Rubio Depan Menlu ASEAN: Iran Tak Serius Negosiasi & Bahayakan Hormuz
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan di depan para Menlu negara-negara ASEAN mengenai kondisi perang dengan Iran di Timur Tengah.
Rubio mengatakan bahwa Iran tidak serius melakukan negosiasi dengan AS untuk menghentikan perang. Ia juga menekankan bahwa Iran membahayakan Selat Hormuz karena ambisi mereka untuk menguasai jalur penting minyak dunia itu.
"Amerika Serikat tetap terbuka dan bersedia untuk terlibat dalam negosiasi dan diskusi yang positif dan konstruktif, asalkan komitmen yang telah dibuat dihormati," kata Rubio tentang Iran pada pertemuan Menlu ASEAN di Manila pada Rabu, dikutip dari Al Jazeera.
"Masalah yang kita hadapi saat ini adalah mereka tidak serius dalam berdialog. Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, maka kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan juga kepentingan sekutu kami," tambahnya di ibu kota Filipina.
Rubio kemudian mengingatkan betapa bahayanya jika Iran mengendalikan Selat Hormuz bagi pasokan sumber energi dunia.
"Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah di mana sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur air internasional, mengenakan biaya tol, dan meledakkan kapal Anda jika Anda tidak membayar, kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya yang akan terulang di bagian lain dunia, termasuk kawasan ini (Asia Tenggara)," kata Rubio, dikutip dari Channel News Asia.
"Pada intinya, ini sangat sederhana. Iran menuntut hak-yang tidak mereka miliki berdasarkan mekanisme hukum untuk mengendalikan lalu lintas melalui Selat Hormuz. Ada prinsip mendasar tentang kebebasan navigasi yang terancam. Hal itu tidak boleh dibiarkan terjadi," ia menambahkan.
Rubio juga bertemu melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu China Wang Yi setelah menghadiri forum Menlu ASEAN di Manila.
Sebelumnya, para Menlu ASEAN menyampaikan kekhawatiran dan keprihatinan serius atas perang AS dan Iran yang tak kunjung selesai sehingga berakibat pada penutupan Selat Hormuz.
ASEAN disebut jadi pihak yang terpukul atas penutupan Selat Hormuz karena negara-negara itu memiliki ketergantungan hingga 60 persen atas jalur penting tersebut.
"Kami sangat prihatin bahwa perkembangan ini sangat melemahkan upaya yang sedang dilakukan oleh para mediator utama dan mengurangi prospek penyelesaian damai melalui dialog dan diplomasi," demikian pernyataan bersama para Menlu ASEAN dalam sebuah pernyataan bersama.
Negara-negara di Asia menjadi yang paling terpukul karena penutupan total Selat Hormuz oleh Iran, jalur penting bagi sekitar 60 persen pasokan energi kawasan tersebut.
(bac/bac)