Aliansi Al Qaeda & Houthi Disebut Jadi Ancaman Baru bagi AS

CNN Indonesia
Kamis, 03 Sep 2026 19:50 WIB
Ilustrasi. AS disebut hadapi ancaman baru aliansi Al Qaeda dan Houthi. Foto: AFP/JENNY VAUGHAN
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat menghadapi ancaman baru setelah kelompok Al-Shabaab, sayap Al-Qaeda di Somalia dan Houthi di Yaman, membangun kerja sama.

Kedua kelompok yang sebelumnya memiliki perbedaan sektarian itu kini bekerja sama untuk mendapatkan senjata, pelatihan, uang, serta akses strategis di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden. Kerja sama tersebut menjadi perhatian AS karena dapat meningkatkan kemampuan militer kedua kelompok.

Al-Shabaab memiliki sumber dana yang besar, tetapi kelompok tersebut membutuhkan senjata dan pelatihan. Sementara itu, Houthi memiliki persenjataan canggih dan kemampuan teknologi, tetapi kelompok tersebut membutuhkan uang serta basis baru untuk memperluas serangan terhadap kepentingan Barat.

Hubungan tersebut melibatkan Jibril "Si Tangan Satu" Yahya Ali, warga Somalia yang tinggal dan beroperasi di Yaman.

Menurut pejabat AS, Jibril menjadi penghubung antara Al-Shabaab dan Houthi sejak 2023. Ia membantu kedua kelompok memfasilitasi pertukaran senjata.

Namun, musuh bersama kini menyatukan Al-Shabaab dan Houthi.

"Mereka membenci Barat, mereka membenci Israel," kata mantan kepala intelijen Somalia, Abdulaahi Mohamed Ali.

Dinas Kontra-Terorisme Yaman menggambarkan Jibril sebagai salah satu tokoh penting dalam memperkuat hubungan kedua kelompok.

Penilaian internal yang ditinjau The Wall Street Journal menyebut, "Hubungan antara Houthi dan Al-Shabaab terjalin melalui pertukaran keahlian dan koordinasi, khususnya dalam memfasilitasi transfer senjata dan peralatan militer."

Jibril tewas dalam serangan AS

Peran Jibril membuatnya menjadi target AS.

Pada 12 Februari, empat bulan setelah menikah dengan Budoor Murshid, Jibril dan istrinya berkendara menikmati matahari terbenam.

Saat itu, telepon Budoor berdering. Pasangan tersebut memarkir mobil Toyota Corolla mereka. Budoor keluar dari mobil untuk menerima panggilan telepon.

Kemudian, sebuah rudal AS menghantam atap mobil tersebut. Rudal itu tidak meledak, tetapi menghancurkan bagian kendaraan.

Jibril tewas seketika dalam serangan tersebut. Sedangkan, seorang teman membawa Budoor menjauh dari lokasi.

Dua sumber AS yang mengetahui operasi tersebut mengonfirmasi bahwa serangan udara AS menewaskan Jibril.

Namun, Komando Pusat AS yang bertanggung jawab atas pasukan AS di Timur Tengah mengatakan serangan tersebut bukan operasi militer.

Seorang juru bicara Badan Intelijen Pusat AS (CIA) juga menolak mengatakan apakah mereka berada di balik pembunuhan tersebut.

Al-Shabaab mendapat senjata dan pelatihan

Al-Shabaab membutuhkan senjata dan kemampuan militer yang lebih canggih.

Pada 2024, kelompok tersebut mengirim utusan senior bernama Sheikh Ahmed Elmi Samatar untuk bekerja bersama Jibril.

Samatar kemudian memberikan daftar kebutuhan senjata kepada Houthi. Daftar tersebut mencakup rudal anti pesawat yang ditembakkan dari bahu, roket Katyusha 107 millimeter, senapan sniper Dragunov, drone serang peledak, rudal anti-tank, dan peralatan penglihatan malam buatan AS.

Seorang pejabat intelijen militer AS mengonfirmasi bahwa al-Shabaab menginginkan persenjataan canggih dari Houthi.

Pemerintah Yaman menangkap Samatar pada Januari 2025. Pemerintah Yaman kemudian membebaskannya melalui pertukaran tahanan dengan Houthi. Setelah itu, Samatar kembali ke Somalia dan meninggalkan Jibril untuk mengurus kepentingan al-Shabaab di Yaman.

Jibril kemudian terus menjadi perantara pengiriman senjata. Al-Shabaab juga mengirim dua ahli senjata ke Yaman untuk membantu Jibril.

Setelah Jibril terbunuh, Al-Shabaab memilih pengganti di Yaman untuk melanjutkan pekerjaan tersebut.

Senjata diseberangkan lewat laut

Menurut laporan intelijen Yaman, pengiriman senjata dilakukan melalui perusahaan-perusahaan samaran di Yaman. Perusahaan tersebut menyamarkan senjata sebagai produk sipil sebelum mengirimkannya ke Mukalla dan pelabuhan lain.

Pejabat intelijen militer AS mengatakan senjata tersebut kemudian menyeberangi Teluk Aden menggunakan perahu cepat atau kapal nelayan. Para pengirim lalu memindahkan senjata ke daratan melalui wilayah pantai Somalia utara yang memiliki pengawasan lebih lemah.

Senjata tersebut selanjutnya dibawa ke unit-unit tempur Al-Shabaab di Somalia selatan, tempat kegiatan pemberontak

Pada April 2025, AS menghancurkan dua kapal tanpa bendera yang memasuki perairan Somalia dari Yaman. Komando Afrika AS mengatakan kedua kapal tersebut membawa senjata konvensional canggih.

Belum diketahui secara pasti jenis senjata dalam daftar permintaan Al-Shabaab yang sudah sampai ke tangan kelompok tersebut.

Namun, kemungkinan Al-Shabaab mendapatkan drone serang dan senjata lain yang dapat digunakan untuk menyerang pangkalan AS dan Somalia dari udara telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan militer kedua negara.

"Saya tidak tahu apa rencana mereka, tetapi jelas ada sesuatu yang sedang direncanakan," kata mantan komandan pasukan khusus Somalia, Brigjen Ahmed Abdullahi Sheikh.

Lanjut ke sebelah...

Musuh bersama menyatukan Houthi dan Al-Shabaab


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :