Digosipkan Cekcok soal Iran, Trump Ngaku Sangat Happy dengan Menhan AS

CNN Indonesia
Jumat, 07 Agu 2026 11:20 WIB
Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya "sangat bahagia" dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth (kanan). (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya "sangat bahagia" dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Kamis (6/8).

Ungkapan itu diutarakan Trump menyusul laporan bahwa ia dan Hegseth bersitegang imbas persoalan perang AS di Iran.

Trump membantah pemberitaan yang menyebut dirinya kecewa terhadap Hegseth terkait kebocoran informasi soal persediaan amunisi AS.

Sejumlah media AS, mengutip beberapa pejabat Gedung Putih, melaporkan bahwa pasokan amunisi seperti rudal AS menipis imbas jor-joran dipakai memerangi Iran sejak hampir enam bulan terakhir.

"Saya sangat bahagia dengan pekerjaan yang dilakukan Pete Hegseth. Semuanya luar biasa, termasuk serangan kami terhadap Venezuela, di mana hasilnya tercapai dalam waktu kurang dari satu hari, sehingga memungkinkan kami membawa salah satu penjahat terburuk di dunia, Nicolas Maduro, ke pengadilan!" tulis Trump di Truth Social seperti dikutip CNN.

"Begitu pula dengan Iran, di mana negara tersebut telah dihancurkan dengan tujuan MEMASTIKAN NEGARA ITU TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR, semuanya berjalan sangat baik!" tambah Trump.

Trump bahkan memuji Hegseth sebagai sosok yang "sangat dihormati."

Seorang sumber mengatakan kepada Washington Post yang dirilis pada Rabu (5/8) bahwa Trump bertengkar dengan Hegseth pada Jumat (31/7) lalu saat rapat kabinet di Camp David.

Trump disebut marah kepada Hegseth karena ia tidak tahu-menahu tentang masalah stok amunisi menipis yang berpotensi membatasi manuver militer AS di Iran.

Trump mengatakan bahwa ia mengira masalah amunisi "sudah diselesaikan" dan karena fakta ini, ia merasa telah disesatkan.

Menurut Washington Post, masalah amunisi AS ini tampaknya menjadi salah satu alasan Trump batal melancarkan serangan terhadap Iran yang ia sebut "serangan terbesar sejak Perang Dunia II". Serangan itu mestinya dilakukan akhir pekan lalu.

Washington Post menemukan bahwa pada bulan pertama AS berperang dengan Iran, lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dan lebih dari 1.000 rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) telah ditembakkan. Setidaknya 1.300 rudal balistik taktis juga telah dikerahkan.

Pada Selasa (4/8), Reuters melaporkan bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan "hampir seluruh" persediaan rudal jarak jauhnya untuk melawan Iran.

Amunisi jarak jauh ini memungkinkan militer untuk melakukan serangan akurat dari jarak aman.

Trump membantah AS kekurangan stok amunisi gara-gara memerangi Iran. Ia memamerkan bahwa AS justru kelimpahan stok amunisi dan alutsista lainnya, terutama untuk jenis-jenis tertentu.

"Selain itu, sejumlah besar amunisi sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan pertahanan sedang membangun pabrik dan fasilitas produksi terbesar dalam sejarah negara kita," kata Trump, seperti dikutip Anadolu Agency.

Meski begitu, Trump mengakui persediaan amunisi tertentu berada dalam kondisi yang lebih "ketat", sembari menambahkan bahwa terdapat "pasokan senjata yang secara virtual tidak terbatas" untuk senjata-senjata yang kurang canggih.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK