Apa Itu 'Madman Theory' yang Digunakan Trump untuk Menekan Iran?
Analisis teori "Orang Gila" juga diulas oleh Daniel Drezner, Profesor Politik Internasional di The Fletcher School di situs Tufts University.
Dalam beberapa kesempatan selama masa jabatan pertamanya, Trump sengaja membangun reputasi sebagai orang gila. Hal ini paling jelas terlihat dalam pendekatannya terhadap Korea Utara dan Korea Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang 2017, Trump meningkatkan retorikanya terhadap Korea Utara, mengatakan kepada wartawan pada Agustus, "Korea Utara sebaiknya tidak lagi mengancam Amerika Serikat.Mereka akan dihadapi dengan api, amarah, dan terus terang kekuatan yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya."
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB sebulan kemudian, Trump menjuluki pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebagai "Manusia Roket" dan berjanji bahwa Amerika Serikat dapat "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya."
Pendekatan "orang gila" Trump meluas hingga ke Korea Selatan. Pada 2017, pemerintahannya berupaya untuk menegosiasikan ulang ketentuan Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Korea.
Jonathan Swan melaporkan di Axios bahwa Trump secara eksplisit memerintahkan kepala negosiator perdagangan Robert Lighthizer untuk memberi tahu rekan-rekannya di Korea Selatan bahwa Trump adalah orang gila.
Lihat Juga : |
"Katakan kepada mereka, 'Orang ini sangat gila sehingga dia bisa menarik diri kapan saja.' Katakan kepada mereka jika mereka tidak memberikan konsesi sekarang, orang gila ini akan menarik diri dari kesepakatan."
Swan lebih lanjut mencatat, "Banyak pemimpin dunia berpikir presiden itu gila dan dia tampaknya menganggap reputasi orang gila itu sebagai aset."
(imf/bac)
