasi AS.
"Dia menjual akses berbayar dan istimewa atas informasi soal apa yang ia lakukan sebagai presiden," kata Kathleen Clark, pakar aturan konflik kepentingan di Washington University School of Law.
Ia mengatakan kepada kantor berita Associated Press: "Ini kian menunjukkan korupsi yang terang-terangan, eksploitasi kekuasaan pemerintah yang tak pantas demi memperkaya diri sendiri."
Trump kerap menggunakan media sosial selama menjabat. Pada masa jabatan pertamanya, ia pengguna aktif platform media sosial Twitter, kini X.
Namun klaim palsunya soal pemilihan presiden 2020, serta serangan ke Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021 membuat sejumlah platform menangguhkan akunnya.
Trump merespons dengan berinvestasi di perusahaan medianya sendiri, dan kini memiliki saham dalam jumlah besar di Trump Media and Technology Group.
Truth Social adalah salah satu produk andalannya, dan ia memakai platform itu hampir secara eksklusif sejak kepergiannya dari Twitter pada 2021.
Unggahan yang gerakkan pasar
Trump kerap memakai Truth Social untuk mengumumkan berbagai hal, dari serangan ke Iran hingga perubahan kebijakan dagang.
Selama perang AS-Israel melawan Iran, unggahan media sosial Trump kerap memicu gejolak tajam di pasar energi global, yang terguncang saat Iran menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial.
Sebuah unggahan dari presiden yang mengumumkan jeda 90 hari untuk tarif baru pada 9 April 2025 turut membuat indeks keuangan melonjak tajam.
Truth API untuk trader
Trump Media and Technology Group mengumumkan, Kamis, bahwa mereka akan menawarkan feed data berbayar dan berlisensi bernama "Truth API" untuk bank dan perusahaan trading, memberi akses istimewa ke 10 akun paling berpengaruh di situs itu, dengan akun Trump sebagai yang paling menonjol.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat termasuk yang mengkritik pengumuman itu, dengan Senator Ron Wyden menyebut hal itu akan "membuat trader Wall Street kaya" bersama keluarga Trump.
(fea) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

