Tragedi 9/11, Anak-anak Muda AS Malah Makin Terbawa 'Teori Konspirasi'

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 12:35 WIB
Sebagian anak muda AS kini menyaksikan serangan 9/11 untuk pertama kalinya melalui YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lain.
Sebagian anak muda AS kini menyaksikan serangan 9/11 untuk pertama kalinya melalui YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lain. (Getty Images via AFP/SPENCER PLATT)

Mantan editor TIME, Nancy Gibbs, mengatakan rumor dan 'teori konspirasi' sebenarnya sudah ada sebelum Facebook dan X muncul. Namun, menurut dia, situasi informasi pada masa itu jauh lebih terkendali dibandingkan era media sosial saat ini.

"Ya, memang ada rumor dan konspirasi beracun bahkan sebelum Facebook dan X ditemukan," tulis Gibbs.

"Tetapi dibandingkan dengan apa yang telah terjadi sejak saat itu, lanskap informasi tampak hampir murni," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rekaman siaran langsung 9/11 memang tidak selalu akurat. Kondisi yang kacau membuat sejumlah media sempat menyampaikan informasi yang kemudian terbukti keliru.

Namun, kesalahan tersebut kemudian digunakan oleh penganut teori konspirasi sebagai klaim bahwa terdapat sesuatu yang sengaja disembunyikan dari publik.

Gangguan teknis, kualitas video yang rendah, serta potongan pernyataan pembawa berita juga kerap digunakan untuk mendukung berbagai klaim palsu mengenai serangan tersebut.

Berdampak serius

James M. Lindsay dari Council on Foreign Relations menilai teori konspirasi mengenai 9/11 memiliki dampak yang lebih serius daripada sekadar kesalahpahaman sejarah.

"Teori konspirasi yang beredar tentang serangan 9/11 sama sekali tidak tidak berbahaya," tulis Lindsay.

Menurut Lindsay, teori tersebut dapat mendelegitimasi pemerintahan demokratis, menuduh kelompok yang tidak bersalah, serta mengalihkan perhatian masyarakat dari penyebab dan pelaku sebenarnya.

Lindsay juga menerbitkan daftar 10 sumber yang dapat digunakan untuk membantah sejumlah kebohongan paling umum mengenai serangan 9/11.

Perbedaan terbesar dalam cara masyarakat melihat 9/11 terletak pada bagaimana gambar dan video tragedi tersebut disebarkan.

Pada 2001, sebagian besar media arus utama masih memiliki kendali besar terhadap gambar yang ditampilkan kepada publik. Jaringan televisi dengan sengaja menahan diri untuk tidak menampilkan foto dan video orang-orang yang jatuh dan melompat dari menara.

Salah satu foto paling terkenal adalah "Falling Man" karya fotografer Associated Press, Richard Drew. Foto tersebut memperlihatkan seseorang yang jatuh dari salah satu menara World Trade Center.

Foto itu hanya dimuat sekali oleh sebagian besar surat kabar dan kemudian tidak lagi ditampilkan, tulis Tom Junod dalam artikel untuk Esquire yang kembali banyak dibagikan setiap peringatan 9/11.

Junod menulis bahwa surat kabar yang memuat foto tersebut "terpaksa membela diri terhadap tuduhan bahwa mereka mengeksploitasi kematian seorang pria, merampas martabatnya, melanggar privasinya, mengubah tragedi menjadi pornografi yang cabul."

Perdebatan serupa juga terjadi di televisi mengenai kapan dan bagaimana gambar pesawat menabrak Menara Kembar serta adegan traumatis lainnya boleh ditayangkan.

Hingga kini, jaringan televisi seperti CNN masih mempertimbangkan secara ketat penggunaan gambar-gambar tersebut karena mempertimbangkan dampaknya terhadap penonton.

Namun, kondisi berbeda terjadi di media sosial.

Di YouTube dan platform lain yang muncul bertahun-tahun setelah serangan 9/11, tidak selalu ada editor yang menentukan konteks atau sensitivitas sebuah video. Rekaman tragedi dapat dipotong, diunggah ulang, diputar berulang kali, dan disebarkan kepada jutaan pengguna melalui algoritma.

Akibatnya, generasi yang tidak mengalami langsung tragedi tersebut dapat melihat gambar-gambar mengerikan tanpa memahami konteks sejarahnya.

(mge/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2