Terbongkar Istri Netanyahu Digugat Gegara Sering Kasar & Hina Staf ART

CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 19:30 WIB
Istri PM Israel Benjamin Netanyahu, Sara Netanyahu, telah menghadapi tuduhan kekerasan terhadap staf rumah tangga, jelang pemilu pada Oktober mendatang. (Foto: Getty Images via AFP/CHIP SOMODEVILLA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Istri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Sara Netanyahu, telah menghadapi tuduhan kekerasan terhadap staf rumah tangga, jelang pemilihan umum pada Oktober mendatang.

Laporan Anadolu Agency memaparkan Sara dituduh berteriak, menghina, dan memperlakukan staf rumah tangga secara buruk di kediaman perdana menteri selama lebih dari 25 tahun.

Sementara itu, Harian Yedioth Ahronoth melaporkan telah menelaah puluhan kesaksian dan gugatan yang melibatkan mantan pegawai, dengan tuduhan yang berkisar dari kekerasan verbal dan penghinaan hingga tuntutan kerja yang berlebihan.

Sejumlah tuduhan berujung pada putusan pengadilan yang memberikan kompensasi kepada para pekerja, sementara kasus lainnya diselesaikan melalui kesepakatan atau ditolak.

Sara Netanyahu dan pengacaranya berulang kali membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai bagian dari "kampanye media" dan upaya untuk memeras uang negara.

Salah satu tuduhan terbaru datang dari Yehiel Ohav Ami, 61 tahun, yang bekerja di kediaman perdana menteri selama setahun terakhir. Ia membenarkan bahwa dirinya "menjadi sasaran teriakan, penghinaan, dan perlakuan merendahkan, serta pernah diperintahkan untuk membersihkan lantai dapur sambil merangkak."

Ia juga mengatakan bahwa Sara Netanyahu pernah mendoakannya terkena kanker dan meninggal dunia. Setelah menuduhnya mengidap autisme, Sara disebut mengatakan kepadanya: "Saya adalah psikiater nomor satu di negara ini, dan tidak ada yang bisa menandingi saya."

Kantor Netanyahu menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "upaya lain untuk merekayasa pemerasan uang dari negara dengan mencemarkan nama baik istri perdana menteri."

Sara juga menggugat Ami dengan tuduhan bahwa ia secara ilegal memotret kediaman perdana menteri dan melanggar privasinya.

Surat kabar tersebut juga mengutip kasus Meni Naftali, mantan manajer kediaman perdana menteri yang menggugat kantor Netanyahu terkait kondisi kerjanya.

Pada Februari 2016, Pengadilan Ketenagakerjaan Regional Yerusalem memerintahkan pembayaran kompensasi sebesar 170.000 shekel (Rp1 miliar) kepada Naftali yang mengalami kondisi kerja yang buruk di kediaman tersebut akibat perilaku Sara Netanyahu terhadap para pegawai.

Putusan itu dijatuhkan terhadap negara dan pihak-pihak lain yang menjadi tergugat dalam perkara tersebut, bukan terhadap Sara secara pribadi.

Dalam kasus lainnya, pekerja pemeliharaan Guy Eliyahu menerima kompensasi pada 2016 setelah pengadilan mengabulkan sebagian besar gugatannya yang menyatakan bahwa ia bekerja dalam lingkungan yang dipenuhi ketakutan, teriakan, teguran, dan penghinaan.

Eliyahu mengatakan bahwa ia pernah dipaksa kembali ke kediaman PM setelah tengah malam hanya untuk memanaskan semangkuk sup bagi Sara Netanyahu. Pada kesempatan lain, ia mengatakan harus kembali hanya untuk mengucapkan "selamat malam" kepadanya. Ia juga mengatakan bahwa dirinya terkadang bekerja hingga 19 jam sehari.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK