Trump Desak Saudi Rujuk dengan Israel Jika Mau Deal Nuklir Lanjut

CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 09:25 WIB
Momen pertemuan Trump dengan Putra Mahkota Saudi MbS pada November 2025. Foto: REUTERS/Jessica Koscielniak
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut menggunakan kesepakatan nuklir untuk menekan Arab Saudi agar segera normalisasi hubungan dengan Israel.

Seorang pejabat pemerintahan AS yang tak ingin diidentifikasi mengatakan kepada Reuters bahwa Trump telah mengirimkan rancangan perjanjian nuklir dengan Saudi kepada Kongres AS.

Kendati demikian, Trump memberi pesan bahwa kesepakatan itu hanya akan lanjut jika Riyadh bergabung dengan Abraham Accords.

"Posisi presiden tidak berubah, yakni kesepakatan hanya akan berjalan jika Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords," kata pejabat tersebut.

AS dan Saudi membuat kesepakatan bersejarah pada 23 Juli lalu untuk membangun program nuklir sipil. Trump telah menyatakan kesepakatan ini hanya berdasar pada penggunaan non-militer dan "sepenuhnya bergantung pada keikutsertaan Arab Saudi dalam Abraham Accords".

Abraham Accords adalah perjanjian normalisasi hubungan antara Israel dengan negara Arab-Muslim yang diinisiasi Trump di masa jabatan pertamanya sebagai Presiden AS. Sejumlah negara seperti Bahrain, UEA, Maroko, dan Sudan telah menandatangani perjanjian ini.

Tidak jelas bagaimana Trump akan memajukan tujuannya menggunakan kesepakatan nuklir yang telah dikirim ke Kongres.Kongres memiliki waktu 90 hari untuk mempertimbangkan kesepakatan ini.

Jika Kongres menolak perjanjian ini, Trump dapat memveto keputusan tersebut dan butuh dua pertiga suara di Kongres untuk melawannya. Sedangkan jika tak ada keberatan dari Kongres dalam waktu 90 hari sidang, kesepakatan ini akan berlaku.

Beberapa anggota parlemen Demokrat dan pendukung nonproliferasi mengkritik pakta nuklir AS-Saudi karena tidak melarang Saudi untuk memperkaya uranium atau mengolah kembali limbah nuklir, dua jalur potensial untuk membuat senjata nuklir.

Israel dan Saudi sebelumnya sudah nyaris rujuk semasa pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Namun, prospek itu buyar setelah Israel meluncurkan agresi brutal ke Jalur Gaza, Palestina.

Saudi bersikeras pengakuan terhadap Israel hanya dilakukan jika Palestina merdeka.

(blq/dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK