Negara Teluk Marah ke AS: Trump Memulai Perang, Kami yang Kena Imbas

CNN Indonesia
Senin, 17 Agu 2026 16:35 WIB
Fasilitas minyak Aramco di Jizan dan Yanbu, Arab Saudi, digempur Houthi Yaman.
Fasilitas minyak Aramco di Jizan dan Yanbu, Arab Saudi, digempur Houthi Yaman. (SOCIAL MEDIA via REUTERS/Social Media)
Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara Teluk disebut semakin marah dan frustrasi karena perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak kunjung selesai.

Ketidakpuasan negara-negara Teluk terhadap AS kian meningkat di tengah kekhawatiran bahwa Presiden Donald Trump gagal mencapai penyelesaian diplomatik atas konflik berkepanjangan dengan Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pejabat dari negara Teluk tersebut membeberkan kepada the Washington Post, dikutip dari Middle East Monitor, kemarahan mereka terhadap kondisi konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh AS dan Israel.

"Trump yang memulai perang ini, dan kamilah yang menanggung akibatnya," ujar seorang pejabat salah satu negara teluk yang memilih anonim, kepada The Washington Post.

Ia menambahkan bahwa kemarahan terhadap AS telah mencapai titik tertinggi sejak AS dan Israel menyerang Iran pada Februari.

Setelah berbulan-bulan dihantam serangan rudal dan drone yang terus berlanjut dari Iran dan kelompok proksinya, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain semakin kritis terhadap pemerintahan Trump, demikian dilaporkan surat kabar tersebut dengan mengutip pejabat Arab dan Barat.

Menurut laporan itu, beberapa negara Teluk mulai meragukan manfaat dari keberadaan pangkalan militer AS berskala besar di wilayah mereka.

Namun, seorang diplomat Barat di kawasan tersebut memperingatkan bahwa perkembangan ini tidak serta-merta mencerminkan perubahan sentimen yang signifikan.

"Hal itu dulunya dianggap sebagai 'kejahatan yang tak terelakkan' (sesuatu yang buruk namun perlu dilakukan). Kini, urgensi hal itu mulai dipertanyakan," kata diplomat tersebut.

Kegelisahan ini mencuat di tengah sikap Trump yang berulang kali mengancam akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Iran, namun kemudian membatalkan ancaman tersebut dengan alasan terdapat kemajuan dalam pembicaraan diplomatik, sementara Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik.

Seorang pejabat Gedung Putih menepis penilaian tersebut dengan menyatakan bahwa Trump "memiliki hubungan yang luar biasa dengan semua mitra kami di Teluk." Ia juga menegaskan bahwa Washington terus menjalin komunikasi rutin dengan sekutunya di kawasan itu sejak konflik dimulai.

Negara-negara Teluk mengambil sikap yang beragam terkait konflik ini, Beberapa di antaranya awalnya memandang prospek kemenangan cepat AS atas Iran sebagai hal yang berpotensi menguntungkan. Namun, menurut para pejabat tersebut, kekhawatiran justru meningkat seiring berlanjutnya perang tanpa penyelesaian yang jelas.

Di sisi lain, negara-negara Teluk tetap bergantung pada Washington untuk dukungan keamanan, termasuk pasokan peralatan militer, amunisi, dan intelijen.

Iran dan Oman juga telah melakukan negosiasi mengenai jalur pelayaran yang aman melintasi Selat Hormuz selama tiga bulan terakhir. Teheran menyatakan bahwa pemulihan penuh keamanan dan normalisasi pelayaran komersial bergantung pada penghentian tindakan militer AS.

(bac)
placeholder