AS Kirim 1 Kapal Induk Lagi ke Timteng Perangi Iran 7 Bulan ke Depan
Amerika Serikat mengerahkan satu lagi kapal induknya, USS Theodore Roosevelt, ke Timur Tengah yang akan berlangsung selama tujuh bulan ke depan. Kapal induk dengan 5.000 personelnya itu dikerahkan ketika AS masih memerangi Iran sejak Februari lalu.
Dikutip Al Jazeera, US Naval Institute mengatakan bahwa kapal induk USS Theodore Roosevelt sedang mempersiapkan operasi penempatan di Timur Tengah.
Pada Rabu (26/8) kepada wartawan di Washington, Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle dan Master Chief Petty Officer of the Navy John Perryman mengatakan USS Theodore Roosevelt, kapal-kapal pengawalnya, serta Carrier Air Wing 11 yang berada di dalam kapal tersebut dijadwalkan menggantikan USS George Washington yang berbasis di Jepang.
Dikutip CNN, USS George Washington memasuki wilayah operasi Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Timur Tengah pada pekan lalu.
"Mereka tahu bahwa mereka akan berada di sana lebih dari tujuh bulan. Komandan mereka memberi mereka waktu delapan bulan untuk melakukan persiapan," kata Perryman seperti dilaporkan USNI News.
Langkah tersebut dilakukan ketika Angkatan Laut AS menghadapi dampak dari penempatan USS Abraham Lincoln baru-baru ini di kawasan tersebut, yang membuat kapal itu berada di laut selama lebih dari 250 hari tanpa singgah di pelabuhan.
Penempatan yang panjang tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kesehatan mental para pelaut, termasuk laporan tentang setidaknya satu orang yang jatuh atau terlempar ke laut, serta laporan mengenai menipisnya persediaan di kapal perang berbobot 100.000 ton tersebut.
USS Abraham Lincoln digantikan oleh USS George Washington pada pekan lalu dan diperkirakan akan melakukan persinggahan di pelabuhan Thailand dalam beberapa hari mendatang, menurut sejumlah laporan media.
Selain USS Theodore Roosevelt, kapal induk USS George H.W. Bush juga sedang beroperasi di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Caudle mengakui tekanan yang ditimbulkan perang Iran terhadap armada AS.
Ia mengatakan bahwa Angkatan Laut akan berupaya memberikan kepastian yang lebih besar mengenai durasi penempatan, tetapi tuntutan dalam situasi perang dapat membuat hal tersebut sulit dilakukan.
"Saya lebih memilih penempatan selama tujuh bulan. Biasanya saya bukan orang yang menyukai perpanjangan masa penempatan dan saya menentangnya dengan keras. Tetapi tidak ada jaminan dalam situasi perang," kata Caudle, seperti dikutip USNI.
(rds/bac)