Warga India Paling Banyak Hilang Akibat Banjir Bandang Nepal

CNN Indonesia
Kamis, 27 Agu 2026 13:05 WIB
Warga India menjadi korban hilang terbanyak dalam banjir bandang yang melanda Nepal, Rabu (26/8).
Warga India menjadi korban hilang terbanyak dalam banjir bandang yang melanda Nepal, Rabu (26/8). (REUTERS/Navesh Chitrakar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga India menjadi korban hilang terbanyak dalam banjir bandang yang melanda Nepal, Rabu (26/8).

Berdasarkan informasi Nepal Tourism Board, sebanyak 142 warga negara India dilaporkan hilang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan Times of India, mengutip kepolisian Nepal, 157 ditemukan meninggal dunia sementara 844 dinyatakan hilang. Sementara otoritas China melaporkan 265 hilang di wilayah Gyirong, Tibet.

Menurut laporan media India tersebut, warga India yang jadi korban sebagian besar peziarah Kailash Mansarovar, bersama 400 peziarah lain dari beberapa negara, yang sedang melintasi Tibet-Nepal.Sementara para petugas berjuang di antara cuaca buruk, jalanan berlumpur dan tingginya arus sungai.

Banjir bandang yang melanda wilayah Nepal sejak Rabu (26/8) dapat ditelusuri hingga ke Pegunungan Himalaya. Para ahli geofisika mengungkapkan "peristwa geofisika masif" terjadi di pegunungan itu hingga ke bawah dan menyebabkan banjir besar.

Pakar geofisika dari Earth Observatory di Universitas Columbia Goran Ekstrom mengatakan kepada ABC News bahwa sebuah tanah longsor di celah pegunungan terjadi pada siang hari dan meluruhkan gletser besar, atau sebagian dari gletser, di Himalaya.

Peristiwa tersebut begitu dahsyat hingga tercatat sebagai gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 pada seismograf di seluruh dunia.

Peristiwa semacam ini pernah terjadi sebelumnya di Himalaya, namun menurut Ekstrom, kali ini merupakan "peristiwa geofisika berskala masif" hingga menyebabkan banjir bandang yang amat mematikan.

Menurut Ekstrom bebatuan besar meluncur turun dari pegunungan sehingga menghasilkan energi luar biasa besar dan memicu peningkatan suhu yang mencairkan gletser. Peristiwa ini yang kemungkinan menjadi penyebab besarnya volume air yang mengalir sangat deras hingga ke kaki gunung.

Ekström memperkirakan bahwa ketinggian air banjir tersebut "luar biasa tinggi" akibat es, material reruntuhan, dan air yang meluncur sangat cepat turun ke lembah.

Ketinggian air kemungkinan mencapai 130 hingga 160 kaki atau 39 hingga 48 meter dengan kecepatan aliran yang mungkin mencapai 44 mil per jam.

Menurut profesor tersebut, perubahan iklim mempercepat pencairan es dan gletser di seluruh dunia. Peristiwa semacam ini sebenarnya bisa saja terjadi tanpa ada perubahan iklim sekalipun, namun Ekstrom menilai ada kemungkinan perubahan iklim memperparah kejadian tersebut

"Secara umum, tanah longsor di wilayah pegunungan ini semakin sering terjadi, hal ini telah dipastikan, dan kejadian tersebut berkaitan dengan mencairnya gletser," katanya.

(imf/bac)
placeholder