Korsel Pangkas Latihan Militer dengan AS usai Dikritik Trump

CNN Indonesia
Rabu, 19 Agu 2026 19:35 WIB
Amerika Serikat dan Korea Selatan sepakat mempersingkat latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS). (AFP/JUNG YEON-JE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat dan Korea Selatan sepakat mempersingkat latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS).

Latihan yang semula dijadwalkan berlangsung hingga 27 Agustus itu kini akan berakhir pada 21 Agustus.

Keputusan tersebut diambil setelah Presiden AS Donald Trump mengkritik latihan militer itu dan meminta Pentagon mengurangi skalanya. Trump menyebut latihan tersebut sebagai kegiatan yang "tidak pantas dan bermusuhan".

"Kami telah memutuskan untuk menyesuaikan periode latihan UFS agar berlangsung dari tanggal 17 hingga 21," kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan.

Menurutnya, keputusan tersebut dibuat "atas saran dari pihak AS."

Pentagon mengatakan latihan tetap akan mempertahankan kesiapan militer penting meski skalanya dikurangi secara signifikan.

Latihan UFS dirancang untuk mempersiapkan pasukan AS dan Korea Selatan menghadapi kemungkinan serangan dari Korea Utara.

Latihan tersebut awalnya terdiri dari dua fase. Fase pertama berfokus pada pertahanan dari potensi ancaman Korea Utara dan tetap berlangsung hingga 21 Agustus.

Sementara itu, fase kedua berfokus pada serangan balasan yang dijadwalkan pada 24-27 Agustus. Namun, fase kedua kini telah dibatalkan.

Pejabat militer Korea Selatan mengatakan kepada AFP bahwa Seoul memandang keputusan itu sebagai "tidak biasa".

Di sisi lain, Korea Utara sejak lama mengecam latihan gabungan AS-Korea Selatan.

Melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Rabu, pemerintah Korea Utara menyebut latihan itu sebagai "ancaman paling langsung dan terbuka" bagi Korea Utara dan keamanan regional.

Pyongyang juga selama ini menganggap latihan militer gabungan tersebut sebagai gladi bersih untuk invasi. Namun, pernyataan Korea Utara tidak secara langsung menyinggung keputusan Trump untuk mengurangi latihan.

Pyongyang juga tidak menyebut upaya Trump membuka kembali komunikasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Peneliti senior di Institut Unifikasi Nasional Korea Hong Min menilai Korea Utara sengaja tidak menyebut nama Trump.

Menurutnya, Pyongyang memilih tetap menyampaikan kritik secara umum untuk menjaga posisi tawar dalam kemungkinan perundingan dengan Washington.

"Menunjukkan kesadaran dapat mengindikasikan adanya pemahaman bersama, tetapi berpura-pura tidak tahu menandakan bahwa masalah ini dapat menjadi poin tawar-menawar utama dalam pembicaraan di masa mendatang dengan Trump", kata Hong.

Korea Utara "tetap berpegang pada prinsip-prinsip umum seolah-olah sama sekali tidak menyadari", kata Trump kepada AFP.

Jauh lebih aman

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan hubungannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah membuat situasi di Semenanjung Korea menjadi "jauh lebih aman".

Pernyataan itu disampaikan di tengah keputusan AS dan Korea Selatan mengurangi durasi latihan militer gabungan.

Trump sebelumnya mengkritik latihan Ulchi Freedom Shield (UFS) melalui platform Truth Social. Ia menyebut latihan tersebut sebagai tindakan yang tidak ramah terhadap negara yang telah menghormatinya.

Sementara itu, kantor kepresidenan Korea Selatan menegaskan bahwa latihan militer tersebut tidak memiliki "niat apa pun untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea".

Trump juga mengatakan bahwa Kim telah merespons upayanya untuk membuka kembali komunikasi.

Ketika ditanya apakah Kim telah menjawab permintaannya untuk berbicara, Trump mengatakan, "Ya, dia sudah menanggapi."

Trump menyebut komunikasi tersebut "sangat positif", tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai isi pembicaraan.

"Ada spekulasi yang terus-menerus bahwa Washington dapat berupaya untuk memulai kembali pembicaraan dengan Pyongyang menjelang pemilihan paruh waktu AS pada bulan November," kata Mantan Presiden Universitas Studi Korea Utara Yang Moo-jin.

"Bagi Trump, pertemuan dengan Kim Jong Un bisa menawarkan kesempatan untuk mengamankan warisan kebijakan luar negeri," kata Yang Moo-jin kepada AFP.

Wall Street Journal melaporkan Trump telah meminta para pembantunya mengatur pertemuan dengan Kim sesegera mungkin pada musim gugur tahun ini. Laporan tersebut mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Profesor Universitas Ewha Park Won-gon menilai pengurangan latihan militer dapat membantu membuka peluang dialog antara AS dan Korea Utara.

"Mengurangi latihan militer dapat berdampak positif pada kemungkinan dialog AS-Korea Utara," kata Park Won-gon kepada AFP.

Ia menambahkan bahwa penghentian latihan bersama selama ini menjadi salah satu prasyarat bagi Korea Utara untuk berdialog dengan AS.

Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih. Namun, keduanya belum kembali mengadakan pertemuan sejak Trump memasuki masa jabatan keduanya.

Di tengah upaya tersebut, AS tetap menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara tersebut.

Kehadiran pasukan AS merupakan bagian dari warisan Perang Korea 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Trump juga berulang kali mengkritik aliansi AS dengan Korea Selatan. Sikap tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai komitmen Washington terhadap keamanan Asia Timur dan membuat sejumlah mitra regional waspada.

(mge/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK