Aliansi Al Qaeda & Houthi Disebut Jadi Ancaman Baru bagi AS

CNN Indonesia
Kamis, 03 Sep 2026 19:50 WIB
Protesters, predominantly Houthi supporters, demonstrate to show solidarity with the Palestinians in the Gaza Strip and to condemn U.S. strikes in Yemen, in Sanaa, Yemen April 18, 2025. REUTERS/Khaled Abdullah
Ilustrasi Houthi Yaman. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

Houthi dan Al-Shabaab memiliki latar belakang sektarian yang berbeda. Houthi mayoritas beragama Islam Syiah, sedangkan al-Shabaab menganut Islam Sunni.

Perbedaan tersebut sebelumnya membuat kedua kelompok berada dalam posisi berseberangan. Namun, kebencian terhadap AS dan Israel kini menjadi salah satu faktor yang menyatukan mereka.

Komandan pasukan AS Jenderal Dagvin Anderson mengatakan kerja sama tersebut memberikan keuntungan bagi kedua kelompok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Al-Shabaab, afiliasi Al-Qaeda terbesar dan paling menguntungkan, mendapatkan akses ke senjata dan pelatihan yang lebih canggih," kata Anderson kepada The Wall Street Journal.

"Di sisi lain, Houthi memperluas jangkauan geografis mereka, mendapatkan pijakan yang dapat semakin menggoyahkan salah satu titik kritis ekonomi dunia," katanya.

"Ini bukan hanya masalah regional. Ini memiliki implikasi global," tambahnya.

Houthi mengincar posisi strategis di Somalia

Bagi Houthi, kerja sama dengan al-Shabaab tidak hanya bertujuan mendapatkan uang. Kelompok tersebut juga mengincar posisi strategis di Somalia selatan.

Wilayah tersebut berada di sekitar Teluk Aden, salah satu jalur penting bagi perdagangan internasional. Posisi tersebut dapat membantu Houthi mengawasi lalu lintas kapal yang melewati kawasan tersebut.

Penasihat keamanan nasional Somalia, Awes Yusuf Ahmed, mengatakan hubungan kedua kelompok pada awalnya lebih bersifat transaksional.

"Secara tradisional, hubungan antara Houthi dan al-Shabaab murni bersifat transaksional," kata Ahmed.

"Itu tidak berarti tidak ada faktor baru yang ditambahkan setelah perang Iran-AS yang dapat memiliki kepentingan strategis," tambahnya.

Salah satu keinginan Houthi adalah mendapatkan bantuan Al-Shabaab untuk memasang radar. Radar tersebut dapat digunakan untuk memantau kapal yang melintas di perairan yang mereka bagi.

Israel dan Somaliland menambah ketegangan

Situasi di kawasan tersebut semakin rumit setelah Israel mengakui kemerdekaan Somaliland pada Desember. Somaliland merupakan wilayah di barat laut Somalia yang menyatakan diri sebagai negara terpisah pada 1991.

Somaliland memiliki Pelabuhan Berbera di kawasan Laut Merah. Pelabuhan tersebut memiliki landasan pacu yang sangat panjang sehingga NASA pernah menyewanya sebagai lokasi pendaratan darurat pesawat ulang-alik.

Posisi Berbera dinilai dapat memberikan Israel lokasi strategis untuk memantau dan menghadapi Houthi.

Mantan perwira intelijen senior Israel, Michael Milshtein, mengatakan Houthi menjadi salah satu perhatian utama Israel ketika negara tersebut mengakui Somaliland.

"Pengerahan militer di Somaliland memberi Anda posisi yang sangat kuat untuk menghadapi Houthi," kata Milshtein.

Pemerintah Israel tidak memberikan tanggapan mengenai hal tersebut.

Sementara itu, pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, mengatakan kelompoknya terus memantau aktivitas Israel di Somaliland.

Al-Houthi menilai aktivitas Israel tersebut bertujuan mengendalikan Teluk Aden, Selat Bab al-Mandeb, dan Laut Merah.

"Kami akan bergerak kapan saja untuk menargetkan aktivitas atau keberadaan musuh Israel di Somaliland," kata al-Houthi.

Houthi dan Al-Shabaab tingkatkan kerja sama

Pada Juni, empat anggota delegasi Houthi dilaporkan berlayar dari Yaman menuju Somalia selatan. Mereka kemudian berjalan melewati semak belukar untuk bertemu dengan perwakilan al-Shabaab di Jilb, ibu kota de facto wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.

Pejuang Al-Shabaab juga secara rutin melakukan perjalanan ke Yaman untuk mengikuti pelatihan dari Houthi.

Pelatihan tersebut mencakup pembuatan bom pinggir jalan, penggunaan persenjataan canggih, kemampuan menembak, operasi anti pesawat, dan pembuatan bom jebakan.

Seorang pejabat intelijen militer AS mengatakan sebanyak 100 pejuang al-Shabaab telah melakukan perjalanan ke Yaman untuk mengikuti pelatihan.

PBB juga melaporkan bahwa sekitar 30 militan al-Shabaab dikirim untuk mempelajari keahlian menembak, operasi anti pesawat, dan teknik membuat bom jebakan yang lebih mematikan.

Pada Juni, sekelompok pejuang al-Shabaab bahkan menghabiskan tiga bulan di Sa'dah, Yaman. Mereka mempelajari cara merakit drone dan menggunakan sistem yang memungkinkan operator melihat gambar dari kamera drone seperti berada di dalam kokpit.

Pelatih Houthi juga melakukan perjalanan ke Somalia untuk melatih anggota al-Shabaab dalam operasi drone.

Lebih lanjut, Al-Shabaab memiliki kemampuan finansial untuk membeli senjata dan jasa dari Houthi.

Menurut penilaian intelijen AS, al-Shabaab menghasilkan sebanyak US$100 juta dengan mengeruk bisnis dan masyarakat di pos pemeriksaan pinggir jalan serta pelabuhan Mogadishu.

Al-Shabaab juga mengeksploitasi tambang emas tradisional di Pegunungan Cal Madow bagian utara, menurut Abdullahi.

AS sendiri terus melakukan serangan terhadap al-Shabaab.

Menurut Komando Afrika AS, militer Amerika telah melakukan sekitar 40 serangan udara terhadap target al-Shabaab di Somalia sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut hampir sama dengan 41 serangan yang dilakukan sepanjang 2025.

(mae/dna)

HALAMAN:
1 2