AS Disebut Krisis Rudal Perangi Iran, Kerepotan Lindungi Pasukan?
Amerika Serikat disebut-sebut tak punya cukup amunisi untuk mempertahankan perang panjang dengan Iran setelah saling tempur sejak Februari.
Peneliti senior di bidang studi pertahanan dan kebijakan luar negeri Cato Institute Katherine Thompson mengatakan potensi perang panjang AS dengan Iran akan terhambat karena stok rudal jarak jauh dan amunisi pertahanan udara menipis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu adalah faktor utama di sini. Jika ini berlanjut selama beminggu-minggu dan kemudian kita mencapai gencatan senjata, semuanya baik-baik saja,"kata Thompson, dikutip New York Post, Senin (20/7).
Dia lalu berujar, "Tapi saya rasa persediaan amunisi kita tak akan dalam kondisi baik jika ini berlanjut satu atau dua tahun lagi."
Thompson lantas menggarisbawahi serangan mematikan Iran baru-baru ini yang menyebabkan dua anggota militer AS tewas.
AS, lanjut dia, menghadapi tantangan logistik untuk melindungi sekitar 50.000 pasukan mereka di Timur Tengah.
Thompson juga menyoroti jumlah pasukan AS yang berlebih dan kini justru balik menjadi bebas Negeri Paman Sam.
"Ini menunjukkan dampaknya ke persediaan kita yang digunakan untuk melindungi kehadiran tersebut, karena serangan balasan masih terus terjadi dengan kecepatan yang mengkhawaitrkan," ujar dia.
Pakar itu juga mencatat sebagian besar rudal AS yang digunakan untuk meluncurkan serangan ke Iran selama enam hari pertama, yang diklaim Trump berhasil merontokkan sistem persenjataan Teheran.
Lihat Juga : |
Namun, Iran justru menunjukkan pertahanan mereka dengan terus membalas gempuran AS.
"Ternyata, Iran masih punya akses ke rudal dan drone. Serangan balasan [Iran] tidak akan besar di hari-hari awal perang, tetapi mereka menunjukkan kemampuan untuk terus menyerang," ujar Thompson.
Sebetulnya, sejak beberapa bulan lalu, para pakar sudah mewanti-wanti pemerintahan Donald Trump soal stok rudal pencegat selama perang dengan Iran.
Lembaga kajian Center for Strategic and International Studies di Washington mencatat AS sudah menggunakan lebih dari 3.000 rudal Tomahwk, Patriot, dan JASSM, untuk menggempur Iran sebelum perang saat ini.
AS juga sudah menghabiskan ratusan senjata canggih lain termasuk sistem pertahanan anti rudal, THAAD. Sebagian besar persediaan dilaporkan tidak akan kembali ke tingkat sebelum perang hingga akhir dekade ini.
Menanggapi persediaan senjata itu, pemerintah menegaskan AS masih punya stok yang cukup untuk melancarkan perang panjang dengan Iran.
"Kami sudah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS Sean Parnell.
(isa/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


