Presiden Iran Bertemu Putin, Ucap Terima Kasih atas Sikap Rusia

CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 20:40 WIB
Russian President Vladimir Putin shakes hands with Iranian President Masoud Pezeshkian before a meeting on the sidelines of the Shanghai Cooperation Organisation (SCO) summit in Bishkek, Kyrgyzstan September 1, 2026. Sputnik/Vyacheslav Prokofyev/Pool
Momen pertemuan Presiden Iran Pezeshkian dan Presiden Rusia Putin di sela KTT SCO di Kyrgyzstan. Foto: via REUTERS/Vyacheslav Prokofyev
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan terima Presiden Vladimir Putin dan sikap Rusia, kala Iran jadi target serangan gabungan Amerika Serikat beberapa bulan terakhir.

Pernyataan ini disampaikan secara langsung oleh Pezeshkian ke Putin, di sela pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai yang digelar di Kirgistan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menghargai dan berterima kasih atas sikap Anda, baik selama masa pertempuran dan tindakan agresi berlangsung, maupun dalam keadaan normal saat AS menjatuhkan sanksi kepada kami di Perserikatan Bangsa Bangsa maupun di forum-forum internasional," kata Pezeshkian.

"Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita adalah hubungan strategis, bukan hubungan biasa," imbuhnya, seperti dikutip AFP.

Sebelumnya pihak kepresidenan Iran dalam pernyataan terpisah menyebut kedua presiden "meninjau hubungan bilateral" dan "membahas cara-cara untuk memperkuat serta memperluas kerja sama di berbagai bidang". Pezeshkian dan Putin terakhir kali bertemu dalam sebuah KTT di Turkmenistan pada Desember 2025 lalu.

Pezeshkian sebelumnya mengatakan Iran akan kembali mengajukan tawaran damai ke AS. Dia menekankan kembali soal nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni lalu untuk mengakhiri perang.

"Saya menyatakan dengan jelas bahwa jika Amerika Serikat kembali ke komitmen mereka berdasarkan nota kesepahaman, Republik Islam Iran akan melakukan tindakan serupa sesegera mungkin," kata dia dalam rilis resmi, yang dipublikasikan di situs kepresidenan Iran, dikutip AFP, Selasa (2/9).

Nada serupa juga digemakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dia mendesak AS untuk kembali perjanjian yang sudah ditandatangani Presiden Donald Trump.

"Dalam kasus ini, semuanya bisa dikembalikan ke jalur yang benar," kata Araghchi.

Pernyataan Pezeshkian muncul saat Iran dan AS kembali saling tempur di Selat Hormuz. Sejak enam bulan terakhir, rute pelayaran ini mengkhawatirkan karena jadi titik konflik kedua negara.

AS dan sekutu dekatnya Israel menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari. Sebagai dampak serangan itu, Teheran menutup Selat Hormuz. Sejak saat itu, pertempuran terus berkecamuk.

(dna)