Ini Raja Belanda saat Krakatau Meletus 1883, Monumennya Masih Ada

CNN Indonesia
Sabtu, 12 Sep 2026 17:45 WIB
Erupsi gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Letusan Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 di nusantara, menjadi salah satu bencana alam terdahsyat yang pernah terjadi di dunia.

"Letusan tersebut menghasilkan tsunami yang menimbulkan lebih dari 36.000 orang, terdengar hingga jarak 3.000 mil, dan menyebabkan perubahan terukur pada permukaan laut dan tekanan udara di seluruh dunia," tulis Monique R. Morgan dalam situs Branch Collective.

Ketika bencana terjadi, Indonesia berada di bawah pemerintah jajahan Belanda dengan Raja Willem III sebagai penguasa.

Dikutip dari Britannica, Willem III memimpin dari tahun 1849 hingga kematiannya pada tahun 1890, yang mencakup masa bencana letusan dahsyat Krakatau pada Agustus 1883. Dia dikenal raja yang konservatif.

Pada tahun 1867 ia mencoba menjual kedaulatannya kepada Prancis tetapi mengalah pada tuntutan Prusia agar wilayah tersebut merdeka. Pada saat yang sama, ia menggabungkan sebagian Limburg ke Belanda.

Setelah krisis Luksemburg, pengaruhnya di Parlemen menurun drastis. Setelah istri pertamanya meninggal pada tahun 1877, ia menikahi Emma dari Waldeck-Pyrmont (1879), yang menjabat sebagai wali raja pada tahun 1890 selama raja sakit. Wilhelmina, putrinya dari Emma, naik takhta Belanda setelah kematiannya

Berita letusan Krakatau yang menghancurkan banyak infrastruktur sampai juga ke telinganya. Dua tahun pascabencana (1885), Willem memerintahkan pembangunan kembali mercusuar di Anyer yang hancur.

Mercusuar itu kini masih berdiri kokoh, sering disebut Mercusuar Cikoneng, karena berada di Desa Cikoneng. Menara setinggi 75,5 meter bercat putih mencantumkan nama sang raja Belanda itu di pintu masuknya.

(imf/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK