Cerita Spanduk Provokatif Argentina di Piala Dunia Picu Kontroversi
Bentangan spanduk para pemain Argentina "Las Malvinas son Argentinas" saat mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 masih jadi bahan perbincangan.
Sebab, sebagian pengamat dan orang merasa spanduk tersebut bernuansa politik dan provokatif. FIFA bahkan disebut seharusnya menjatuhkan peringatan hingga sanksi kepada timnas Argentina karena beberapa pemainnya membentangkan spanduk yang ditulis di kain putih dengan tinta hitam itu di lapangan sesaat setelah peluit panjang dibunyikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip Buenos Aires Times, spanduk itu memiliki arti "Kepulauan Malvinas Milik Argentina", sebuah pulau yang disengketakan kedua negara.
Ternyata, spanduk itu milik seorang suporter timnas Argentina yang menonton pertandingan itu, Santiago.
Santiago mengaku spanduk itu dibuat tanpa direncanakan sebelumnya. Idenya, kata Santiago, muncul pada hari pertandingan, Rabu (15/7) waktu setempat, ketika ia terbawa euforia pra-pertandingan. "Kami membuatnya pada hari yang sama dengan pertandingan. Kami pergi ke toko terdekat dan membeli cat murah dan kuas dengan harga kurang dari US$10 (sekitar 179 ribu)," akunya.
Proses selanjutnya pun sama-sama dilakukan secara improvisasi. Karena tidak ada kain yang tersedia, Santiago dan teman-temannya menggunakan satu-satunya benda yang ada: seprai di kamar hotel mereka. "Kami kembali ke hotel, mengambil seprai dari tempat tidur, memotongnya menjadi dua, meletakkannya di lantai, dan mengecatnya," kenangnya. "Kami menggunakan cat dan kuas yang kami beli di dekat hotel," tambahnya.
Tantangan sebenarnya muncul di gerbang stadion. Pengamanan untuk pertandingan tersebut termasuk yang paling ketat di turnamen ini. Salah satu arahanya, memblokir spanduk atau pesan apa pun yang bisa merujuk pada konflik Atlantik Selatan tahun 1982.
Menghadapi tantangan itu, Santiago berimprovisasi dengan sebuah rencana yang berisiko sekaligus efektif: melipat bendera sekecil mungkin dan menyembunyikannya di celananya agar bisa melewati pemeriksaan. Rencana itu berhasil, dan bendera tersebut masuk tanpa terdeteksi.
Bendera itu tetap tersembunyi selama 90 menit penuh, menunggu momen yang tepat dari Santiago. Begitu wasit meniup peluit akhir dan kemenangan Argentina dipastikan, dia tidak ragu-ragu, membentangkannya di pinggir lapangan, hanya beberapa meter dari tempat para pemain datang untuk menyapa para penggemar.
"Ketika saya melihat (bek sayap Gonzalo) Montiel, saya melemparkannya kepadanya dan dia menangkapnya. Dia mengopernya ke (gelandang Giovani) Lo Celso, yang pertama kali mengangkatnya," kenang Santiago. Dalam hitungan detik, beberapa pemain ikut mengangkat spanduk tersebut, menunjukkannya ke kamera dan ke tribun yang meledak dalam euforia.
Momen itu melebihi apa pun yang dia harapkan. "Ketika saya melihat Lo Celso membukanya dan rekan-rekan setimnya memegangnya di lapangan, saya merasakan kegembiraan yang tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata - bagaimana mungkin selembar kain sprei bisa berarti begitu besar bagi setiap orang Argentina," katanya, masih takjub melihat seberapa jauh gambar itu menyebar.
"Itu gila. Saya tidak pernah membayangkan bendera itu akan berkeliling dunia karena ide konyol yang kami miliki di kamar hotel," tambahnya.
Namun akibat ulahnya, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendukung usulan agar FIFA menyelidiki para pemain timnas Argentina, yang membentangkan spanduk itu. Usulan ini mulanya disuarakan oleh Menteri Perdagangan (mendag) Inggris Peter Kyle, agar FIFA menyelidiki aturan apa yang mungkin telah dilanggar oleh pemain Argentina.
"Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami. Posisi kami tidak berubah. Penentuan nasib sendiri ada di tangan penduduk pulau dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah," demikian pernyataan Inggris, dikutip The Guardian.
Kini, Santiago ingin mendapatkan kembali spanduk yang sudah bikin gempar dunia itu, setelah dibentang para pemain di Stadion Mercedes-Benz (Atlanta Stadium) di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.
Bersama pasangannya, Tamara, ia telah mencoba menghubungi skuad Argentina dan berhasil menyampaikan pesan kepada Presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), Claudio 'Chiqui' Tapia.
Cladio sudah menyampaikan pesan tersebut kepada para pemain yang kemudian dijawab, "Para pemain tidak ingin mengembalikannya," tanpa meyebutkan alasannya.
Namun yang jelas, Santiago tidak menyesal dengan aksinya. "Tidak ada yang bisa menghilangkan kebanggaan yang kami rasakan sekarang," katanya.
(imf/rds) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

