PM Spanyol Bantah Diancam Maroko terkait Krisis Ceuta

CNN Indonesia
Selasa, 15 Sep 2026 12:15 WIB
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menepis tuduhan bahwa ia diancam Maroko terkait gelombang migrasi di wilayah Ceuta, Afrika Utara, Juli lalu. (Foto: AFP/THOMAS COEX)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menepis tuduhan bahwa ia diancam Maroko terkait gelombang migrasi di wilayah Ceuta, Afrika Utara, Juli lalu.

Dalam pernyataan pada Senin (14/9) malam, Sanchez menegaskan tuduhan bahwa Maroko mengancamnya karena memegang informasi penting adalah tidak benar.

"Hubungan antar negara, dan khususnya dengan negara tetangga, harus didasarkan pada rasa hormat dan fakta, bukan pada spekulasi liar atau penghinaan," kata Sanchez, seperti dikutip AFP.

"Laporan palsu yang beredar tentang telepon seluler atau hal-hal lain, yah mungkin bagus untuk serial Netflix, tetapi kenyataan harus dibangun di atas fakta dan bukan berita palsu," ucapnya.

Pernyataan Sanchez disampaikan usai Partai Rakyat sayap kanan dan pemimpinnya, Alberto Nuñez Feijoo, menggembar-gemborkan bahwa Sanchez enggan berkonfrontasi dengan Maroko terkait gelombang migrasi di Ceuta pada Juli lalu karena mungkin diancam oleh Rabat dengan informasi yang diperoleh melalui peretasan salah satu ponselnya.

Pada 30-31 Juli, lebih dari 70 ribu migran dari Maroko masuk dan membanjiri wilayah Ceuta milik Spanyol hingga negara-negara Eropa panik.

Saat itu, muncul dugaan bahwa gelombang migrasi itu didalangi oleh pemerintah Maroko. Namun, Sanchez membantah dan menyatakan tak ada bukti bahwa Rabat merencanakan hal tersebut.

Dalam pernyataan pada Senin, Sanchez kembali mengulangi komentarnya bahwa tidak ada bukti kuat Maroko dalang di balik mirgrasi besar-besaran di Ceuta.

"Saya tidak pernah mengatakan bahwa kami tidak akan menanggapi Maroko dengan tegas jika terbukti bahwa Maroko ... berada di balik insiden pada 30 dan 31 Juli," ucapnya.

"Tetapi hingga hari ini ... tidak ada informasi yang secara pasti membuktikan tanggung jawab Maroko atas gelombang yang kami hadapi tersebut," lanjutnya.

Sebagian besar migran yang memasuki Ceuta pada akhir Juli kembali lagi ke Maroko dalam beberapa jam setelah otoritas Maroko dan Spanyol menindak tegas.

Namun, beberapa ribu orang tetap tinggal di Ceuta dan mengusik warga setempat. Warga setempat berulang kali berunjuk rasa menuntut deportasi para migran.

(blq/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK