Tragedi 9/11, Anak-anak Muda AS Malah Makin Terbawa 'Teori Konspirasi'

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 12:35 WIB
Tragedi 11 September 2001 atau 9/11 kembali menjadi sorotan di Amerika Serikat saat peringatan 25 tahun serangan tersebut.
Tragedi 11 September 2001 atau 9/11 kembali menjadi sorotan di Amerika Serikat saat peringatan 25 tahun serangan tersebut. (AFP/SETH MCALLISTER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tragedi 11 September 2001 atau 9/11 kembali menjadi sorotan di Amerika Serikat saat peringatan 25 tahun serangan tersebut.

Namun, di tengah upaya generasi muda mengenal kembali tragedi itu, mereka justru semakin mudah terpapar 'teori konspirasi' yang beredar di media sosial.

Sebagian anak muda AS kini menyaksikan serangan 9/11 untuk pertama kalinya melalui YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lain. Mereka melihat kembali rekaman pesawat menabrak Menara Kembar World Trade Center hingga bangunan tersebut runtuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mantan Wali Kota New York City, Michael Bloomberg, mengatakan lebih dari 100 juta warga AS terlalu muda untuk mengingat langsung peristiwa tersebut.

"Lebih dari 100 juta warga Amerika terlalu muda untuk mengingat hari itu," ujar Bloomberg.

Bagi generasi yang lahir setelah 2001, tragedi tersebut merupakan bagian dari sejarah yang mereka kenal melalui rekaman video, dokumenter, unggahan media sosial, hingga cerita para penyintas.

Namun, cara mereka mengakses informasi tersebut menghadirkan persoalan baru. Berbeda dengan televisi dan surat kabar pada 2001 yang memiliki editor dan mempertimbangkan konteks serta sensitivitas pemberitaan, media sosial memungkinkan siapa saja mengunggah dan menyebarkan kembali rekaman 9/11.

Akibatnya, fakta sejarah dan 'teori konspirasi' sering muncul berdampingan.

Di Google, sejumlah pertanyaan yang banyak dicari antara lain mengenai jumlah anak tangga yang harus dinaiki petugas pemadam kebakaran dan identitas para pembajak pesawat.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi organisasi media untuk kembali membagikan arsip pemberitaan 9/11 agar generasi muda dapat memperoleh informasi dari sumber yang lebih kredibel.

Program berita CBS, 60 Minutes, membagikan kembali sejumlah liputan lama mengenai 9/11 melalui media sosial sepanjang pekan peringatan. History Channel juga kembali menayangkan wawancara dengan para penyintas.

Tayangan dokumenter 9/11

Sementara itu, dokumenter "Turning Point: Generation 9/11" menarik perhatian besar. Film tersebut menjadi salah satu tayangan yang paling banyak ditonton di Netflix secara global pada pekan lalu.

Dokumenter dianggap menjadi salah satu jalur yang lebih dapat dipercaya bagi generasi muda untuk memahami tragedi tersebut karena memberikan konteks mengenai apa yang terjadi dan dampaknya terhadap masyarakat.

Film "9/11" juga menampilkan rekaman langka petugas pemadam kebakaran yang berada di dalam World Trade Center ketika serangan berlangsung.

Salah satu konten yang paling banyak digunakan adalah video mentah dari siaran televisi pada pagi hari ketika serangan terjadi.

Sejumlah pengguna YouTube bahkan menyusun rekaman siaran dari berbagai jaringan televisi pada hari tersebut. Salah satunya membuat tayangan yang menampilkan liputan dari delapan saluran televisi selama 18 menit pertama serangan di New York.

WNYW, afiliasi Fox di New York, menjadi stasiun televisi lokal pertama yang menyiarkan perkembangan serangan tersebut. CNN kemudian menjadi jaringan nasional pertama yang menayangkan laporan mengenai kejadian itu.

"Anda jelas sedang melihat tayangan langsung yang sangat mengerikan," kata pembawa acara CNN Carol Lin ketika kamera yang mengarah ke Lower Manhattan memperlihatkan kerusakan pada Menara Utara.

Rekaman tersebut menunjukkan suasana yang penuh ketidakpastian. Pada menit-menit awal serangan, masyarakat dan media belum mengetahui secara pasti apa yang sedang terjadi.

Jim Geraghty dari National Review menyoroti pengalaman tersebut ketika membahas generasi muda yang kini baru melihat rekaman 9/11.

"Nak, hal yang tidak akan ditunjukkan oleh film dokumenter mana pun adalah bagaimana pagi itu, setelah laporan pertama, tidak ada seorang pun yang tahu apa pun," tulis Geraghty pada Kamis.

Pada 11 September 2001, masyarakat New York menyaksikan langsung kepulan asap dan runtuhnya gedung. Sementara masyarakat di wilayah lain mengikuti perkembangan melalui televisi dan situs berita yang saat itu masih berkembang.

Belum ada TikTok, X, siaran langsung media sosial, atau teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang.

Akibatnya, generasi yang tidak mengalami langsung tragedi tersebut dapat melihat gambar-gambar mengerikan tanpa memahami konteks sejarahnya.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Rumor dan 'Teori Konspirasi' BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2