AS Teken Kerja Sama Nuklir dengan Saingan Israel, Apa Kata Netanyahu?

CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 09:25 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu attends a session at the Knesset, Israel's parliament, before it dissolves ahead of the 2026 Israeli elections, in Jerusalem, July 16, 2026. REUTERS/Ronen Zvulun
Tanggapan PM Israel Benjamin Netanyahu menjadi sorotan menyusul kesepakatan yang baru diteken AS dan Arab Saudi untuk mengembangkan nuklir. (Foto: REUTERS/Ronen Zvulun)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejauh ini belum memberikan tanggapan resmi atas kesepakatan yang baru diteken Amerika Serikat dan Arab Saudi untuk mengembangkan nuklir.

Namun, sejumlah politikus lawan Netanyahu hingga mantan pejabat Israel ramai-ramai mengkritik keras kesepakatan AS, sekutu dekat Israel, dengan Saudi, saingannya di kawasan, itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para lawan politik Netanyahu melontarkan kritik keras dan menilai perjanjian AS-Saudi tersebut sebagai sebuah bencana strategis.

Melalui kicauan di X, Mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman, yang juga merupakan pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, menilai program nuklir sipil untuk Arab Saudi "pada akhirnya akan berujung pada kepemilikan senjata nuklir dan memicu perlombaan senjata yang tak terkendali di seluruh Timur Tengah."

Sementara itu, Ketua Partai Demokrat Israel, Yair Golan, mengatakan kesepakatan tersebut menciptakan "realitas yang berbahaya" bagi Israel. Seorang purnawirawan jenderal militer itu menuduh Netanyahu telah mencapai "sesuatu yang mustahil".

"Ia sekaligus kehilangan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memungkinkan negara itu memperoleh kemampuan nuklir," ujarnya seperti dikutip CNN.

Peneliti senior di Institute for National Security Studies (INSS), Yoel Guzansky, mengatakan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, kerja sama nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi secara langsung dikaitkan dengan proses normalisasi hubungan Riyadh dengan Israel.

"Serangan 7 Oktober 2023 Israel ke Jalur Gaza dan agresi yang menyusul setelahnya menghilangkan prospek normalisasi, karena Arab Saudi justru menjadi semakin keras terhadap Israel," kata Guzansky kepada CNN.

Ia menambahkan bahwa dengan pemerintahan sayap kanan Israel saat ini, pada dasarnya tidak ada kondisi politik yang memungkinkan normalisasi tersebut terwujud.

"Bagi Arab Saudi, ini adalah situasi yang sama-sama menguntungkan. Mereka mendapatkan program nuklir tanpa harus memberikan imbalan apa pun," ujar Guzansky.

Guzansky juga menilai kesepakatan itu membawa risiko proliferasi nuklir yang berbahaya dan berpotensi menciptakan "model Saudi", yakni preseden yang dapat dijadikan acuan oleh negara-negara lain di kawasan untuk menuntut kesepakatan serupa.

Menurutnya, Israel kemungkinan tidak dapat menghentikan perjanjian tersebut, "tetapi dapat berupaya memperbaikinya melalui Kongres. Masih ada ruang untuk penyempurnaan, misalnya dalam hal mekanisme pengawasan dan inspeksi."

AS dan Saudi resmi meneken kerja sama pengembangan nuklir pada Rabu. Meski detail resmi dokumen kerja sama belum dirilis, sejumlah laporan media AS menyebutkan kesepakatan ini memberikan kesempatan perusahaan AS untuk mengembangkan nuklir sipil hingga membangun situs pengayaan uranium di Saudi.

Kesepakatan ini dilakukan di tengah perang AS vs Iran yang kembali memanas. Salah satu tujuan perang AS melawan Iran adalah agar bisa melucuti senjata nuklir Iran.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]