Sutradara NAZA Warga Israel, Kenapa Berani Beber Genosida di Gaza?

CNN Indonesia
Sabtu, 12 Sep 2026 11:50 WIB
Film NAZA yang disutradarai Rachel Szor dan Yuval Abraham, keduanya warga Israel, mendapatkan apresiasi tertinggi di Festival Film Venesia, Italia. (REUTERS/Yara Nardi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Film dokumenter NAZA yang disutradarai Rachel Szor dan Yuval Abraham, keduanya warga Israel, berhasil mendapatkan apresiasi tertinggi di ajang Festival Film Venesia, Italia.

Usai pemutaran, tepuk tangan terlama bergema hingga lebih dari 20 menit, Kamis (10/9) waktu setempat.

Film yang berkisah tentang petugas intelijen Israel yang enteng membunuh warga Gaza dengan menggunakan perangkat itu, diproduksi oleh The Guardian, media asal Inggris.

NAZA adalah akronim yang digunakan oleh dinas intelijen untuk menunjukkan berapa banyak warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam serangan udara di Gaza.

"Pasukan Pertahanan Israel lebih suka menargetkan anggota Hamas di rumah mereka pada malam hari, dan jika mereka tinggal bersama keluarga mereka, atau di lingkungan yang padat penduduk. Itu nasib buruk. Pada suatu titik, sebuah sumber mengklaim, persetujuan diberikan untuk membunuh 500 NAZA untuk satu anggota Hamas," begitu tulis The Guardian.

"Peran saya bersifat teknis," kata salah satu dari pasukan yang ditampilkan.

"Saya hanya roda gigi kecil," kata yang lain.

Film ini mengungkap sebuah sistem yang sangat efisien dan licik. Serangkaian pemutusan hubungan di dalamnya tampaknya dirancang untuk menjauhkan para pelaku dari kejahatan.

Banyak dari orang-orang ini bekerja jarak jauh dari Tel Aviv. Kecerdasan buatan (AI) memilih target dan sebuah drone menjatuhkan bom. Bahkan bahasanya pun terasa sengaja menggunakan eufemisme dan mengaburkan makna. NAZA diterjemahkan sebagai kerusakan tambahan (collateral damage), yang pada gilirannya diartikan sebagai manusia.

"Tentu, memang lebih mudah membunuh orang ketika Anda melakukannya di layar," kata Yuval Abraham.

"Saya rasa ada benarnya juga. Tetapi perlu juga dikatakan bahwa petugas intelijen lah yang paling tahu. Mereka mendengarkan percakapan telepon seluler. Mereka tahu rumah yang mereka bom penuh dengan anak-anak. Mereka bisa mendengar bayi menangis. Namun mereka tetap memerintahkan serangan lain."

Mengapa berani?

Mengapa Rachel Szor dan Yuval Abraham begitu berani mengungkap kekejaman pasukan Israel ke layar lebar? Dalam wawancara dengan The Guardian, mereka mengaku mendapatkan tekanan dari dalam negaranya.

Szor bercanda bahwa dia hanya memegang kamera dan karena itu tidak terlihat.

"Tidak ada yang tahu siapa saya, dan saya sangat senang tentang itu. Tetapi beberapa anggota keluarga saya, dan beberapa orang yang dekat dengan saya, tidak menerima apa yang saya lakukan. Setelah Oscar (tahun lalu) mereka sangat malu, sangat marah. Tapi ini adalah harga kecil yang harus dibayar," katanya.

Sebaliknya, Abraham lebih vokal. Setelah pemutaran perdana filmnya "No Other Land" di festival film Berlin 2024, rumah keluarganya menjadi sasaran massa sayap kanan.

"Bagi saya, itu adalah momen terburuk," katanya.

"Ibu saya berharap hal itu tidak terjadi lagi."

Meskipun begitu, ia menambahkan dengan cepat, mari kita tetap melihat segala sesuatunya dalam perspektif yang tepat.

"Kita mengambil risiko dalam sistem yang memberi kita hak istimewa, yang memiliki supremasi Yahudi-Israel sebagai ciri dasarnya," katanya.

Namun bagi warga Palestina, ceritanya jauh lebih mengerikan.

"Bagi begitu banyak warga Palestina, bukan massa sayap kanan yang datang ke rumah mereka: melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS. Bayangkan jika seorang jurnalis Palestina di Gaza mencoba melakukan apa yang kami lakukan dan menghubungi pejabat senior Israel. Tidak ada perbandingannya. Mereka kemungkinan besar akan dibunuh," ujarnya.

(imf/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK