Kolonel AS Ditembak Jatuh Iran, Putus Asa Bertahan Hidup 50 Jam
CNN Indonesia
Senin, 14 Sep 2026 20:41 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi militer AS. Foto: Delil SOULEIMAN / AFP
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang kolonel Angkatan Udara Amerika Serikat(AS) yang ditembak jatuh di Iran mengungkapkan doa putus asa yang dipanjatkannya saat berjuang bertahan hidup selama sekitar 50 jam di wilayah musuh.
Kolonel yang hanya dikenal dengan kode panggilan "Bravo" itu selamat setelah pesawat tempurnya ditembak rudal Iran pada April lalu.
Ia mengalami patah tulang punggung, lengan, dan bahu setelah parasutnya rusak dan membuatnya jatuh dengan kecepatan sekitar 70 hingga 100 mil per jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara pertamanya kepada publik melalui program "60 Minutes" CBS News, Bravo menceritakan detik-detik ketika dirinya terjun bebas ke arah gurun setelah pesawat F-15E Strike Eagle yang ditumpanginya terkena rudal.
"Pada suatu saat ketika saya mendongak dan tidak melihat parasut, itu adalah hal paling menakutkan yang pernah saya lihat," kata Bravo.
"Jadi, saat itu juga aku berhenti sejenak dan berdoa, 'Tuhan, kehendak-Mu lah yang terjadi. Tetapi jika aku bisa melewati ini, aku butuh pertolongan,'" ujarnya.
Bravo merupakan petugas sistem persenjataan yang duduk di belakang pilot F-15E dengan kode panggilan "Alpha".
Pesawat mereka, yang dikenal sebagai Dude 44, menjalankan misi untuk menyerang fasilitas industri yang berkaitan dengan program pesawat nirawak dan rudal Iran di dekat wilayah pegunungan di selatan Isfahan pada 2 April lalu.
Pemimpin Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, mengatakan pesawat tersebut beroperasi di wilayah yang memiliki risiko tinggi.
"Kami memiliki keunggulan udara, tetapi jelas kami tidak terbang di atas Kansas," kata Cooper kepada CBS.
Bravo mengatakan serangan rudal itu terasa seperti pesawat mereka ditabrak kereta barang. Ia dan Alpha sempat berusaha menyelamatkan pesawat yang bernilai sekitar US$30 juta tersebut.
Namun, kerusakan pesawat membuat keduanya tidak memiliki pilihan selain melontarkan diri.
Alpha berhasil keluar dengan selamat. Namun, rudal yang menghantam pesawat juga merusak parasut Bravo. Kondisi itu membuat Bravo jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi.
Benturan keras tersebut membuat Bravo mengalami patah pada punggung, lengan, dan bahunya. Ia juga mendarat sekitar lima mil dari lokasi Alpha di tengah wilayah yang dikuasai musuh.
Meski terluka parah, Bravo tetap berusaha menjauh dari lokasi pendaratan. Saat fajar tiba, ia mulai mendaki menuju punggung bukit dengan ketinggian sekitar tujuh ribu kaki.
Dari lokasi tersebut, Bravo melihat lembah gurun dan tebing curam di sekelilingnya.
"Jangan pernah biarkan kurangnya motivasi membuat Anda tampil di televisi Iran," ujarnya.
Pasukan Iran kemudian memburu kedua penerbang tersebut. Menurut pejabat militer AS yang dikutip CBS, pasukan Iran sempat mendekati Bravo hingga beberapa ratus meter.
Media Iran juga menampilkan gambar pesawat tempur AS yang hancur. Video yang beredar dilaporkan menunjukkan kelompok bersenjata mencari penerbang yang jatuh di wilayah tersebut.
"Ada niat yang jelas dari pasukan darat Iran untuk datang dan menemukan kedua orang itu," kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan dirinya mendapat kabar tentang jatuhnya pesawat tersebut pada tengah malam.
"Entah mereka masih hidup atau sudah meninggal, kami akan pergi menjemput mereka," kata Hegseth mengenang perintah saat itu.
Pasukan AS berhasil menyelamatkan Alpha sekitar enam jam setelah pesawat jatuh. Operasi penyelamatan berlangsung pada siang hari dan helikopter AS mendapat serangan tembakan selama misi.
"Itu adalah baku tembak sepanjang jalan masuk dan keluar. Tapi mereka berhasil merebut kembali Alpha," kata Hegseth.
Namun, pasukan AS belum berhasil menemukan Bravo. Pada malam pertama setelah jatuh, Bravo akhirnya berhasil mengirim pesan kepada pasukan AS.
"Tuhan itu baik," tulisnya.
Bravo juga memberi tahu komandannya bahwa ia mengalami luka tetapi masih mampu bergerak. Para pejabat militer sempat mempertimbangkan operasi penyelamatan kedua pada malam itu.
Namun, kondisi di lapangan tidak memungkinkan. Hegseth mengatakan para pejabat akhirnya mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan Bravo di Iran hingga hari berikutnya.
Bravo kemudian bertahan menghadapi angin dan suhu dingin gurun dengan hampir tidak memiliki makanan dan air. Pada saat yang sama, pasukan AS terus melacak keberadaannya dan berusaha menghindari pasukan Iran yang memburunya.
Berlanjut ke sebelah...
CBS melaporkan CIA menjalankan operasi penipuan untuk membingungkan pasukan Iran. Badan tersebut juga menggunakan teknologi rahasia untuk menentukan lokasi Bravo.
Rekaman yang baru dideklasifikasi menunjukkan pesawat pembom dan drone AS menyerang pasukan di sekitar lokasi yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran selama operasi penyelamatan berlangsung.
Cooper mengatakan lebih dari 90 anggota militer AS memasuki Iran melalui jalur darat dalam operasi tersebut. Menurutnya, hal itu menjadi kali pertama pasukan AS menginjakkan kaki di Iran dalam 46 tahun.
Ratusan personel lainnya terlibat melalui jalur udara, sementara ribuan personel lain memberikan dukungan terhadap operasi tersebut.
Dua pesawat besar untuk misi pencarian dan penyelamatan kemudian mendarat di landasan darurat di gurun. Setelah itu, helikopter kecil yang dikenal sebagai "Little Bird" terbang menuju posisi Bravo di punggung bukit.
Bravo mengatakan dirinya melihat para penyelamat sebagai salah satu momen terbesar dalam hidupnya. "Ayo pergi," kata Bravo kepada pasukan yang datang menjemputnya.
Namun, operasi tersebut kembali menghadapi masalah. Roda pendaratan dua pesawat penyelamat terjebak di pasir gurun. Kondisi itu membuat Bravo dan lebih dari 90 anggota pasukan elite AS ikut terjebak.
Angkatan Udara AS kemudian mengerahkan unit rahasia untuk mengevakuasi seluruh kelompok tersebut.
Militer AS juga menghancurkan dua pesawat yang terjebak di gurun. Kedua pesawat itu masing-masing bernilai sekitar US$100 juta. Militer juga menghancurkan helikopter "Little Bird" untuk mencegah teknologi sensitif AS jatuh ke tangan Iran.
Bravo akhirnya berhasil keluar dari Iran sekitar 50 jam setelah Dude 44 ditembak jatuh. Operasi penyelamatan tersebut selesai ketika matahari terbit pada Minggu Paskah.
Bravo menyebut keberhasilannya bertahan hidup sebagai "mukjizat zaman modern". Ia mengatakan keyakinannya membuat dirinya percaya bahwa Tuhan membantunya melewati masa sulit tersebut.
"Saya percaya bahwa ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan dalam hidup saya yang membawa saya melewati momen itu dengan cara yang tidak mencegah cedera, tetapi mencegah cedera parah yang akan memengaruhi kemampuan saya untuk bertahan hidup," kata Bravo.
Menurut Bravo, kisah tersebut bukan hanya tentang seorang pilot yang jatuh di wilayah musuh. Ia menilai keberhasilannya kembali ke AS merupakan hasil kerja sama, latihan, keyakinan, keputusan, dan kepemimpinan.
"Ini adalah kisah tentang kerja tim, pelatihan, keyakinan, keputusan, dan kepemimpinan untuk melakukan sesuatu yang akan tercatat dalam sejarah sebagai contoh dari apa yang Amerika bersedia lakukan, untuk menjunjung tinggi janji kita dan tidak meninggalkan seorang pun di belakang," lanjutnya.
Pilot Alpha juga menyampaikan penghargaan kepada tim pencarian dan penyelamatan tempur serta seluruh pasukan AS yang terlibat dalam operasi tersebut.
"Kata-kata tidak dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya dan keluarga saya, dan betapa bangganya saya dapat melayani bersama setiap orang dari mereka," kata Alpha.
Alpha kini kembali menerbangkan pesawat. Namun, ia menolak tampil di depan publik karena alasan keamanan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang kolonel Angkatan Udara Amerika Serikat(AS) yang ditembak jatuh di Iran mengungkapkan doa putus asa yang dipanjatkannya saat berjuang bertahan hidup selama sekitar 50 jam di wilayah musuh.
Kolonel yang hanya dikenal dengan kode panggilan "Bravo" itu selamat setelah pesawat tempurnya ditembak rudal Iran pada April lalu.
Ia mengalami patah tulang punggung, lengan, dan bahu setelah parasutnya rusak dan membuatnya jatuh dengan kecepatan sekitar 70 hingga 100 mil per jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara pertamanya kepada publik melalui program "60 Minutes" CBS News, Bravo menceritakan detik-detik ketika dirinya terjun bebas ke arah gurun setelah pesawat F-15E Strike Eagle yang ditumpanginya terkena rudal.
"Pada suatu saat ketika saya mendongak dan tidak melihat parasut, itu adalah hal paling menakutkan yang pernah saya lihat," kata Bravo.
"Jadi, saat itu juga aku berhenti sejenak dan berdoa, 'Tuhan, kehendak-Mu lah yang terjadi. Tetapi jika aku bisa melewati ini, aku butuh pertolongan,'" ujarnya.
Bravo merupakan petugas sistem persenjataan yang duduk di belakang pilot F-15E dengan kode panggilan "Alpha".
Pesawat mereka, yang dikenal sebagai Dude 44, menjalankan misi untuk menyerang fasilitas industri yang berkaitan dengan program pesawat nirawak dan rudal Iran di dekat wilayah pegunungan di selatan Isfahan pada 2 April lalu.
Pemimpin Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, mengatakan pesawat tersebut beroperasi di wilayah yang memiliki risiko tinggi.
"Kami memiliki keunggulan udara, tetapi jelas kami tidak terbang di atas Kansas," kata Cooper kepada CBS.
Bravo mengatakan serangan rudal itu terasa seperti pesawat mereka ditabrak kereta barang. Ia dan Alpha sempat berusaha menyelamatkan pesawat yang bernilai sekitar US$30 juta tersebut.
Namun, kerusakan pesawat membuat keduanya tidak memiliki pilihan selain melontarkan diri.
Alpha berhasil keluar dengan selamat. Namun, rudal yang menghantam pesawat juga merusak parasut Bravo. Kondisi itu membuat Bravo jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi.
Benturan keras tersebut membuat Bravo mengalami patah pada punggung, lengan, dan bahunya. Ia juga mendarat sekitar lima mil dari lokasi Alpha di tengah wilayah yang dikuasai musuh.
Meski terluka parah, Bravo tetap berusaha menjauh dari lokasi pendaratan. Saat fajar tiba, ia mulai mendaki menuju punggung bukit dengan ketinggian sekitar tujuh ribu kaki.
Dari lokasi tersebut, Bravo melihat lembah gurun dan tebing curam di sekelilingnya.
"Jangan pernah biarkan kurangnya motivasi membuat Anda tampil di televisi Iran," ujarnya.
Pasukan Iran kemudian memburu kedua penerbang tersebut. Menurut pejabat militer AS yang dikutip CBS, pasukan Iran sempat mendekati Bravo hingga beberapa ratus meter.
Media Iran juga menampilkan gambar pesawat tempur AS yang hancur. Video yang beredar dilaporkan menunjukkan kelompok bersenjata mencari penerbang yang jatuh di wilayah tersebut.
"Ada niat yang jelas dari pasukan darat Iran untuk datang dan menemukan kedua orang itu," kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan dirinya mendapat kabar tentang jatuhnya pesawat tersebut pada tengah malam.
"Entah mereka masih hidup atau sudah meninggal, kami akan pergi menjemput mereka," kata Hegseth mengenang perintah saat itu.
Pasukan AS berhasil menyelamatkan Alpha sekitar enam jam setelah pesawat jatuh. Operasi penyelamatan berlangsung pada siang hari dan helikopter AS mendapat serangan tembakan selama misi.
"Itu adalah baku tembak sepanjang jalan masuk dan keluar. Tapi mereka berhasil merebut kembali Alpha," kata Hegseth.
Namun, pasukan AS belum berhasil menemukan Bravo. Pada malam pertama setelah jatuh, Bravo akhirnya berhasil mengirim pesan kepada pasukan AS.
"Tuhan itu baik," tulisnya.
Bravo juga memberi tahu komandannya bahwa ia mengalami luka tetapi masih mampu bergerak. Para pejabat militer sempat mempertimbangkan operasi penyelamatan kedua pada malam itu.
Namun, kondisi di lapangan tidak memungkinkan. Hegseth mengatakan para pejabat akhirnya mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan Bravo di Iran hingga hari berikutnya.
Bravo kemudian bertahan menghadapi angin dan suhu dingin gurun dengan hampir tidak memiliki makanan dan air. Pada saat yang sama, pasukan AS terus melacak keberadaannya dan berusaha menghindari pasukan Iran yang memburunya.
Berlanjut ke sebelah...
CIA Pakai Operasi Penipuan untuk Mengecoh Pasukan Iran
Badan Intelijen AS CIA. Foto: AFP Photo/Saul Loeb
CBS melaporkan CIA menjalankan operasi penipuan untuk membingungkan pasukan Iran. Badan tersebut juga menggunakan teknologi rahasia untuk menentukan lokasi Bravo.
Rekaman yang baru dideklasifikasi menunjukkan pesawat pembom dan drone AS menyerang pasukan di sekitar lokasi yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran selama operasi penyelamatan berlangsung.
Cooper mengatakan lebih dari 90 anggota militer AS memasuki Iran melalui jalur darat dalam operasi tersebut. Menurutnya, hal itu menjadi kali pertama pasukan AS menginjakkan kaki di Iran dalam 46 tahun.
Ratusan personel lainnya terlibat melalui jalur udara, sementara ribuan personel lain memberikan dukungan terhadap operasi tersebut.
Dua pesawat besar untuk misi pencarian dan penyelamatan kemudian mendarat di landasan darurat di gurun. Setelah itu, helikopter kecil yang dikenal sebagai "Little Bird" terbang menuju posisi Bravo di punggung bukit.
Bravo mengatakan dirinya melihat para penyelamat sebagai salah satu momen terbesar dalam hidupnya. "Ayo pergi," kata Bravo kepada pasukan yang datang menjemputnya.
Namun, operasi tersebut kembali menghadapi masalah. Roda pendaratan dua pesawat penyelamat terjebak di pasir gurun. Kondisi itu membuat Bravo dan lebih dari 90 anggota pasukan elite AS ikut terjebak.
Angkatan Udara AS kemudian mengerahkan unit rahasia untuk mengevakuasi seluruh kelompok tersebut.
Militer AS juga menghancurkan dua pesawat yang terjebak di gurun. Kedua pesawat itu masing-masing bernilai sekitar US$100 juta. Militer juga menghancurkan helikopter "Little Bird" untuk mencegah teknologi sensitif AS jatuh ke tangan Iran.
Bravo akhirnya berhasil keluar dari Iran sekitar 50 jam setelah Dude 44 ditembak jatuh. Operasi penyelamatan tersebut selesai ketika matahari terbit pada Minggu Paskah.
Bravo menyebut keberhasilannya bertahan hidup sebagai "mukjizat zaman modern". Ia mengatakan keyakinannya membuat dirinya percaya bahwa Tuhan membantunya melewati masa sulit tersebut.
"Saya percaya bahwa ini adalah bukti pemeliharaan Tuhan dalam hidup saya yang membawa saya melewati momen itu dengan cara yang tidak mencegah cedera, tetapi mencegah cedera parah yang akan memengaruhi kemampuan saya untuk bertahan hidup," kata Bravo.
Menurut Bravo, kisah tersebut bukan hanya tentang seorang pilot yang jatuh di wilayah musuh. Ia menilai keberhasilannya kembali ke AS merupakan hasil kerja sama, latihan, keyakinan, keputusan, dan kepemimpinan.
"Ini adalah kisah tentang kerja tim, pelatihan, keyakinan, keputusan, dan kepemimpinan untuk melakukan sesuatu yang akan tercatat dalam sejarah sebagai contoh dari apa yang Amerika bersedia lakukan, untuk menjunjung tinggi janji kita dan tidak meninggalkan seorang pun di belakang," lanjutnya.
Pilot Alpha juga menyampaikan penghargaan kepada tim pencarian dan penyelamatan tempur serta seluruh pasukan AS yang terlibat dalam operasi tersebut.
"Kata-kata tidak dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya dan keluarga saya, dan betapa bangganya saya dapat melayani bersama setiap orang dari mereka," kata Alpha.
Alpha kini kembali menerbangkan pesawat. Namun, ia menolak tampil di depan publik karena alasan keamanan.