Timur Tengah Makin Chaos! Houthi Rudal 2 Kapal Tanker Saudi

tim | CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 12:10 WIB
Kelompok milisi Houthi Yaman mengeklaim telah melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Ilustrasi. (Foto: AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok milisi Houthi Yaman mengeklaim telah melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan tersebut diluncurkan karena kedua kapal melanggar blokade yang dijalankan Houthi. Bentrokan ini berlangsung kala perang antara Amerika Serikat vs Iran juga kembali memanas.

"Kami menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi bernama Encelia dan Layla karena pelanggaran mereka terhadap keputusan blokade yang dikeluarkan angkatan bersenjata," kata Saree pada Rabu (22/7), seperti dikutip Al Jazeera.

Saree menyampaikan serangan tersebut melibatkan sejumlah rudal balistik, rudal jelajah, serta drone, hingga mengakibatkan kebakaran pada kapal-kapal tersebut.

Saudi Press Agency (SPA) telah mengonfirmasi serangan ini dengan menyebut kapal Encelia menjadi korban gempuran. Meski begitu, seluruh awak kapal selamat.

"Serangan-serangan ini merupakan pelanggaran terhadap hukum dan konvensi internasional yang menjamin keselamatan kapal komersial dan awaknya," demikian lapor SPA, mengutip sumber resmi dari Otoritas Transportasi Umum Arab Saudi.

SPA tidak melaporkan tentang serangan pada kapal Layla.

Badan Keamanan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO) sekitar waktu yang sama juga melaporkan bahwa sebuah kapal tanker telah terkena hantaman proyektil dan terbakar.

"Kapten sebuah kapal tanker melaporkan telah terkena proyektil tak dikenal yang mengakibatkan kebakaran di atas kapal yang saat ini sedang dipadamkan oleh awak kapal," demikian pernyataan UKMTO.

Houthi dan Saudi kembali panas usai pemerintah Yaman yang didukung Saudi mengebom bandara Sanaa yang dikuasai Houthi pada 13 Juli lalu.

Pemerintah Yaman mengeklaim serangan tersebut untuk mencegah pesawat Iran mendarat di Yaman karena melanggar kedaulatan negara itu. Penerbangan ke Sanaa sendiri umumnya hanya berasal dari Amman, Yordania, dan Kairo, Mesir.

Houthi marah atas serangan itu dan menuduh Saudi dalang di baliknya. Pasalnya, pesawat Iran dimaksud membawa para pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Pada 20 Juli, Houthi pun memberlakukan blokade maritim terhadap Saudi yang didasarkan pada prinsip 'mata ganti mata'.

Houthi menyebut Saudi telah memberlakukan "pengepungan yang tidak adil dan menindas" selama hampir 12 tahun dan "menjarah sumber daya kami serta memberlakukan blokade menyeluruh pada pelabuhan dan bandara kami di darat, laut, dan udara."

Riyadh telah membantah melakukan pengepungan terhadap rakyat Sanaa.

Sejak Iran berupaya menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, Laut Merah menjadi jalur utama ekspor minyak Saudi. Sekitar 4,5 juta barel minyak dikirim melalui Pipa Timur-Baratnya per hari.

Menurut Hussain jurnalis yang berbasis di Sanaa, Al Bukhaiti, tujuan utama blokade laut Houthi terhadap Saudi, yakni "untuk memaksa Riyadh mencabut embargo terhadap pelabuhan dan bandara yang dikendalikan" kelompok tersebut.

(rds/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK