Toko Senjata di Bangkok Beralih Jual Roti Gara-gara Aturan Diperketat

CNN Indonesia
Senin, 17 Agu 2026 19:10 WIB
Warintorn Boonyachai, owner of Suchart and Friends Gun Shop, poses for a picture in front of her shop in Bangkoks historic gun district, where the shop has operated since 1956 and switched to selling sourdough bread before the latest deadly mass shoo
Toko senjata di Bangkok kini beralih jualan roti. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aroma roti sourdough kini menggantikan pemandangan pistol dan senapan di etalase Suchart and Friends Gun, toko senjata yang telah beralih fungsi menjadi toko roti di kawasan tua Bangkok, Thailand.

Pemilik toko, Warintorn Boonyachai, mulai menjual roti sekitar lima bulan lalu untuk membayar gaji para pegawainya. Namun, ia masih berharap bisnis senjata kembali bergairah.

"Saya masih punya harapan karena, seperti yang saya katakan, menjual senjata lebih tidak melelahkan daripada menjual roti," kata Warintorn, yang juga memiliki sekolah membuat roti mengutip Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harapan itu kini tampak semakin sulit terwujud setelah serangkaian penembakan kembali mengguncang Thailand.

Pada awal Agustus, seorang remaja berusia 14 tahun menembak sejumlah orang di rumah dan sekolahnya di luar Bangkok. Sedikitnya tujuh orang tewas dalam rangkaian penembakan tersebut sebelum pelaku mengakhiri hidupnya dengan menembak diri sendiri.

Insiden itu kembali mendorong pemerintah Thailand memperketat aturan kepemilikan senjata api.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengusulkan aturan baru untuk menghentikan sementara penerbitan izin pembelian senjata api dan izin kepemilikan senjata baru.

Polisi juga diperintahkan menghentikan perpanjangan izin untuk membeli senjata. Kebijakan tersebut berpotensi semakin menekan pedagang senjata legal sekaligus calon pembeli.

A worker prepares bread for sale at Suchart and Friends Gun Shop in Bangkok’s historic gun district, where the shop has operated since 1956 and switched to selling sourdough bread before the latest deadly mass shooting because it could no longer import firearms for sale, while continuing to renew its firearm licence each year, as Thailand has suspended firearm purchase permits and announced plans for tougher gun control laws, including a ban on firearm imports and a range of other restrictions, following the shooting, in Bangkok, Thailand, August 14, 2026. REUTERS/Chalinee ThirasupaToko senjata yang beralhir jual roti di Bangkok. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)

Pedagang nilai kebijakan salah sasaran

Di kawasan yang dikenal sebagai pusat perdagangan senjata di Bangkok, kebijakan tersebut mendapat kritik dari pelaku industri.

Thititorn Bupparamanee, Presiden Firearms Traders Association of Thailand, menilai penghentian penerbitan izin belum tentu menyelesaikan persoalan kekerasan bersenjata di negara tersebut.

"Mereka tidak menyelesaikan masalah di tempat yang tepat. Jika mereka melakukannya, angka kejahatan akan lebih rendah," kata Thititorn.

Menurut dia, pembatasan pembelian senjata melalui jalur legal justru berpotensi mendorong sebagian orang mencari senjata di pasar gelap. Thailand memang memiliki tingkat kepemilikan senjata api sipil yang tinggi.

Berdasarkan perkiraan Small Arms Survey pada 2017, terdapat sekitar 10,3 juta senjata api di tangan warga sipil Thailand. Jumlah itu setara dengan sekitar 15 senjata untuk setiap 100 penduduk, menjadikan Thailand sebagai negara dengan tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi kedua di Asia setelah Pakistan.

Dari jumlah tersebut, sedikitnya 6 juta merupakan senjata yang terdaftar. Sementara sekitar 4 juta lainnya diperkirakan merupakan senjata yang tidak terdaftar. Thititorn memperkirakan nilai industri senjata di Thailand mencapai sekitar 2 miliar baht atau sekitar US$60,4 juta atau sekitar Rp1,07 triliun.

Toko senjata mulai kehabisan dagangan

Dampak kebijakan pembatasan juga terlihat di toko-toko senjata di distrik tersebut.

Salah satu toko yang telah beroperasi selama hampir tujuh dekade kini hanya memiliki dua senjata yang tersisa untuk dijual. Toko itu masih mempekerjakan enam orang, tetapi kedua senjata tersebut disebut tidak dapat dijual.

Pemilik toko juga tidak dapat mengimpor senjata baru akibat larangan yang diberlakukan sejak 2023.

Larangan impor senjata api diberlakukan setelah penembakan di sebuah pusat perbelanjaan di Bangkok pada 2023. Insiden tersebut menjadi salah satu dari sejumlah penembakan massal yang mendorong pemerintah memperketat regulasi kepemilikan senjata.

Sebelumnya, Thailand juga diguncang penembakan di sekolah dan pusat penitipan anak yang menewaskan banyak korban. Bagi sebagian warga, persoalannya bukan semata soal boleh atau tidaknya memiliki senjata, melainkan bagaimana memastikan senjata tidak digunakan di ruang publik.

Ibu dari seorang siswa berusia 14 tahun yang berhasil melarikan diri dari penembakan di sekolah pada 7 Agustus mengatakan dirinya tetap mendukung hak warga untuk memiliki senjata.

Namun, ia menginginkan pengawasan yang lebih ketat, termasuk terhadap orang yang membawa senjata di luar rumah.

"Jelas harus ada pemeriksaan terhadap senjata di mana-mana karena pisau juga sama menakutkannya," ujarnya.

Perdebatan mengenai regulasi senjata di Thailand pun kembali mengemuka. Di satu sisi, pemerintah berupaya membatasi akses terhadap senjata api setelah serangkaian penembakan mematikan. Di sisi lain, pelaku industri menilai pembatasan terhadap pasar legal tidak akan cukup untuk mengatasi peredaran senjata ilegal dan tindak kekerasan.

Sementara itu, di toko Warintorn, senjata yang dahulu memenuhi etalase kini telah digantikan roti. Namun, ia masih berharap suatu hari nanti toko tersebut dapat kembali menjual produk yang menjadi bisnis utamanya.

Untuk sementara, aroma roti sourdough menjadi penanda baru dari sebuah toko yang pernah menjadi bagian dari distrik perdagangan senjata Bangkok.

(tis/tis)
placeholder