Bos CIA Ketahuan Diam-diam ke Rusia, Trump Buka Suara
Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (Central Intelligence Agency/CIA) John Ratcliffe menjadi perbincangan publik setelah diam-diam pergi ke Rusia pekan ini.
Kunjungan mendadak Ratcliffe ke Moskow pada Senin (24/8) malam dicurigai terkait misi khusus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wall Street Journal (WSJ) pada Rabu (26/8) melaporkan lawatan Ratcliffe ke Rusia dilakukan untuk memperingatkan Kremlin agar tidak menyerang anggota NATO.
Baru-baru ini, penilaian intelijen AS mengungkap bahwa Rusia tampaknya ingin menguji NATO dengan melancarkan serangan terbatas terhadap salah satu anggota, baik lewat serangan siber atau invasi militer skala kecil.
Pada Rabu, Presiden AS Donald Trump membantah laporan tersebut.
"Dia ada di sana untuk semacam rutinitas biasa," kata Trump kepada Glenn Beck dalam wawancara telepon di program radionya.
"John Ratcliffe adalah orang yang fantastis. Dia kepala CIA, dan dia tidak berada di sana untuk hal-hal yang Anda katakan," ucap Trump.
Trump mengatakan misi Ratcliffe ke Rusia yakni untuk menyudahi perang Ukraina.
Lihat Juga : |
"Sekarang mungkin akan ada sesuatu yang terungkap dari kunjungan tersebut. Kami bekerja sangat keras untuk mengakhiri perang ini, dan terus terang, mereka berdua sama-sama ingin mengakhirinya," ucapnya, seperti dikutip CNN.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov telah bersuara mengenai kunjungan Ratcliffe ke Moskow. Ia berujar Ratcliffe datang terkait "dinas rahasia" dan tidak bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin.
Peskov juga menambahkan pertemuan Ratcliffe dengan pejabat Rusia berjalan positif.
Ini merupakan kunjungan pertama Ratcliffe ke Rusia sejak 2021. Terakhir kali seorang direktur CIA mengunjungi Moskow yaitu pada November 2021, ketika William Burns memperingatkan Rusia agar tidak mengirim pasukan ke Ukraina. Beberapa minggu kemudian, Kremlin melancarkan perang skala penuh terhadap Ukraina.
Kunjungan Ratcliffe terjadi di tengah peningkatan tekanan Rusia terhadap NATO selama setahun terakhir, termasuk penerbangan pesawat tak berawak atau pesawat militer di atas Polandia, Rumania, dan Latvia.
John Foreman, yang menjabat sebagai atase militer Inggris di Moskow antara tahun 2019-2022, mengatakan kepada program PM Radio 4 bahwa pengiriman pejabat tinggi ke Rusia secara diam-diam tidak lazim dilakukan.
"Biasanya Amerika tidak mengirim pejabat berpangkat tinggi ke Moskow tanpa pemberitahuan dalam waktu singkat kecuali ada sesuatu yang sedang terjadi," ucapnya.
Washington dan Moskow telah mempertahankan komunikasi langsung mengenai masalah intelijen dan keamanan, meskipun hubungan mereka tegang karena perang Rusia dengan Ukraina.
(rds)
