Ilmuwan China Nemu Tambang Emas Bawah Laut Pasifik, Nilainya Fantastis

CNN Indonesia
Selasa, 15 Sep 2026 05:30 WIB
Ilustrasi bendera China. Foto: istockphoto/blackred
Jakarta, CNN Indonesia --

Ilmuwan China menemukan deposit mineral bawah laut yang sangat besar serta kaya akan emas dan perak di kawasan Pasifik barat. Endapan tersebut disebut bernilai tinggi.

Penemuan itu terjadi dalam ekspedisi ilmiah gabungan yang melibatkan sejumlah lembaga akademik China, demikian laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, Jumat (11/9).

"Area penambangan dasar laut yang luas ini memiliki nilai eksploitasi yang sangat tinggi," kata wakil dekan Institut Teknik Kelautan Universitas Tsinghua sekaligus salah satu ilmuwan utama proyek tersebut, Song Shiji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deposit tersebut berada di ladang hidrotermal bersuhu tinggi. Wilayah ini merupakan area di dasar laut tempat air panas yang kaya mineral keluar melalui lubang-lubang hidrotermal.

CCTV melaporkan kadar emas dan perak tersebut rata-rata jauh lebih tinggi dibandingkan kandungan logam pada sejumlah endapan mineral di daratan. Kadar emas mencapai 15,4 gram per ton bijih, sedangkan kadar perak mencapai 1,27 kilogram per ton bijih.

Logam mulia tersebut ditemukan di ladang hidrotermal bersuhu tinggi yang luas, terkonsentrasi dalam apa yang dikenal sebagai bijih "sulfida hidrotermal".

Tim peneliti menemukan deposit itu dalam bentuk tiga gundukan sulfida berbentuk kerucut dan berukuran besar. Bijih tersebut sebagian besar terdiri dari mineral bernilai ekonomi seperti kalkopirit, pirit, dan sfalerit.

Mineral tersebut terbentuk melalui proses hidrotermal. Air laut yang masuk ke dalam kerak bumi dipanaskan hingga suhu sangat tinggi dan menyerap berbagai unsur logam.

Air panas yang kaya mineral kemudian menyembur keluar dari dasar laut dan bertemu dengan air laut yang jauh lebih dingin. Perubahan suhu secara tiba-tiba membuat logam bereaksi dengan sulfur dan mengendap menjadi mineral sulfida.

Endapan itu umumnya mengandung tembaga, seng, dan timbal. Namun, proses tersebut juga dapat menghasilkan konsentrasi emas dan perak.

Ekspedisi tersebut melibatkan peneliti dari Institut Geologi Kelautan Qingdao dan Universitas Shanghai Jiao Tong.

Tim berangkat dari Shenzhen pada 10 Agustus menggunakan kapal penelitian Xiang Yang Hong 10. Kapal tersebut merupakan salah satu kapal penelitian oseanografi raksasa pertama yang dirancang dan dibangun di dalam negeri Tiongkok.

Ekspedisi berlangsung selama 18 hari dan mencakup tujuh kali penyelaman ke laut dalam. Para peneliti sebelumnya juga telah melakukan lebih dari selusin survei pendahuluan di wilayah tersebut.

Survei-survei sebelumnya menemukan puluhan lubang hidrotermal bersuhu tinggi pada kedalaman sekitar 700 hingga 1.500 meter. Suhu fluida yang keluar dari lubang tersebut bahkan mencapai lebih dari 315 derajat Celsius.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, tim kemudian mengidentifikasi area hidrotermal baru yang disebut "baru dan sangat besar" di dalam cekungan tersebut.

CCTV menyebut deposit itu berada di sebuah "cekungan busur belakang di Pasifik barat" yang masuk dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) China. Namun, pemerintah China tidak mengungkap koordinat pasti lokasi penemuan, seperti dilaporkan SCMP.

Platform pelacakan maritim Shipxy menunjukkan kapal Xiang Yang Hong 10 berlayar melalui perairan di utara dan timur Taiwan serta wilayah utara Filipina selama ekspedisi.

Kawasan ladang hidrotermal sendiri tersebar luas di Pasifik barat.

Wilayah tersebut membentang dari Kepulauan Kuril di utara Jepang hingga perairan timur laut Selandia Baru, menurut penelitian ilmiah yang diterbitkan di Jurnal Universitas Jilin oleh para ilmuwan kelautan di Qingdao, China timur, pada 2016.

Song mengatakan ladang hidrotermal itu menjadi habitat bagi komunitas biologis unik yang mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem di laut dalam.

Menurutnya, keberadaan organisme tersebut dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana mempertahankan diri di lingkungan ekstrem.

(mge/dna)