Dampak Protes Pelajar, 500 Sekolah di Prancis Bakal Tutup pada Senin

CNN Indonesia
Minggu, 04 Okt 2026 20:20 WIB
Sekitar 500 sekolah menengah atas diperkirakan bakal tutup sebagian atau seluruhnya pada Senin (5/10) akibat meluasnya aksi protes pelajar.
Aksi protes pelajar Prancis. Sekitar 500 sekolah menengah atas diperkirakan bakal tutup sebagian atau seluruhnya pada Senin (5/10) akibat meluasnya aksi protes pelajar. (REUTERS/Nacho Doce)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekitar 500 sekolah menengah atas di Prancis diperkirakan tutup seluruhnya atau sebagian pada Senin (5/10) mendatang akibat aksi protes pelajar yang meluas di negara itu.

Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan, kegiatan belajar belum dapat berlangsung normal karena kondisi keamanan belum terpenuhi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Geffray menyebut sekitar 400 hingga 500 sekolah menengah atas, atau lycees, akan menghentikan sebagian maupun seluruh kegiatan belajar mengajar. Angka tersebut diperkirakan sebanding dengan jumlah sekolah terdampak pada Jumat (3/10).

Meski demikian, pemerintah Prancis berupaya mendorong kembalinya kegiatan belajar secara bertahap dan sebagian.

Menurut Geffray, sejak gerakan protes dimulai, 24 sekolah sudah dibakar atau dirusak. Para pelajar memprotes berbagai persoalan di sekolah, termasuk tingginya absensi guru, jam belajar yang terlalu panjang, serta kondisi fasilitas yang dinilai buruk.

Gerakan itu bermula di sebuah sekolah di Paris pada 17 September, sebelum meluas menjadi aksi nasional pekan lalu.

Sejumlah demonstrasi diwarnai bentrokan antara pelajar dan aparat keamanan. Polisi terkadang menggunakan gas air mata dan tongkat untuk membubarkan massa.

"Ada aktivis, khususnya dari sayap kiri ekstrem, yang telah menyusup ke gerakan siswa sekolah menengah, membajaknya dari para siswa itu sendiri, dan terlibat dalam kekerasan ekstrem," klaim Gefrray, seperti diwartakan AFP pada Minggu (4/10).

Ia mengatakan kondisi tersebut membahayakan siswa dan staf sekolah. Sebanyak 78 tenaga pendidikan dilaporkan terluka, yang menurutnya merupakan peristiwa belum pernah terjadi sebelumnya.

"Mereka sengaja menjadi sasaran karena bekerja di sistem pendidikan nasional," kata Geffray.

Penyelenggara aksi menyerukan agar demonstrasi berlanjut pada Selasa (5/10). Mereka menilai pemerintah belum memberikan langkah konkret untuk menjawab tuntutan para pelajar.

Sejak gerakan dimulai, lebih dari 5.000 orang sudah ditangkap. Sekitar 85 persen dari mereka merupakan anak di bawah umur.

Di sisi lain, sejumlah pihak mengkritik tindakan polisi yang dinilai berlebihan dalam menangani demonstrasi.

Di kota La Ciotat, Prancis selatan, seorang remaja berusia 16 tahun ditahan pada Minggu terkait penyerangan terhadap seorang guru. Guru berusia 59 tahun itu disiram bensin dan dipukul pada Jumat, di sekitar aksi protes pelajar sekolah menengah.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan seseorang berpakaian serba hitam dan mengenakan penutup wajah menyiramkan cairan ke arah guru tersebut. Korban kemudian memegangi wajahnya, sedangkan sebuah pohon tampak terbakar di dekat lokasi.

(rti)
placeholder