Iran Bantah Selat Hormuz Ada di Bawah Kendali AS

CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 08:43 WIB
A map showing the Strait of Hormuz and Iran is seen behind a 3D printed miniature of U.S. President Donald Trump in this illustration taken June 22, 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Ilustrasi. Iran bantah klaim Trump yang menyebut Selat Hormuz ada di bawah kendali militer AS. Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta, CNN Indonesia --

Komandan paramiliter Basij menyatakan Selat Hormuz tetap berada "di bawah kendali dan pengelolaan Iran", membantah pernyataan Presiden Donald Trump yang mengeklaim bahwa Amerika Serikat memegang "kendali penuh" atas perairan itu.

"Hari ini Anda melihat bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam (Iran), dan negara kami terus melangkah dalam kondisi keamanan penuh," kata Hojjatoleslam Hossein Taeb dalam pernyataannya pada Kamis (13/8).

"Pihak Amerika telah menyaksikan kekuatan revolusi kami," imbuhnya, seperti dilansir Al Jazeera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan itu muncul sehari usai Trump menyatakan AS memegang "kendali penuh" atas jalur perairan strategis tersebut.

Dalam pernyataan terpisah, komando militer gabungan Iran, Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya menyatakan tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran.

"Klaim tak berdasar yang dilontarkan AS mengenai pelayaran normal kapal-kapal melalui Selat Hormuz, tidak lain hanyalah kebohongan dan kepalsuan belaka," demikian bunyi pernyataan komando tersebut.

Pejabat senior urusan politik militer, Rasoul Sanaei-Rad, mengatakan bahwa Iran tidak akan membuka kembali selat tersebut kecuali AS memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang.

Sanaei-Rad juga memperingatkan bahwa Iran akan merespons dengan keras dalam konflik apa pun di masa depan.

"Dalam kemungkinan perang di masa depan, kami akan bersikap lebih tegas dan lebih ofensif," ujarnya.

Pada Juni lalu, kedua negara mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berlaku sejak April, serta menyerukan pemulihan segera kebebasan navigasi di kawasan Teluk.

Kesepakatan itu kandas beberapa minggu kemudian, usai Iran kembali melancarkan serangan terbatas terhadap kapal-kapal, yang menurut mereka berlayar melanggar ketentuan perjanjian tersebut.

Hal ini memicu AS untuk kembali melancarkan serangan ke wilayah provinsi selatan Iran, yang diduga bertujuan melemahkan kemampuan Teheran dalam mengincar kapal-kapal di kawasan Teluk.

Beberapa waktu lalu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan AS "telah lama salah perhitungan akibat kegagalan intelijen", termasuk saat memulai perang dengan Iran.

(dna)